Larangan Ekspor Senjata ke Arab Saudi yang Terlambat
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i47545-larangan_ekspor_senjata_ke_arab_saudi_yang_terlambat
Parlemen Eropa pada hari Kamis (30/11/2017) menyetujui rencana yang diusulkan oleh sejumlah negara anggotanya untuk melarang ekspor senjata ke Arab Saudi, akibat pelanggaran hak asasi anusia di Yaan.
(last modified 2026-07-29T04:05:44+00:00 )
Des 01, 2017 15:17 Asia/Jakarta

Parlemen Eropa pada hari Kamis (30/11/2017) menyetujui rencana yang diusulkan oleh sejumlah negara anggotanya untuk melarang ekspor senjata ke Arab Saudi, akibat pelanggaran hak asasi anusia di Yaan.

539 anggota parlemen menyetujui larangan penjualan senjata ke Arab Saudi dan 13 perwakilan lainnya menolak dan 81 anggota menyatakan abstain. Berdasarkan rancangan tersebut, Ketua Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Federica Mogherini, dituntut agar negara-negara Eropa menjalankan sebuah strategi nyata terkait Yaman.

Disebutkan pula dalam rancangan tersebut, agar bantuan kemanusiaan untuk rakyat Yaman segera dikirim dan penentuan sebuah solusi politik untuk mengakhiri bentrokan di negara itu.

Sebelumnya, banyak lembaga internasional yang menuntut penghentian penjualan senjata Eropa dan Amerika Serikat ke Arab Saudi. Tampaknya eskalasi tekanan di dalam negeri Eropa dan juga dari masyarakat global dalam hal ini pada akhirnya memaksa Uni Eropa agar menghentikan ekspor senjata ke Arab Saudi dari sejumlah negara produsen senjata seperti Inggris, Perancis dan Jerman.

Fraksi Hijau di Parlemen Uni Eropa beberapa waktu lalu mendesak dihentikanya segera ekspor senjata ke Arab Saudi menyusul semakin memburuknya kondisi kemanusiaan di Yaman. Fraksi tersebut menyatakan, ketentuan dan prasyarat yang mengijinkan penjualan senjata ke Arab Saudi secara nyata tidak diperhatikan dan dijaga oleh Riyadh, mengingat terjadinya tragedi kemanusiaan di Yaman. Fraksi Hijau menuntut Mogherini untuk mengimplementasikan inisiatif Eropa dalam mencegah penjualan senjata ke Arab Saudi.

Namun pertayaan dalam hal ini adalah mengapa negara-negara besar Uni Eropa tidak menghentikan penjualan senjata ke Arab Saudi dan bahkan meningkatkan volumenya, meski sejak dimulainya agresi Riyadh, telah terjadi berbagai pelanggaran anti-kemanusiaan di Yaman?

Sergey Syberibov, analis politik Rusia, menilai Amerika Serikat dan Inggris mengeruk keuntungan fantastis dari perang di Yaman. Sebagai contoh dapat disebutkan bahwa data statistik menunjukkan, ekspor senjata Jerman ke Arab Saudi telah meningkat empat kali lipat sejak agresi Saudi ke Yaman dimulai.

Stephen Leibish, anggota partai sayap kiri Jerman menilai penjualan senjata pemerintah Jerman ke Arab Saudi itu sangat memalukan. Dikatakannya, "Arab Saudi harus memberikan jawaban tewasnya ribuan orang akibat agresinya."

Pada hakikatnya pemerintah-pemerintah Eropa menutup mata di hadapan berbagai kejahatan Arab Saudi dan tragedi kemanusiaan di Yaman, serta mendukung rezim-rezim reaksioner dan despotik di Timur Tengah, demi menjaga aktivitas perusahaan senjata tetap berjalan, mengeruk profit besar dan juga menciptakan lapangan kerja bagi ribuan warganya.

Kebungkaman di hadapan agresi brutal Arab Saudi selama 33 bulan ke Yaman menunjukkan standar ganda hak asasi manusia di mata Eropa. Meski telah dirilis berbagai laporan oleh lembaga-lembaga HAM internasional soal pembantaian massal warga Yaman serta bombardir bebragai tempat dan insfrastruktur sipil negara itu oleh jet-jet tempur Arab Saudi dan sekutunya, namun Uni Eropa tetap mempertahankan hubungan harmonis dengan rezim Al Saud.(MZ)