Pangeran Saudi Minta AS Tetap di Suriah Hadang Pengaruh Iran
-
Mohammed bin Salman
Salah seorang oposisi pemerintah Arab Saudi, Fouad Ibrahim menyebut karakteristik utama yang selalu muncul dalam sikap Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman adalah pernyataan kontradiktif tentang berbagai masalah termasuk Iran dan Suriah.
Kepada IRNA (2/4/2018) Fouad Ibrahim menyinggung upaya Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman untuk mempertahankan kehadiran militer Amerika Serikat di Suriah dengan maksud untuk menghadapi apa yang disebut Riyadh sebagai pengaruh Iran.
Fouad Ibrahim mengatakan, setelah terungkap bahwa Donald Trump meminta Saudi untuk memberikan dana sekitar empat milyar dolar, yang sepertinya tidak dikabulkan Saudi dan Uni Emirat Arab, presiden Amerika itu langsung mengabarkan keputusannya untuk menarik pasukan Amerika dari Suriah dalam waktu dekat.
Oposan pemerintah Saudi ini juga mengungkap pengakuan Mohammed bin Salman terkait berlanjutnya pemerintahan Bashar Assad di Suriah.
"Pengakuan Mohammed bin Salman ini membuktikan adanya koordinasi sikap Putra Mahkota Saudi, pemerintah Amerika dan Eropa yang tidak ingin menciptakan perubahan asasi di Suriah," ujarnya.
Menurut Fouad Ibrahim, alasan kedekatan Mohammed bin Salman dengan Amerika adalah urusan uang dan tertipunya Saudi sehingga harus membayar milyaran dolar kepada Amerika.
Ia menambahkan, tujuan Mohammed bin Salman menandatangani kontrak-kontrak raksasa dengan sejumlah perusahaan Amerika, pasca perombakan besar-besaran yang terjadi di Saudi dan terbukanya jalan ke puncak kekuasaan di negara itu, adalah membangun kepercayaan bagi Amerika. (HS)