Roket Ketiga Hantam Aramco, Tahun Sulit bagi Agresi Saudi
-
Rudal Yaman
Militer dan komite relawan rakyat Yaman kembali menyerang tangki penyimpanan minyak perusahaan Aramco Saudi di kota Jizan yang terletak di barat daya Arab Saudi dengan rudal balistik Badr-1.
Agresi Arab Saudi terhadap Yaman saat ini telah memasuki tahun keempat. Empat hari sebelumnya, 22 Maret, militer Yaman menembakkan rudal balistik Badr-1 ke perusahaan Aramco Saudi. Sejak 22 Maret hingga kini, militer dan komite relawan rakyat Yaman telah menggunakan rudal balistik Badr-1 sebanyak tiga kali menggempur perusahaan minyak Aramco Saudi. Peristiwa ini menjadi perubahan penting baru memasuki tahun keempat perang Yaman.
Lalu mengapa serangan rudal ke Aramco Saudi merupakan perubahan penting?
Pertama, serangan ini menunjukkan dengan berlalunya waktu superioritas Arab Saudi dan sekutunya dalam perang Yaman mengalami kecenderungan menurun. Dengan memasuki tahun keempat perang Yaman, tingkat kerugian Arab Saudi dan sekutunya juga semakin meningkat.
Padahal, rencananya Arab Saudi akan menyelesaikan perang ini dengan cepat dengan kemenangannya. Salah satu tujuan terpentingnya adalah mengembalikan Abdrabbuh Mansur Hadi ke tampuk kekuasaan. Tapi dengan dimulainya tahun keempat dari perang ini, bukan saja harapan untuk mengembalikan Mansur Hadi telah berada tingkat terendah, bahkan ada tanda-tanda Arab Saudi sendiri tidak mampu mengakhiri perang dan bahkan untuk keluar dari Yaman.
Kedua, serangan rudal yang dilakukan menunjukkan militer dan komite relawan rakyat Yaman mengetahui letak kerentanan Arab Saudi dan berusaha menarget titik-titik kritis dan strategis negara ini dengan rudal. Sebelumnya, pangkalan-pangkalan militer, air port dan istana al-Yamamah yang menjadi target serangan rudal militer dan komite relawan rakyat Yaman. Tapi kini perusahaan minyak Aramco Saudi, perusahaan minyak terbesar dunia yang menjadi target tiga kali serangan rudal.
Televisi CNN dalam laporannya tentang perusahaan minyak Aramco Saudi menyebutkan, dari setiap 8 barel minyak yang diproduksi di dunia, satu barelnya milik Aramco. Dengan kata lain, perusahaan minyak Aramco memiliki sekitar 12 persen produksi minyak dunia, dimana jumlah itu lebih dari produsen lainnya. Perusahaan ini setiap harinya memproduksi 10,3 juta barel, di mana jumlah ini lebih dari dua kali lipat produksi pesaing terdekatnya perusahaan RusOil, Rusia.
Masalah penting lainnya, serangan rudal terhadap perusahaan Aramco menunjukkan cara yang berbeda dengan Arab Saudi. Pasalnya, militer dan komite relawan rakyat Yaman tidak menyerang rakyat Arab Saudi dengan rudal-rudalnya, tapi menarget infrastruktur. Serangan terhadap Aramco Saudi adalah pilihan cerdas. Sebab, Aramco membentuk pondasi ekonomi Arab Saudi dan merusak instalasi perusahaan ini menyebabkan kerusakan material luas bagi Arab Saudi.
Terakhir, tiga serangan rudal di Aramco hanya dalam dua pekan menunjukkan bahwa tahun keempat perang antara Arab Saudi dan sekutunya melawan Yaman bisa menjadi tahun-tahun perang yang paling sulit bagi mereka.(SL/PH)