Mungkinkah Ketegangan Qatar- Saudi akan segera Menurun?
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i65080-mungkinkah_ketegangan_qatar_saudi_akan_segera_menurun
Baru-baru ini, Qatar diundang untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tingkat Tinggi Dewan Kerja Sama Teluk Persia (P-GCC) yang akan digelar di Riyadh, ibu kota Arab Saudi pada hari Minggu, 9 Desember 2018.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Des 07, 2018 15:15 Asia/Jakarta
  • Para pemimpin negara-negara anggota P-GCC.
    Para pemimpin negara-negara anggota P-GCC.

Baru-baru ini, Qatar diundang untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tingkat Tinggi Dewan Kerja Sama Teluk Persia (P-GCC) yang akan digelar di Riyadh, ibu kota Arab Saudi pada hari Minggu, 9 Desember 2018.

Apakah undangan kepada pemerintah Doha untuk menghadiri KTT P-GCC di Riyadh akan menghentikan ketegangan Qatar dengan Arab Saudi atau ketegagnan ini akan tetap berlanjut? Pemerintah Qatar belum memberikan respon atas undangan tersebut meskipun undangan ini telah diterima dua hari lalu

 

Ada dua kemungkinan situasi terkait hal ini. Pertama, Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani memenuhi undangan tersebut mengingat Qatar adalah salah satu anggota P-GCC. Jika ini terjadi, Sheikh Tamim tentunya akan bertemu dan berdialog dengan Raja Arab Suadi Salman bin Abdulaziz Al Saud sehingga ketegangan antara Doha dan Riyadh akan berkurang. Namun jika pertemuan tersebut tidak berlangsung, maka ketegangan antarkedua belah pihak berlanjut.

 

Kedua, pemerintah Qatar tidak menganggap penting kehadirannya di KTT P-GCC di Riyadh untuk kepentingan negara, sehingga tidak perlu hadir dalam acara ini.

Doha memiliki banyak alasan untuk tidak berpartisipasi dalam pertemuan di Riyadh. Sebab, Raja Arab Saudi tidak mengundang secara langsung kepada Emir Qatar untuk menghadiri KTT tersebut. Namun undangan itu diberikan kepada Menteri Penasihat Qatar untuk Urusan Luar Negeri melalui Sekretaris Jenderal P-GCC.

 

Selama 18 bulan terakhir, Qatar menegaskan pentingnya penghormatan dalam hubungan dengan negara-negara lain lebih dari segalanya. Oleh karena itu, pemerintah Doha tampaknya tidak akan merespon positif atas undangan seperti itu, karena ini dianggap tidak menjaga hubungan baik antarnegara.

 

Selain itu, Qatar memahami posisi lemah Arab Saudi dalam kondisi sekarang ini dan menyambut tekanan terhadap Riyadh. Perilaku Arab Saudi dan negara-negara yang memblokade dan memboikot Qatar seperti Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain dan Mesir juga belum berubah.

Menteri Urusan Luar Negeri UEA Anwar Mohammed Gargash mengatakan, konflik politik akan berakhir ketika penyebab yang mendasari konflik ini berakhir. Dia menambahkan, dalam kondisi saat ini, dukungan Qatar kepada kekuatan radikal dan campur tangannya dalam kestabilan regional harus diselesaikan.

 

Melihat pernyataan dan tuduhan pejabat UEA tersebut, maka kemungkinan ketidakhadiran Emir Qatar dalam KTT P-GCC di Riyadh lebih besar. Atau jika pun perwakilannya hadir, mungkin hanya di level menteri luar negeri.

 

Kemungkinan ketidakhadiran Qatar dalam KTT P-GCC bukan hal yang tidak mungkin. Baru-baru ini saja, pemerintah Doha memutuskan untuk keluar dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak, OPEC setelah keanggotaannya selama 57 tahun. Oleh karena itu tidak menutup kemungkinan, Qatar juga akan keluar dari keanggotaan P-GCC.

 

Salah satu alasan Qatar keluar dari OPEC adalah pemerintah Doha ingin terlepas dari bayangan kebijakan yang di dalamnya ada peran penting Arab Saudi. Semua pihak mengetahui bahwa peran Arab Saudi di P-GCC lebih besar dari perannya di OPEC, bahkan Riyadh mendominasi kebijakan P-GCC.

 

Bloomberg mengenai hal itu menulis, dalih seperti ini ada dua kali lipat dalam situasi di P-GCC, terutama di antara anggota organisasi ini, di mana ada dua negara yaitu Arab Saudi dan UEA yang selama 18 bulan ini melakukan gerakan luas untuk memutus hubungan negara-negara Arab dengan Qatar.

 

Wacana dan bukti politik yang ada menunjukkan bahwa undangan kepada Qatar untuk berpartisipasi dalam KTT P-GCC di Riyadh tidak akan mampu mengurangi ketegangan pemerintah Qatar dengan Arab Saudi, sehingga ketegangan ini akan berlanjut. Apalagi, tidak ada tanda-tanda Arab Saudi akan mengurangi permusuhannya terhadap Qatar. (RA)