Alasan Saudi-UEA Menutupi Kekalahannya di Hudaydah
-
Arab Saudi
Ketika serangan koalisi militer pimpinan Arab Saudi ke kota al-Hudaydah Yaman, terhenti untuk sementara, namun serangan ke berbagai wilayah lain, dan dalam kasus terbaru serangan di acara pernikahan warga Yaman, terus berlanjut. Sementara itu perundingan terkait krisis Yaman juga masih membentur dinding.
Transformasi Yaman masih menyaksikan perang dan jalan buntu dalam perundingan. Tidak ada harapan untuk menghentikan perang dan memulihkan kondisi kemanusiaan yang sedang memburuk.
Koalisi agresor Arab pada beberapa hari lalu kembali membombardir sebuah acara pernikahan di kota Ghafirah di provinsi Saada. Delapan warga sipil tewas dan enam lainnya terluka dalam insiden tersebut. Ini merupakan serangan ketiga koalisi pimpinan Arab Saudi ke acara pernikahan warga Yaman. Sebelumnya, jet tempur Arab Saudi pada 17 Desember 2017 menyerang sebuah acara pernikahan di provinsi Maarib di Yaman tengah dan pada 23 April 2018 juga menyerang sebuah acara pernikahan di wilayah Bani Qeis di provinsi Hajjah, Yaman Barat yang merenggut nyawa puluhan warga sipil.
Serangan itu terjadi di saat koalisi militer pimpinan Arab Saudi ke al-Hudaydah gagal mencapai tujuannya. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dengan klaim memberikan kesempatan perundingan politik, mengumumkan penghentian perang di kota pelabuhan tersebut untuk sementara ini.
Koran New York Times dalam hal ini menulis, "Para pejabat Uni Emirat Arab menjelaskan dua tujuan dalam operasi di al-Hudaydah. Pertama adalah kontrol pelabuhan kota itu dan kedua, kontrol bandara al-Hudaydah. Mereka berpendapat bahwa kemenangan dalam hal ini sedemikian berpengaruh sehingga akan memaksa kelompok Houthi berdamai."
Namun selama tiga pekan brtempur dan serangan bertubi-tubi, Saudi dan UEA gagal mencapai tujuan mereka di al-Hudaydah, serta mengemukakan klaim "perundingan politik" untuk menutupi kegagalan mereka di hadapan opini publik. Dan pada prosesnya, warga sipil Yaman tetap menjadi korban utama perang brutal koalisi Arab Saudi.
Martin Griffith, utusan PBB untuk urusan Yaman, yang telah tiga kali dalam satu bulan terakhir berkunjung ke Sanaa, ibukota Yaman. Ketidaknegralan pejabat PBB ini dan juga kegagalan upayanya dalam menyelesaikan krisis Yaman, membuat Ansarullah tidak antusias menerima Griffith.
Ansarullah Yaman beranggapan bahwa Utusan PBB tidak memiliki kemampuan untuk meyakinkan pemerintah Yaman yang telah mengundurkan diri dan Arab Saudi guna mencapai sebuah mekanisme politik mengakhiri krisis Yaman. Pejabat PBB itu justru dinilai lebih banyak berusaha memaksa Ansarullah untuk menyerah.
Meski demikian, tingkat kerja sama Ansarullah dengan utusan PBB lebih tinggi dibanding dengan pemerintah Yaman sebelumnya. Oleh karena itu, di saat Ansarullah menyepakati usulan pengawasan PBB dalam mengelola pelabuhan al-Hudaydah, pihak pemerintahan yang Yaman yang telah mengundurkan diri yang menerima instruksi langsung dari Riyadh, menuntut penarikan mundur Ansarullah dari al-Hudaydah.
Poin lain dari transformasi di Yaman adalah pengokohan kemampuan pertahanan dan militer Ansarulullah dan dengan dukungan rakyat, Ansarullah akan melanjutkan perlawanan terhadap koalisi pimpinan Saudi. Sebab itu, Riyadh masih harus menyaksikan penembakan rudal-rudal balistik ke wilayahnya oleh satuan rudal militer dan pasukan komite perlawanan rakyat Yaman.(MZ)