Kegagalan Sanksi Saudi terhadap Qatar
-
Qatar vs Arab Saudi
Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani hari Kamis (31/1) melanjutkan lawatannya ke kawasan Asia timur dengan mengunjungi Beijing untuk bertemu dengan pejabat tinggi Cina.
Lawatan Emir Qatar tersebut untuk memenuhi undangan resmi Presiden Cina. Saat ini, Cina, Korea Selatan dan Jepang menjadi mitra utama perdagangan Qatar. Beijing menjadi mitra perdagangan terbesar ketiga Doha dengan volume perdagangan kedua negara di tahun 2017 sebesar 11 miliar dolar.
Sebelum melawat Cina, Emir Qatar mengunjungi Korea Selatan dan dijadwalkan akan melanjutkan safarinya ke Jepang. Kunjungan orang nomor satu di Qatar ini merupakan yang kedua kalinya dilakukan setelah negara ini dijatuhi sanksi sepihak oleh Arab Saudi bersama tiga negara Arab lainnya. Di awal Oktober 2017, Emir Qatar mengunjungi sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara yaitu: Malaysia, Singapura dan Indonesia.
Diprediksi lawatan Emir Qatar ke kawasan Asia Timur kali ini akan membuahkan sejumlah kesepakatan penting yang akan membuka jalan baru bagi Doha yang saat ini masih berada dalam kungkungan sanksi Riyadh dan sekutunya.
Arab Saudi bersama Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir memutuskan hubungan diplomatik, dan perdagangan dengan Qatar. Tidak hanya itu, keempat negara Arab ini menutup akses lalu lintas darat, laut dan udara negaranya untuk Qatar. Mereka menuding Doha mendukung kelompok teroris, tapi Qatar membantahnya, dan menilai tekanan tersebut dilakukan untuk merongrong independensinya.
Sikap Cina terhadap masalah konflik antara Qatar dan Arab Saudi cenderung memilih independen, sehingga bisa lebih leluasa menjalin hubungan dengan Doha dan juga pihak rivalnya. Tampaknya Beijing tidak melihat perlunya pemihakan lebih jauh dalam masalah friksi antara Riyadh dan Doha. Sebab masalah tersebut berkaitan dengan isu regional, terutama mengenai ambisi Arab Saudi yang ingin menjadi kekuatan nomor satu di kawasan.
Pada awalnya, Arab Saudi mengira dengan sanksi dan tekanan terhadap Doha, bisa menggiring Qatar mengamini dikte Riyadh. Tapi faktanya ternyata jauh panggang dari api. Hingga kini Qatar tidak bertekuk lutut terhadap Riyadh, bahkan Doha menunjukkan taringnya dengan mengembangkan hubungan perdagangan dengan berbagai negara penting di dunia.
Para analis Timur Tengah menilai safari Emir Qatar ke kawasan Asia Timur kali ini bagian dari rangkaian lawatan sebelumnya Sheikh Tamim ke berbagai kawasan, termasuk Afrika dan Amerika Latin untuk mengembangkan perekonomian negaranya
Tampaknya, Doha berhasil menjadikan ancaman sebagai peluang bagi negaranya untuk terus tumbuh dan berkembang di tengah tekanan sejumlah negara yang memusuhinya. Langkah tersebut dengan sendirinya sudah mengumumkan kegagalan sanksi Riyadh dan sekutunya terhadap Doha.(PH)