Fitnah Baru di Yaman dan Dampaknya
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i47689-fitnah_baru_di_yaman_dan_dampaknya
Ali Abdullah Saleh, mantan presiden Yaman, sebagaimana yang telah diprediksikan sebelumnya, kembali mendekati Arab Saudi, dan menginstruksikan para pendukungnya untuk menguasai seluruh pusat milik Houthi di semua kota.
(last modified 2026-07-29T04:05:44+00:00 )
Des 04, 2017 15:38 Asia/Jakarta

Ali Abdullah Saleh, mantan presiden Yaman, sebagaimana yang telah diprediksikan sebelumnya, kembali mendekati Arab Saudi, dan menginstruksikan para pendukungnya untuk menguasai seluruh pusat milik Houthi di semua kota.

Pasukan yang berafiliasi dengan Ali Abdullah Saleh, pada 2 Desember di Sanaa, ibukota Yaman bentrok dengan pasukan Ansarullah yang menewaskan dan melukai puluhan orang. Ansarullah menyebut bentrokan itu sebagai pengkhianatan Abdullah Saleh.

Kondisi Yaman

Faktor Fitnah Abdullah Saleh

Sebab lahiriah fitnah baru Abdullah Saleh adalah serangan ke Masjid Jami Ali Abdullah Saleh, dimana tanpa bukti kongkret, mantan presiden Yaman itu langsung mengacungkan tudingan terhadap Ansarullah.

Adapun faktor sejati fitnah baru ini adalah tujuan-tujuan politik Abdullah Saleh.

Ali Abdullah Saleh yang sebelum tersingkir pada tahun 2011, berkuasa selama 33 tahun di Yaman, tidak pernah berhenti berupaya merebut kembali kekuasaannya. Menyusul kegagalan dalam perang Yaman, dan mengingat haus kekuasaan Saleh, dan Arab Saudi dan sekutunya telah melakukan banyak upaya untuk mempertahankan Saleh di puncak kekuasaan, namun gagal.

Langkah baru militer dan pasukan relawan rakyat Yaman dalam serangan rudal ke instalasi nuklir Barakah di Abu Dhabi, menjadi pukulan bagi Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Oleh sebab itu, Arab Saudi dan khususnya Uni Emirat Arab yang sebelumnya (pada September lalu) menyampaikan pesan kepada Abdullah Saleh, bahwa jika dia berperang dengan Ansarulllah, maka kedua negara Arab itu akan menyetujui berkuasanya anggota keluarganya di Yaman.

Adapun kesiapan Ali Abdullah Saleh untuk berunding dengan Arab Saudi juga dilakukan dalam rangka itu.

Sambutan Arab Saudi, Uni Emirat Arab

Bentrokan antara pasukan afiliasi Saleh dan Ansarullah, langsung disambut oleh Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan pemerintah Yaman yang telah mengundurkan diri. Koalisi Arab yang dipimpin Saudi menyambut bentrokan tersebut dan mengharapkan "kebangkitan luas rakyat" melawan kelompok Houthi. Pada saat yang sama, Anwar Qarqash, Menteri Penasehat Uni Emirat Arab, dalam reaksi pertamanya menyebut perkembangan itu sebagai "intifada Sanaa".

Rajih Badi, juru bicara pemerintah terguling Yaman menyebut kudeta Abdullah Saleh sebagai intifada rakyat melawan kelompok Houthi.

Reaksi-reaksi tersebut memaparkan dengan jelas bahwa Arab Saudi yang gagal dalam mewujudkan fitnah baru terhadap Lebanon dan Hizbullah, dengan bantuan Uni Emirat Arab dan pemerintah terguling Yaman berusaha menyulut fitnah baru di Yaman untuk melawan Houthi Ansarullah.

Oleh sebab itu, Ansarullah dalam pernyataannya secara tegas menyebut Ali Abdullah Saleh sedang menjalankan makar yang dirancang oleh Saudi dan Uni Emirat Arab.

Dampak

Dapat dikatakan bahwa dampak terpenting dari fitnah baru Abdullah Saleh adalah memberikan legitimasi terhadap agresi brutal Arab Saudi dan sekutunya serta blokade total selama kurang lebih tiga tahun terhadap Yaman.

Hingga kini lebih dari 30 ribu warga Yaman tewas dan terluka serta 80 persen infrastuktur negara itu hancur. Bahkan PBB telah berulangkali menyebut krisis di Yaman adalah krisis terburuk di dunia dalam beberapa dekade terakhir.

Dampak lainnya adalah pelemahan posisi Abdullah Saleh dalam struktur Kongres Rakyat Yaman. Apa yang terjadi dalam dua hari terakhir di Yaman adalah pembelotan Saleh dari koridor yang ditetapkan Partai Kongres Rakyat dan sepenuhnya bertujuan mendudukkan anggota keluarganya dari puncak kekuasaan Yaman.(MZ)