Politik Sarat Beban Arab Saudi di Mata Feltman
Jeffrey Feltman, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam sebuah pidato di Dewan Politik Luar Negeri Amerika Serikat, menilai kebijakan luar negeri Arab Saudi tidak menguntungkan.
Secara keseluruhan, indeks terpenting dalam politik tidak menguntungkan adalah jenis kebijakan yang sangat menelan biaya besar baik itu secara finansial, keamanan maupun politis.
Politik luar negeri Arab Saudi adalah jenis politik yang sangat membebankan. Politik luar negeri untuk Arab Saudi menimbulkan beban biaya dan dampak sangat besar. Arab Saudi yang merupakan negara Arab terkaya, sekarang harus berhadapan dengan defisit bujet akibat politik intervensif dan konfrontatifnya di luar negeri. Sedemikian rupa sehingga dalam tiga tahun terakhir telah mengalami defisit bujet sekitar 200 miliar dolar.
Lembaga Bernstein di Amerika Serikat dalam laporan terbarunya menyebutkan, defisit bujet Arab Saudi menimbulkan berkurangnya cadangan cair negara itu sehingga dana cadangan sekitar 750 miliar dolar telah berkurang menjadi 543 miliar dolar.
Politik luar negeri Arab Saudi juga menimbulkan beban keamanan sangat besar. Perang yang digelar terhadap Yaman, membuat militer dan pasukan relawan rakyat Yaman meningkatkan kemampuan tempur mereka dan menunjukkan perlawanan sengit dengan menarget wilayah di dalam Arab Saudi.
Dukungan Arab Saudi terhadap kelompok-kelompok teroris di Suriah ternyata tidak membuat Riyadh aman dari ancaman terorisme. Pada saat yang sama, kejahatan Arab Saudi di Yaman juga menuai kecaman dan tekanan dari masyarakat dunia. Bahkan nama koalisi yang dikomandoi Arab Saudi dalam perang Yaman masuk dalam list pelanggar hak anak di PBB.
Adapun beban di sektor politik, harus ditebus sangat mahal oleh Arab Saudi dibanding beban dan kerugian di sektor lain. Politik luar negeri tidak menguntungkan Arab Saudi yang dimaksud Feltman adalah di sektor diplomatik. Intervensi dan konfrontasi serta secara keseluruhan politik luar negeri agresif Arab Saudi telah melemahkan posisi regional negara ini dalam persaingan regional.
Oleh karena itu, pejabat PBB ini mengatakan, salah satu faktor pembentukan koalisi negara-negara Arab yang dipimpin Arab Saudi adalah dalam rangka menghadapi perluasan pengaruh Iran, akan tetapi sekarang pengaruh Iran justru lebih besar dibanding sebelum perang di Yaman dimulai.
Masalah ini juga dapat dilihat dari sikap Arab Saudi dalam hubungan dengan Qatar. Krisis diplomatik Arab Saudi dengan Qatar telah memasuki bulan ketujuh dan selama itu, hubungan Doha-Tehran semakin menguat. Di sisi lain, rival lain Arab Saudi di kawasan yaitu Turki, juga meningkatkan pengaruhnya di Qatar. Poin-poin tersebut diakui oleh Feltman.
Menekan Saad Hariri untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Perdana Menteri Lebanon juga merupakan kekeliruan strategis terbaru Arab Saudi. Karena setelah kembali ke Lebanon, Hariri menarik kembali pengunduran dirinya dan disi lain, terwujud persatuan di dalam Lebanon untuk melawan segala bentuk intervensi Arab Saudi.
Namun alih-alih membenahi kepincangan politik luar negerinya, Arab Saudi mengandalkan aksi-aksi simbolik dan drama dengan memanfaatkan lembaga-lembaga Arab.(MZ)