Motif Kunjungan Emir Qatar ke Rusia
-
Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani
Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani berkunjung ke Rusia dan bertemu dengan Pesiden Vladimir Putin serta membicarakan berbagai isu yang diminati kedua pihak.
Kunjungan Emir Qatar dari sejumlah sisi patut untuk dicermati. Pertama, kunjungan ini digelar bersamaan dengan lawatan Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman ke Amerika Serikat. Sejatinya kedekatan hubungan Saudi dengan Amerika mendorong Qatar semakin merapat ke Rusia.
Kondisi ini terjadi bersamaan dengan berlanjutnya tensi ketegangan antara Qatar dan empat negara Arab (Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab dan Mesir). Kedekatan hubungan Riyadh dan Washington juga berbarengan dengan pencopotan Rex Tillerson dari posisi Menteri Luar Negeri Amerika yang membawa pesan khusus bagi Qatar bahwa Gedung Putih saat ini membuktikan dirinya berada di samping Arab Saudi.
Dengan demikian, Doyha memilih memperkuat hubungannya dengan Moskow. Dalam hal ini, Emir Qatar saat bertemu dengan Putin mengatakan, “Kami mengandalkan persahabatan kami dengan Rusia.” Di sisi lain, Moskow selama ini memainkan peran signifikan di isu-isu dunia Arab. Dengan kata lain, Qatar bukan saja berhasil melewati represi akibat kebijakan konfrontatif Saudi cs, tapi juga berencana mempertahankan dan bahkan meningkatkan posisinya di kebijakan kawasan Timur Tengah.
Dimensi kedua dari urgensitas kunjungan Emir Qatar ke Moskow terkait dengan terbentuknya pembagian blok di kawasan. Selama dua tahun terakhir, seiring dengan semakin dekatnya Turki dengan Rusia dan Republik Islam Iran, maka terbentuklah kekuatan trilateral di kawasan (Moskow, Ankara dan Tehran).
Tensi ketegangan internal Arab dari satu sisi, mendorong Qatar semakin jauh dari kutub Arab, Israel dan Barat. Namun dari sisi lain, kedekatan hubungan Turki dan Qatar yang bertumpu pada poros Ikhwanul Muslimin serta dukungan Ankara dan Tehran kepada Doha di tensi Arab mendorong Qatar kian merapat ke Rusia, Turki dan Iran.
Dengan demikian terbentuklah front politik baru dengan melibatkan tiga kekuatan ini di tambah Qatar, sehingga Timur Tengah menyaksikan bertambahnya blok politik dan front AS serta Barat semakin jauh diakses.
Salah satu dampak dari kondisi ini, krisis seperti Suriah dan Yaman tidak berkembang sesuai dengan keinginan poros Barat, Arab dan Ibrani. Dalam hal ini Arab Saudi meski mendapat dukungan dari AS dan Inggris, tetap tidak dapat mengabaikan empat kekuatan baru (Rusia, Turki, Iran dan Qatar).
Dimensi penting lain dari kunjungan Emir Qatar ke Rusia adalah potensi kontak senjata antara kedua pihak. Terkait hal ini, dubes Qatar di Moskow pada Januari 2018 mengatakan bahwa Doha berencana membeli sistem S-400 dari Moskow. Hal ini sama halnya Moskow dari satu sisi selain mengejar tujuan politik juga ini sukses di bidang ekonomi dalam bentuk penjualan senjata dan memperluas hubungan dengan Qatar. Sementara dari sisi lain, Qatar berupaya memperkuat kemampuan militernya dengan membeli senjata dari Rusia dalam menghadapi Arab Saudi.
Poin terakhir adalah penguatan hubungan Rusia dengan negara-negara Arab seperti Qatar dan upaya Moskow memperkuat kebijakan Timur Tengah mengindikasikan bahwa sejumlah negara kawasan termasuk Doha sampai pada keyakinan bahwa Washington tidak bisa dipercaya dalam menjamin keamanan mereka. Oleh karena itu penguatan hubungan dengan Rusia menjadi prioritas mereka.(MF)