Dukungan Militer Turki untuk Qatar
-
Pertemuan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dengan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani di Doha.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, berjanji akan melanjutkan bantuan militer Ankara ke Doha dalam sebuah pertemuan dengan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani.
Erdogan juga mengabarkan penandatanganan beberapa perjanjian bilateral Turki dan Qatar di sektor keuangan, pariwisata, dan riset. Ia menekankan kelanjutan dukungan Turki terhadap kepemimpinan Qatar di berbagai bidang, terutama industri dan militer.
Ini adalah kunjungan kedua Erdogan ke Doha menyusul ketegangan antara negara-negara anggota Dewan Kerjasama Teluk Persia dengan Qatar pada Juni 2017.
Sejak 5 Juni 2017, Raja Arab Saudi bersama dengan pemimpin Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Mesir, pemerintah timur Libya, Maladewa, dan pemerintah terguling Yaman, menuding Qatar mendukung terorisme dan ekstremisme serta melakukan intervensi di negara-negara lain. Mereka memutuskan hubungan politik dan diplomatiknya dengan Doha dan menerapkan sanksi ekonomi terhadap negara itu.
Selain itu, Arab Saudi, UEA, dan Bahrain menutup semua perbatasan darat, laut, dan udaranya dengan Qatar.
Langkah tersebut diambil pada Juni lalu pasca kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Riyadh. Untuk alasan ini, para pengamat menilai peran AS dalam ketegangan ini sangat serius. Jelas bahwa ketegangan ini dipersiapkan untuk mengejar tujuan jangka panjang dan tidak mungkin berakhir dalam jangka pendek.

Meski ketegangan mereda antara negara-negara Arab Teluk Persia dan Mesir dengan Qatar, namun pemerintah Turki tampaknya akan mempertahankan kebijakan penjualan senjata dan peningkatan kerjasama ekonomi serta perluasan kehadiran perusahaan-perusahaan Turki di negara itu. Sebenarnya, kebijakan Turki sama untuk semua negara-negara Arab di kawasan.
Turki telah memfokuskan perhatian pada kebijakan penjualan senjata ke negara-negara Arab dan pembangunan pangkalan militernya di wilayah mereka.
Presiden Erdogan berulang kali mencoba menerapkan kebijakan Turki dalam berhubungan dengan Qatar di negara-negara Arab lainnya. Misalnya, Erdogan baru-baru ini mengatakan, "Keberadaan pangkalan militer Turki di Doha, bukan untuk mendukung Qatar, tapi untuk mendukung semua negara Arab di Teluk Persia. Untuk alasan ini, kami telah menawarkan kepada Riyadh untuk mendirikan pangkalan serupa di Arab Saudi."
Hubungan Riyadh dengan Ankara memasuki fase baru ketegangan setelah Erdogan mengusulkan pembangunan pangkalan militer Turki di Arab Saudi, dalam sebuah pertemuan dengan Raja Salman bin Abdulaziz dan penolakannya terhadap usulan itu.
Tidak ada keraguan bahwa semakin dekatnya hubungan Turki dengan Qatar, maka akan semakin membuatnya dijauhi oleh negara-negara Arab lainnya terutama Saudi. Manuver para pejabat Turki menunjukkan bahwa mereka hanya mengejar pendapatan yang lebih besar dari bekerja sama dengan negara-negara Arab di kawasan, termasuk Qatar. (RM)