Saudi di Kubangan Krisis Yaman
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i74401-saudi_di_kubangan_krisis_yaman
Wakil Menteri Pertahanan Arab Saudi Khaled bin Salman dalam sebuah pernyataannya mengklaim Riyadh menyambut proposal Dewan Tinggi Politik Yaman, tapi menuding Iran memanfaatkan krisis Yaman.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Okt 05, 2019 12:08 Asia/Jakarta

Wakil Menteri Pertahanan Arab Saudi Khaled bin Salman dalam sebuah pernyataannya mengklaim Riyadh menyambut proposal Dewan Tinggi Politik Yaman, tapi menuding Iran memanfaatkan krisis Yaman.

Pada Jumat, 20 September 2019, Dewan Tinggi Politik Yaman mengumumkan gencatan senjata bersyarat, dan mendesak koalisi agresor Saudi untuk menghentikan perang.

Republik Islam Iran juga menyerukan supaya pemerintah Saudi menerima proposal tersebut, dengan mengatakan pihaknya mendukung setiap langkah untuk mewujudkan gencatan senjata dan mengakhiri perang yang memporak-porandakan Yaman. Tehran memandang prakarsa ini sebagai langkah penting menuju perdamaian dan stabilitas di kawasan.

Wakil menteri pertahanan Arab Saudi, yang negaranya telah memimpin perang melawan Yaman selama lima tahun, mengklaim bahwa Iran berbicara tentang gencatan senjata di Yaman serta menghubungkannya dengan krisis yang menimpa negara Arab itu.

Khaled bin Salman dalam sebuah pernyataan menuding Iran berusaha mengeksploitasi krisis Yaman untuk keuntungannya sendiri.

 

kilang minyak Saudi, Aramco jadi sasaran drone Yaman

Statemen pejabat Arab Saudi ini mengemuka di saat negaranya sedang mengalami banyak masalah di tingkat sosial, politik dan ekonomi.

Surat kabar Perancis, Le Figaro baru-baru ini menulis dalam sebuah analisisnya, "Kekalahan di Yaman adalah kekalahan terbesar dinasti Al Saud,".

Arab Saudi, dengan dukungan Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, dan sejumlah negara lain telah meluncurkan invasi militer ke Yaman pada Maret 2015 dan melakukan blokade darat, laut, dan udara terhadap negara tetangganya itu. 

Mohammed bin Salman, yang saat itu menjabat sebagai menteri pertahanan Arab Saudi menyeret negaranya memimpin agresi militer di Yaman. Lalu apa yang diraih rezim Al Saud dari perang ini ?

Perang yang disulut Arab Saudi di Yaman sejauh ini telah menewaskan lebih dari 16.000  orang, melukai puluhan ribu, dan menggusur jutaan warga Yaman.

Faktanya, perang dan pembunuhan orang-orang yang tertindas di Yaman merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional, dan perampasan hak-hak rakyat Yaman. Selain itu, perang tersebut juga menimbulkan instabilitas kawasan.

Tampaknya, upaya Arab Saudi melemparkan tuduhan terhadap Iran bisa dipandang sebagai kebijakan Riyadh untuk menutupi berbagai kejahatannya di kawasan, terutama terhadap bangsa Yaman.

Analis politik Timur Tengah, Abdul Bari Atwan dalam sebuah artikel di surat kabar Ray Alyoum baru-baru ini menulis, "Militer Yaman yang dulu meluncurkan rudal dengan daya jangkau kurang dari delapan puluh kilometer dengan nama al-Najm al-Thaqib, kini terbukti menjadi kekuatan militer dengan menembakkan rudal dan drone yang menghantam sumber perekonomian Saudi. Kini, di tahun kelima agresi Saudi terhadap Yaman, perimbangan kekuatan menunjukkan tentara Yaman lebih unggul,".

Satu-satunya cara untuk mengeluarkan Saudi dari kubangan rawa krisis Yaman adalah pendekatan realistis dan penerimaan proposal Pemerintah Penyelamatan Nasional Yaman untuk menghentikan peluncuran rudal dan drone terhadap Arab Saudi. Langkah semacam itu dapat diambil untuk mewujudkan stabilitas dan keamanan di Yaman dan kawasan. Namun, Arab Saudi masih tampak berupaya menutupi kegagalannya dalam agresi militer terhadap Yaman.(PH)