Klaim Baru Menlu Saudi terhadap Iran
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i53838-klaim_baru_menlu_saudi_terhadap_iran
Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel Al-Jubeir dalam pidato yang disampaikan di Brookings Institution hari Kamis (21/3) menyebut Iran sebagai masalah besar di kawasan, dan menuding Tehran mendukung terorisme.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Mar 24, 2018 12:38 Asia/Jakarta
  • Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel Al-Jubeir
    Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel Al-Jubeir

Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel Al-Jubeir dalam pidato yang disampaikan di Brookings Institution hari Kamis (21/3) menyebut Iran sebagai masalah besar di kawasan, dan menuding Tehran mendukung terorisme.

Klaim klise ini kembali dilemparkan Al-Jubeir di saat negaranya justru telah melakukan begitu banyak kesalahan yang menggiring kawasan ke arah instabilitas, dan perang yang terus berkecamuk hingga kini.

Kebijakan luar negeri rezim Al Saud dalam masalah regional dengan jelas menunjukan dukungan terhadap terorisme, seperti membidani kelahiran kelompok teroris Al-Qaeda pada dekade sembilan puluhan yang dikerahkan untuk menyulut krisis di Irak pada tahun 2003, dan melahirkan kelompok teroris lain yang beroperasi di Suriah.

Kini, Riyadh meningkatkan aksi destruktifnya di kawasan dengan dukungan AS yang berada dalam kendali Trump. Sepak terjang Arab Saudi tersebut menyebabkan kawasan kian bergolak. Belum selesai  perang di Suriah yang melibatkan Arab Saudi sebagai salah satu aktornya, Riyadh menyerang Yaman sejak 2015 lalu, yang masih berlanjut hingga kini. Puluhan ribu orang warga sipil Yaman, termasuk anak-anak dan perempuan tewas dan cedera.

Tidak hanya itu, infrastruktur negara tetangga Saudi ini porak-poranda akibat agresi militer yang dilancarkan koalisi Arab pimpinan rezim Al Saud. Ironisnya, pejabat tinggi Arab Saudi, terutama Al-Jubeir menuding Iran sebagai pihak yang mengacaukan Yaman. Padahal sangat jelas fakta yang menunjukkan kehancuran Yaman akibat agresi militer Arab Saudi. Seperti biasa klaim Riyadh terhadap Tehran tidak didukung data yang bisa dipertanggungjawabkan.

Sebelumnya, rezim Al Saud menuding Iran menjalin koordinasi dengan pelaku serangan 11 September 2001. Padahal faktanya menunjukkan sebanyak 15 orang dari 19 pelaku penyerangan peristiwa 11 September 2001 adalah warga negara Arab Saudi. Tudingan terhadap Iran dilancarkan Riyadh untuk menutupi kejahatan yang dilakukan Arab Saudi.

Kini, Adel Al-Jubeir dalam lawatannya ke AS melemparkan tudingan infaktual terhadap Iran dengan memanfaatkan "kegilaan" Trump, termasuk keputusan terbarunya memilih John Bolton selaku penasihat keamanan nasional AS.

Menlu Saudi menilai keputusan Trump memilih Bolton dianggap tepat karena akan lebih mendukung kepentingan Riyadh. Al-Jubeir menyebut Bolton sebagai pekerja keras, dan tahu sikap yang harus diambil secara rasional terhadap Iran.

Sikap menlu Saudi terhadap Bolton, berbeda dengan pandangan media AS sendiri yang selama ini cukup kritis terhadap kebijakan pemerintahannya.

John Bolton

 

Koran The Huffington Post menilai keputusan Trump memilih John Bolton selaku penasihat keamanan nasional AS sebagai tindakan buruk.

Statemen para pejabat tinggi Arab Saudi mengindikasikan ketidakmatangan mereka dalam berpolitik, sekaligus dependensi kebijakan luar negeri rezim Al Saud. Statemen Al-Jubeir dengan jelas menunjukkan dikte Washington terhadap Riyadh. Semakin sering klaim klise disampaikan pejabat Riyadh terhadap Tehran, kian jelas pandangan politik Arab Saudi yang mendukung ekstremisme dan terorisme di kawasan. Bahkan, Noam Chomsky menyebut AS sebagai pusat ekstremisme di dunia.

Teoritikus AS ini menuturkan, "Arab Saudi tidak hanya mendukung teroris saja, tapi juga para menyokong sekolah agama dan gurunya yang menyebarkan pemikiran ekstremisme ke seluruh penjuru dunia di bawah pengaruh Arab Saudi,".

Sejatinya, api yang dikobarkan Riyadh pada saatnya nanti akan menyambar Arab Saudi sendiri. Selama Riyadh masih mengikuti dikte AS, Inggris dan Israel, maka Timur Tengah tidak akan damai dan terus bergolak.(PH)