Konferensi Sochi dan Capaiannya untuk Suriah
Pasca berakhirnya kasus kelompok teroris Takfiri Daesh di Suriah, digelar konferensi trilateral penting para Presiden Iran, Rusia dan Turki di kota Sochi, di mana konferensi tersebut memperjelas kerangka diplomatik solusi krisis Suriah.
KTT Sochi itu digelar pada saat yang sama dengan perkumpulan kelompok oposisi Suriah di luar negeri yang berlangsung di Riyadh. Ketika KTT Sochi diupayakan merumuskan langkah-langkah untuk penyelesaian krisis Suriah melalui jalur diplomatik, perkumpulan oposisi di Riyadh justru bertentangan dengan deklarasi bersama para pemimpin Iran, Rusia dan Turki di Sochi.
Presiden Iran Hassan Rouhani, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyib Erdogan, pada Rabu malam (22/11/20107), di akhir konferensi Sochi, menekankan kembali kedaulatan, independensi, persatuan dan integritas Suriah. Ketiga negara juga berkomitmen melanjutkan kerjasama hingga penumpasan kelompok-kelompok teroris.
Presiden Iran, Rusia dan Turki juga sepakat membantu Suriah untuk memulihkan persatuan negara, mencapai sebuah solusi politik untuk krisis ini melalui mekanisme intra-Suriah yang komprehensif, bebas, adil, dan transparan, yang berujung pada penyusunan undang-undang dasar, dengan dukungan rakyat dan pelaksanaan pemilu yang adil dan bebas melibatkan seluruh pemilik suara dan di bawah pengawasan proporsional Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Deklarasi Sochi pada hakikatnya adalah agenda kerja polisik untuk penyelesaian krisis Suriah, pada periode pasca Daesh di negara ini. Deklarasi tersebut menunjukkan bahwa Iran, Rusia dan Turki telah menempuh jalur diplomatik yang benar dengan memperhatikan tekad dan tuntutan rakyat Suriah.
Penghormatan terhadap tuntutan rakyat untuk masa depan politik Suriah, telah diperhatikan dalam kesepakatan antara Rouhani, Putin dan Erdogan. Dan dalam hal ini, menurut rencana 28 November 2017 digelar Kongres Nasional Suriah-Suriah di kota Sochi, Rusia. Kongres ini meliputi para oposisi dan pro pemerintah Suriah yang akan merundingkan masa depan negara mereka tanpa intervensi pihak asing.
Rouhani menegaskan, tujuan pelaksanaan Kongres Nasional Suriah-Suriah adalah menyiapkan penyusunan undang-undang dasar baru di Suriah yang akan membuka pintu untuk pemilu bebas dan adil di negara ini dan pada akhirnya akan memberikan pesan perdamaian dan stabilitas bagi seluruh kawasan.
Kongres Nasional Suriah-Suriah merupakan sebuah langkah logis dalam bingkai diplomatik dan demokratis untuk penyelesaian krisis Suriah yang diprakarsai Iran, Rusia dan Turki, sepenuhnya bertolak belakang dengan deklarasi sidang kelompok oposisi yang berbasis di luar negeri dan didukung Arab Saudi, di Riyadh. Dalam deklarasi di Riyadh, tuntutan rakyat Suriah dan prinsip demokrasi tidak diperhatikan dan hanya menekankan proses politik "tanpa Assad".
Russia Today, pada hari yang sama dalam sebuah analisa menulis, "Di saat Iran, Rusia dan Turki, sedang mengupayakan solusi diplomatik untuk krisis Suriah, Amerika Serikat dan sekutunya lebih cenderung ke peperangan; tuntutan Washington dan sekutunya untuk menyingkirkan Assad dari kekuasaan telah lama kadaluarsa."
Dengan kriprah dan kerjasama strategis Iran, Rusia dan Turki, diplomasi serta pada saat yang bersamaan penghormatan terhadap tuntutan rakyat Suriah, menjadi pedoman solusi politik krisis tujuah tahun Suriah.(MZ)