Penundaan Perundingan Yaman di Jenewa
-
Perundingan damai Yaman di Kuwait. Dok
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengumumkan bahwa perundingan antara kelompok-kelompok Yaman, yang awalnya dijadwalkan digelar Kamis ini (6/9/2018) ditunda ke hari lain.
Agresi Arab Saudi dan sekutunya ke Yaman sudah berlangsung 42 bulan. Selama masa itu, PBB selalu mencoba untuk memainkan peran mediasi di antara para pihak yang bertikai. PBB telah menunjuk Martin Griffiths sebagai utusan khususnya untuk Yaman dan salah satu tugas dia adalah mendorong perundingan di antara kelompok-kelompok Yaman.
Putaran terakhir perundingan Yaman dilakukan di Kuwait pada Agustus 2016 dan berakhir tanpa mencapai hasil apapun. Setelah vakum lama, babak baru perundingan sedianya akan dibuka kembali pada Kamis ini di Jenewa, namun Martin Griffiths justru mengumumkan penundaan tanpa memberikan alasannya.
Lalu mengapa agenda penting ini ditunda? Padahal, kondisi rakyat Yaman sudah sangat memprihatinkan dan menurut sekjen PBB, Yaman sedang dilanda krisis kemanusiaan terburuk di dunia.
Sebenarnya, alasan penundaan ini kembali pada sabotase yang dilakukan koalisi Arab Saudi. Dewan Tinggi Politik Yaman telah menyatakan kesediaan mereka menghadiri perundingan Jenewa, tetapi Saudi melarang lepas landas sebuah pesawat dari bandara Oman, yang akan menjemput delegasi Ansarullah di Sana'a dan kemudian menerbangkan mereka ke Jenewa.
Trik serupa juga pernah dilakukan Arab Saudi dalam sebuah perundingan lain, yang dijadwalkan digelar di Jenewa.
Saudi dan sekutunya sekarang berada di bawah tekanan opini publik dunia karena serangan brutal mereka terhadap anak-anak dan perempuan Yaman. Dalam kondisi saat ini, Saudi Cs memandang perundingan Yaman tidak sejalan dengan kepentingan mereka.
Jika pun perundingan damai Yaman ini dilaksanakan pada waktu lain, namun tampaknya tidak akan membawa harapan untuk memecahkan krisis di negara itu, karena PBB tidak bisa memberikan jaminan tentang penerapan butir-butir kesepakatan yang mungkin dicapai.
Setelah menerima laporan tentang penundaan perundingan, ketua delegasi Yaman, Mohammad Abdul Salam mengatakan, PBB sejauh ini belum memenuhi satu pun dari janjinya untuk memfasilitasi pemulangan korban luka dan warga Yaman di luar negeri.
Dari satu sisi dapat dikatakan bahwa krisis Yaman hanya memiliki solusi politik dan ia tidak akan berakhir dengan aksi militer. Dari sisi lain, perundingan antara kelompok-kelompok Yaman akan sukses ketika mendapat jaminan dari pihak yang netral dan juga didukung oleh kekuatan-kekuatan dunia.
Ironisnya, kekuatan-kekuatan dunia tidak memiliki tekad untuk mengakhiri perang Yaman. Mereka justru mendukung Saudi dan sekutunya dalam melakukan kejahatan di negara tersebut.
Senator independen dari Vermont, Bernie Sanders mengkritik sikap pasif Kongres AS terhadap tindakan Presiden Donald Trump di Yaman, dan ia meminta Kongres untuk mengakhiri intervensi AS dalam perang Yaman.
Menurutnya, Yaman sedang menghadapi salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia, dan kerjasama AS dengan rezim Saudi berkontribusi pada kelanjutan krisis kemanusiaan ini. (RM)