Pembebasan Ghouta Timur dan Kemarahan Barat
-
Pasukan Suriah
Militer dan pasukan relawan Suriah berhasil membebaskan wilayah strategis Ghouta Timur di Rif Dimasq. Keberhasilan ini diraih setelah beberapa pekan bertempur melawan kelompok-kelompok teroris dukungan Barat dan di tengah-tengah ancaman dan serangan politik dan media dari para pendukung teroris di tingkat regional dan internasional.
Pasukan Suriah saat ini berhasil menguasai semua wilayah Ghouta Timur, dan membebaskan wilayah itu dari pendudukan kelompok-kelompok teroris. Douma merupakan kota terbesar di Ghouta Timur dan menjadi kota terakhir di kawasan ini yang diduduki oleh kelompok teroris takfiri Jaish al-Islam.
Pasca pembebasan kota Douma dan keluarnya teroris dari kota ini, penduduk Douma mengibarkan kembali bendera Suriah. Kekalahan kelompok-kelompok teroris dan pembersihan Ghouta Timur dari keberadaan mereka sangat menyakitkan bagi para pendukungnya, sehingga mereka menyusun kembali konspirasi jahat terhadap Suriah.
Penduduk Ghouta Timur yang sebelumnya dijadikan perisai manusia oleh para teroris, sangat berbahagia atas pembebasan wilayah tersebut. Pasca kemenangan militer Suriah, mereka turun ke jalan-jalan dan menyuarakan dukungan kepada Presiden Bashar al-Assad dan pasukan Suriah. Berbagai media termasuk televisi Rusia juga meliput kebahagiaan penduduk Douma.
Transformasi terbaru Suriah terjadi menyusul keberhasilan besar militer negara ini untuk membersihkan Ghouta Timur dari keberadaan teroris. Sepanjang krisis Suriah yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini, kita menyaksikan bahwa setiap militer Suriah mencapai kemenangan besar dalam perjuangan menumpas teroris, negara-negara Barat terutama Amerika Serikat menuduh pemerintah Damaskus menggunakan senjata kimia. Tudingan ini tentunya bertujuan untuk mencegah kelanjutan kemajuan militer Suriah dalam menumpas habis kelompok-kelompok teroris dukungan Barat.
Dalam logika militer, pasukan yang telah menang tidak memerlukan lagi untuk menggunakan senjata kimia. Senjata kimia digunakan ketika dalam posisi kalah dan ingin mencegah kemajuan musuh. Selama ini, tuduhan penggunaan senjata kimia terhadap militer Suriah dilontarkan ketika pasukan negara ini mencapai kemajuan dan kemenangan di medan tempur. Hal ini menunjukkan bahwa tuduhan tersebut palsu dan hanya skenario untuk mencapai tujuan-tujuan lain. Selain itu, semua senjata kimia yang pernah dimiliki Suriah telah diserahkan kepada otoritas internasional beberapa tahun lalu. Hal itu juga telah diakui oleh para inspektur PBB.

Tuduhan penggunaan senjata kimia diarahkan ke pemerintah Suriah disebabkan para pendukung kelompok-kelompok teroris di negara ini seperti AS, Arab Saudi dan Perancis mencapai kesimpulan bahwa kelompok-kelompok teroris alih-alih mampu menumbangkan pemerintah Damaskus, bahkan mereka tidak mampu untuk melindungi berbagai wilayah yang telah didudukinya. Oleh karena itu, negara-negara itu ingin terjun langsung ke medan tempur dan mendaratkan pukulan beratnya terhadap Suriah dengan serangan udara dan rudal.
Mereka mengejar dua tujuan dalam langkah tersebut. Pertama, ingin mengubah arena perang, yaitu menjadikan perang terhadap takfiri yang terjadi hingga hari ini menjadi perang dengan negara-negara di tingkat regional dan global. Kedua, mereka ingin memberikan tekanan berat terhadap Suriah dan Rusia agar kelompok-kelompok yang telah kalah itu dilibatkan dalam solusi politik.
Pakar masalah Suriah, Abdul Masih al-Shami dalam wawancara dengan RT Arabic mengatakan, tujuan Barat menekan pemerintah Damaskus adalah untuk menghentikan kemenangan-kemenangan militer Suriah. Dia menyinggung tudingan Barat terhadap Suriah tentang penggunaan senjata kimia. Al-Shami menuturkan, ketika kita melihat ancaman AS, Inggris dan Perancis untuk menyerang sebuah negara yang berdaulat, maka kita akan melihat adanya berita palsu yang dibuat.
Di sisi lain, seorang pakar masalah Asia Barat mengatakan, AS sedang mencari dalih untuk menghapus kebahagiaan atas kemenangan rakyat dan militer Suriah, dan dalih tersebut didapat dengan membuat skenario serangan kimia di Douma.
AS menderita goncangan psikologis, politik dan militer terkait dengan Ghouta Timur. Pasalnya, para pejabat Pentagon tidak mengira bahwa wilayah yang sejak tujuh tahun lalu sebagai "sebuah cadangan strategis" teroris dan Barat dalam krisis Suriah harus terlepas hanya dalam waktu singkat oleh operasi militer Suriah. Padahal di wilayah tersebut ada sekitar 14.000-15.000 pasukan elit kelompok-kelompok teroris yang dikomandoi Jaish al-Islam dan dipersenjatai lengkap. Mereka juga langsung dilatih oleh para pakar militer AS, rezim Zionis Israel dan Perancis serta memperoleh bayaran tinggi dari Arab Saudi.
Urgensi Ghouta Timur semakin signifikan ketika dimulai operasi pembebasan wilayah strategis ini oleh militer Suriah. Bersamaan dimulainya operasi pasukan Suriahdi Ghouta Timur, digelar pertemuan-pertemuan darurat di Dewan Keamanan PBB. Hal ini ni menandakan betapa pentingnya Ghouta Timur bagi Barat dan sekutunya. Oleh karena itu, ketika wilayah tersebut berhasil dibebaskan oleh pasukan Suriah, AS menjadi kebingungan dan mengancam akan mengagresi Suriah, bahkan negara itu siap untuk terjung ke jurang Perang Dunia III. (RA/PH)