Krisis Legitimasi Rezim Al Khalifa
Gelombang baru unjuk rasa kembali meletus di Bahrain selama beberapa hari belakangan ini. Demonstrasi tersebut sebagai reaksi rakyat Bahrain terhadap ancaman terbaru kementerian pertahanan negara Arab itu.
Warga Bahrain melanjutkan unjuk rasa dan meneriakan berbagai slogan mengecam statemen intimidatif Menteri pertahanan Bahrain, Khalifa Ahmad Al Khalifa. Para demonstran menyatakan bahwa sikap rakyat Bahrain berseberangan dengan ancaman dan tekanan pejabat pemerintah Manama.
Zia Al-Bahrani, pengurus koalisi pemuda revolusioner, 14 Februari, Bahrain, mengatakan, Statemen militer Bahrain yang dikeluarkan baru-baru ini secara tidak langsung mengancam rakyat negara Arab ini, tapi akan dihadapi oleh rakyat Bahrain dengan berlanjutnya unjuk rasa damai. Ditegaskannya, militer Bahrain terdiri dari antek-antek asing yang diberi kewarnegaraan Bahrain oleh rezim Al Khalifa, padahal melanggar aturan negara.
Asosiasi HAM Bahrain dalam statemennya menyikapi ancaman kementerian pertahanan negara ini, dan menyerukan publik dunia supaya meningkatkan tekanan terhadap pemerintah Bahrain demi memperbaiki kondisi HAM di negara Arab ini. Lembaga HAM ini juga mendesak pembebasan seluruh tahanan revolusioner secepatnya.
Pada hari Selasa (26/4), asosiasi HAM Bahrain menyatakan rezim Al Khalifa hanya dalam waktu sepekan memberangus 15 aksi protes rakyat di berbagai wilayah di negara ini.
Ditegaskannya, aksi represif tersebut melanggar kesepakatan internasional mengenai hak sipil dan politik yang telah ditandatangani sebelumnya.
Sebelumnya, lembaga HAM Bahrain juga menyinggung penangkapan Sheikh Muhammad Munsi, salah seorang ulama negara ini karena beliau menjadi Imam shalat tanpa izin dari pemerintah. Selain itu, rezim Al Khalifa juga memanggil pemimpin Al Wefaq, Khalil Al Marzouq yang memicu protes luas dari lembaga HAM dan rakyat Bahrain.
Sejatinya, gelombang unjuk rasa baru rakyat Bahrain terhadap rezim Al Khalifa selama beberapa hari belakangan ini menunjukkan kegagalannya memberangus protes rakyat dengan cara-cara kekerasan.
Berlanjutnya aksi represif rezim Al Khalifa yang dibantu rezim Al Saud tetap tidak mampu membendung tekad baja rakyat Bahrain yang menuntuk keadilan dan demokratisasi di negara monarki itu.
Bola salju protes damai rakyat Bahrain yang semakin membesar menunjukkan rezim Al Khalifa mengalami krisis legitimasi melebihi sebelumnya. (PH)