Ansarullah: Gerakan Saudi di Yaman, Penghambat Perundingan Damai
Juru bicara Gerakan Rakyat Yaman, Ansarullah mengatakan, gerakan pasukan bayaran Arab Saudi di wilayah Midi, utara Yaman kemungkinan akan melanggar perundingan dengan Riyadh.
Mohammad Abdussalam mengungkapkan hal itu ketika menyinggung gerakan pasukan bayaran Arab Saudi dan pendukung Abd-Rabbuh Mansur Hadi, Presiden Yaman yang telah mengundurkan diri, di utara negara ini.
"Jika tidak ada keinginan perdamaian, maka nasib negosiasi Kuwait akan seperti perundingan di Jenewa," imbuhnya seperti dilansir situs al-Heyad, Rabu (30/3/2016).
Ia membantah adanya agenda jelas Ansarullah tentang perundingan mendatang Yaman termasuk lima hal yang diumumkan oleh Ismail Ould Cheikh Ahmed, Utusan Khusus PBB untuk Yaman.
"Hingga sekarang belum ada rencana jelas untuk gencatan senjata. Belum ada kesepakatan apapun terkait hal ini," ujarnya.
Abdussalam menjelaskan, solusi krisis Yaman bukan kembali ke setiap pihak ke pemerintahan, namun kesepakatan dan menghidupkan kembali dialog dalam konteks partisipasi nyata, di mana proses ini terhenti akibat agresi militer Arab Saudi.
Jubir Ansarullah menekankan kembali pentingnya pembentukan Pemerintah Persatuan Nasional untuk mengatur tahap transisi dengan jelas.
"Pengambil keputusan yang sebenarnya dalam perundingan perdamaian bukan oarng-orang bayaran Arab Saudi, tapi rakyat Yaman," pungkasnya.
Sebelumnya, Utusan Khusus PBB untuk Yaman mengumumkan bahwa gencatan senjata di Yaman akan dimulai pada tanggal 10 April, sementara perundingan damai akan dimulai pada tanggal 18 April. (RA)