Tuntutan Penghentian Pembunuhan Anak-anak Yaman
-
Serangan udara Arab Saudi ke Yaman.
Perdana Menteri Swedia Stefan Lofven menuntut diakhirinya kejahatan rezim Arab Saudi di Yaman. Hal itu disampaikan Loften setelah berakhirnya sidang Dewan Keamanan PBB (DK-PBB) yang membahas mengenai perlindungan anak-anak dalam konflik bersenjata.
DK-PBB pada hari Senin, 9 Juli 2018 mengadopsi resolusi yang ditujukan untuk melindungi anak-anak dalam konflik bersenjata melalui sejumlah langkah. Resolusi Nomor 2427 yang disetujui oleh 15 anggota DK-PBB mengecam perekrutan dan penggunaan anak-anak oleh pihak-pihak yang terlibat konflik bersenjata serta rekrutmen ulang mereka.
Resolusi tersebut juga mengecam pembunuhan, pencideraan, pemerkosaan dan bentuk-bentuk lain dari kekerasan seksual, dan penculikan terhadap anak-anak. Selain itu, Resolusi 2427 mengutuk serangan terhadap sekolah-sekolah dan rumah sakit, dan mengecam penolakan akses kemanusiaan oleh pihak-pihak yang terlibat konflik bersenjata. Resolusi ini mengecam semua pelanggaran hukum internasional lainnya yang dilakukan terhadap anak-anak dalam situasi konflik bersenjata.
Resolusi baru DK-PBB menuntut agar semua pihak terkait untuk segera mengakhiri praktik-praktik tersebut dan mengambil langkah-langkah khusus untuk melindungi anak-anak. Resolusi 2427 menekankan tanggung jawab semua negara untuk mengakhiri impunitas dan untuk menyelidiki dan menuntut mereka yang bertanggung jawab atas genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, kejahatan perang dan kejahatan berat lainnya, yang dilakukan terhadap anak-anak.
Resolusi tersebut juga menegaskan kembali kesiapan DK-PBB untuk mengadopsi langkah-langkah yang ditargetkan dan menindak para pelaku pelanggaran yang dilakukan terhadap anak-anak. Usai diadopsinya Resolusi 2427, PM Swedia meminta pelaksanaan resolusi tersebut. Lofven mengatakan, kami telah menyetujui resolusi hari ini dan sekarang kami harus menerapkannya.
PM Swedia menambahkan, saya tidak bisa memikirkan cara yang lebih baik untuk mengatasi akar penyebab konflik kecuali memberi anak-anak masa kanak-kanak yang penuh kasih dan aman, dan melindungi mereka dari "cambuk" perang. Dia menjelaskan, masa kanak-kanak bukan hanya awal dari kehidupan manusia, namun itu juga dasar dari kehidupan tersebut. Ini adalah basis dari mana manusia mencapai potensi penuh, basis untuk masyarakat yang damai dan makmur. Sederhananya, lanjut Lofven, memastikan perawatan, keamanan dan perlindungan terhadap anak-anak hari ini akan mencegah konflik besok.
Menurutnya, sekitar 350 juta anak hidup dalam konflik bersenjata hari ini. Dia mengatakan, mereka berisiko terbunuh atau cacat, mereka berisiko menjadi korban kekerasan seksual, mereka berisiko tidak memiliki sekolah. Perang mengajarkan mereka tentang kehilangan, ketakutan, kebencian, balas dendam.
Laporan sekretaris Jenderal PBB tentang anak-anak yang dirilis pekan lalu menyebutkan, lebih dari 21.000 kasus pelanggaran berat hak anak-anak dalam konflik bersenjata telah diverifikasi oleh PBB untuk tahun 2017. Ini adalah peningkatan drastis dari tahun sebelumnya yang mencapai 15.500 pelanggaran. Di antara pelanggaran pada tahun 2017, sekitar 15.000 dilakukan oleh kelompok bersenjata non-negara dan sekitar 6.000 dilakukan oleh pasukan pemerintah.
Anak-anak Yaman adalah korban terbesar kejahatan perang yang dilakukan oleh Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan sekutunya dalam agresi militer ke negara itu sejak Maret 2015. Dana Anak-anak PBB (UNICEF) mengumumkan bahwa 11 juta anak Yaman memerlukan bantuan kemanusiaan disebabkan kondisi serius akibat perang yang dikobarkan Arab Saudi dan sekutunya.
Meskipun koalisi militer pimpinan Arab Saudi melanjutkan invasinya ke Yaman dan bahkan meningkatkan serangannya ke negara ini, namun mereka belum mencapai tujuan-tujuan yang ditargetkan sebelumnya. Peningkatan serangan, pembunuhan terhadap anak-anak Yaman dan pencegahan rakyat negara ini kepada bantuan kemanusiaan seperti obat-obatan dan bahan makanan merupakan upaya koalisi untuk menekan dan memaksa mereka menyerah kepada ekspansionisme.
Yang menarik adalah dukungan negara-negara Barat dan rezim Zionis Israel kepada Arab Saudi dan sekutunya dalam agresi militer ke Yaman dan pendekatan ganda negara-negara itu. Banyak negara Eropa yang merespon kejahatan Arab Saudi dan sekutunya terhadap anak-anak Yaman, bahkan mengecamnya, namun pada saat yang sama negara-negara itu menjadi pendukung kebijakan haus perang Arab Saudi dan penyuplai terbesar senjata kepada koalisi anti-Yaman.
Direktur Kantor Organisasi Human Human Rights Watch (HRW) di Perancis Benedicte Jeannerod mengatakan, Arab Saudi adalah pemimpin koalisi yang hingga sekarang telah membunuh ribuan warga sipil di Yaman. Banyak dari tindakan ini harus dianggap sebagai kejahatan perang. Jika Eropa melanjutkan penjualan senjata kepada Arab Saudi maka mereka berubah menjadi mitra negara Arab itu dalam kejahatan perang dan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional.
Penjualan senjata dan peralawan militer oleh Amerika Serikat dan Eropa kepada Arab Saudi merupakan dukungan kepada kebijakan agresif Riyadh di kawasan. Agresi militer ke Yaman telah menyebabkan jutaan warga negara ini terutama anak-anak mengalami penderitaan parah dan kekurangan bahan pangan dan obat-obatan. Kelanjutan invasi ini akan menyebabkan kondisi di Yaman memburuk.
Jika situasi itu berlanjut, maka anak-anak Yaman akan terus menjadi korban utama serangan militer koalisi pimpinan Arab Saudi, sementara resolusi baru DK-PBB juga tidak mengubah kondisi mereka. Pemutusan bantuan Barat kepada Arab Saudi dan koalisinya dan tekanan kepada Riyadh untuk mengakhiri perang justru yang akan bisa memulihkan keamanan bagi anak-anak Yaman. (RA)