Brutalitas Koalisi Pembunuh Anak Yaman
-
korban serangan ke bus sekolah Yaman
Jet-jet tempur Arab Saudi, Kamis (9/8) malam mengebom sebuah bus sekolah di kota Dahyan, Provinsi Saada, Yaman dan menewaskan 55 anak serta melukai 80 lainnya.
Seluruh korban tewas dan terluka akibat serangan jet-jet tempur Saudi Kamis malam adalah warga sipil, namun yang lebih parah lagi, sebagian besar korban adalah anak-anak di bawah 15 tahun yang tengah berada dalam bus dan kembali dari liburan musim panas.
Dalam perang melawan Yaman, Saudi banyak terlibat kejahatan perang, kejahatan fisik maupun non-fisik terhadap anak-anak Yaman merupakan kejahatan paling bengis yang dilakukan koalisi Saudi di negara itu.
Pembunuhan, pengungsian dan serangan wabah penyakit termasuk jenis kejahatan fisik terhadap anak-anak Yaman. Kehilangan orangtua, tidak bisa melanjutkan studi, masa depan suram dan gangguan psikologi pasca perang, merupakan jenis kejahatan non-fisik akibat serangan koalisi Saudi terhadap anak-anak Yaman.
Juru bicara koalisi Saudi, Turki Al Maliki menyebut serangan terhadap bus sekolah yang tengah mengangkut anak-anak Yaman adalah langkah militer legal. Padahal berdasarkan banyak konvensi internasional, serangan terhadap orang-orang yang tidak terlibat langsung dalam perang termasuk anak-anak, dikategorikan kejahatan perang.
Dalam Konvensi Internasional Hak Anak tahun 1989, Pasal 38 ayat 1-2 disebutkan, 1. Negara-negara Pihak berusaha menghormati dan menjamin penghormatan terhadap peraturan-peraturan hukum humaniter internasional yang dapat berlaku bagi mereka dalam konflik bersenjata yang relevan bagi anak. 2. Negara-negara Pihak harus mengambil semua langkah yang tepat untuk menjamin bahwa orang-orang yang belum mencapai umur lima belas tahun tidak mengambil suatu bagian langsung dalam permusuhan.
Kenyataannya, sebagian besar korban tewas dan terluka akibat serangan jet-jet tempur koalisi Saudi, Kamis malam lalu adalah anak-anak di bawah 15 tahun.
Oleh karena itu, PBB mengeluarkan pernyataan resmi terkait serangan koalisi Saudi ke Saada dan mengumumkan bahwa segala bentuk serangan yang langsung menyasar warga sipil adalah kejahatan perang.
Dengan demikian klaim Jubir koalisi Saudi yang menyatakan bahwa serangan Kamis malam adalah langkah militer legal, sama sekali tidak berdasar.
Di sisi lain, Deputi Jubir Sekjen PBB, Farhan Haq mengutip Antonio Guterres, menuntut dilakukannya penyelidikan independen dan segera terkait serangan koalisi Saudi ini.
Hal ini membuktikan adanya sebuah kekosongan fundamental dalam perang Yaman, dan kekosongan itu adalah tidak terbentuknya komite pencari fakta seputar perang ini. Walaupun pembentukan tim pencari fakta dan laporannya tidak memiliki jaminan pelaksanaan, namun akan ada banyak temuan kejahatan perang koalisi Saudi yang bisa didapatkan, terutama kejahatan terhadap anak-anak.
Sepertinya, alasan terpenting mengapa komite pencari fakta kejahatan perang koalisi Saudi di Yaman tidak juga terbentuk adalah keterlibatan negara-negara adidaya dunia khususnya Amerika Serikat dalam perang Yaman dan dukungan mereka atas koalisi Saudi.
Senator Bernie Sanders mereaksi serangan mematikan koalisi Saudi ke sebuah bus sekolah Yaman dan mengatakan, Amerika Serikat terlibat dalam kejahatan perang ini lewat dukungannya atas koalisi Saudi di Yaman dengan memasok senjata, bahan bakar udara dan bantuan penentuan sasaran serangan. (HS)