Hubungan Mesra Arab Saudi dan Israel
Arab Saudi dan rezim Zionis Israel memiliki sejarah panjang kerjasama rahasia di bidang politik, ekonomi dan militer, dan Al Saud telah memainkan peran penting dalam mendukung eksistensi Israel dan memajukan misi imperialisme rezim tersebut di Timur Tengah.
Dalam hal ini, surat kabar Al Sharq Qatar, menerbitkan dokumen kerjasama rahasia Kementerian Luar Negeri Saudi dengan Israel, yang menunjukkan bahwa pada dekade 1966, Riyadh meminta rezim Zionis untuk menduduki wilayah Sinai di Mesir.
Riyadh selain berusaha memperkuat pilar-pilar rezim Israel, juga telah mengusulkan sebuah serangan militer ke Suriah dan memecah wilayahnya. Saudi juga meminta Israel untuk menguasai Jalur Gaza dan Tepi Barat, sehingga setiap perlawanan rakyat Palestina atau upaya apapun dari negara Arab tertentu untuk membebaskan Palestina dapat dipatahkan.
Arab Saudi dan Israel bersatu dalam perang psikologis dan serangan militer terhadap negara-negara Arab dan wilayah Timur Tengah. Ini adalah perang panjang yang dikobarkan oleh Amerika Serikat atas usulan Saudi dan Israel. Konspirasi ini dapat dinilai dalam konteks kemitraan tak tertulis antara AS, Arab Saudi dan Israel.
Level kerjasama ini sangat luas meskipun Riyadh dan Tel Aviv secara resmi tidak memiliki hubungan diplomatik. Namun, kemitraan Saudi dan Israel dalam mengejar kebijakan anti-perlawanan di kawasan dan dukungan mereka kepada para teroris, telah menyingkap watak bersama mereka lebih dari sebelumnya.
Dalam iklim seperti ini, Saudi dan rezim Zionis – yang telah lama menjalin kemitraan rahasia – sekarang berusaha untuk memperlihatkan hubungan mereka ke publik.
Beberapa kalangan politik percaya bahwa langkah untuk membangun hubungan antara Riyadh dan Tel Aviv tidak lain adalah untuk memuluskan keputusan kontroversial Presiden AS Donald Trump untuk menciptakan apa yang disebut "perdamaian akhir" di Timur Tengah dan melawan gerakan perlawanan di kawasan.

Kerjasama para penguasa Arab, termasuk pejabat Saudi dengan Israel dan pemerintah Barat, termasuk di bidang militer, tidak membawa hasil apapun kecuali perang panjang dan kejahatan luas pada tingkat regional dan internasional. Krisis saat ini di Suriah, Irak dan Yaman – yang memiliki akar Saudi-Zionis – dapat dianalisa dalam konteks kejahatan tersebut.
Secara umum, Arab Saudi dengan membiarkan Israel leluasa memajukan misi imperialismenya di Palestina, secara praktis telah mengarahkan perkembangan regional sejalan dengan skenario kekuatan imperialis Amerika dan Israel.
Arab Saudi selalu menjadi pendukung agresi Israel di wilayah Timur Tengah. Dalam hal ini, Amos Yadlin, Presiden Institut Studi Keamanan Domestik Israel, baru-baru ini mengakui bahwa Arab Saudi memberikan informasi strategis kepada militer rezim Zionis selama serangan 33 hari ke Lebanon pada tahun 2006.
Saudi memandang jalan untuk mencapai ambisi jahatnya di Timur Tengah berada dalam kemitraan dengan rezim Zionis. Transformasi di kawasan semakin membuka mata publik akan sebuh fakta bahwa Al Saud adalah aktor intelektual perang-perang Israel di kawasan. (RM)