Apa Motif Kunjungan Blinken ke Israel ?
-
Antony Blinken dan Benjamin Netanyahu
Hanya berselang empat hari dari pengumuman gencatan senjata antara Israel dan muqawama Palestina, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken Selasa (25/5/2021) tiba di bumi Palestina pendudukan dan bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Setelah bertemu dengan Netanyahu, Blinken dilaporkan bertolak menuju Ramallah untuk bertemu dengan Ketua Otorita Ramallah, Mahmoud Abbas dan hari ini (Rabu, 26/5/2021) ia dijadwalkan menuju Mesir dan kemudian Yordania.
Petinggi Amerika dan Blinken sendiri terkait kunjungan kali ini mengklaim bahwa lawatannya tersebut untuk menstabilkan gencatan senjata dan rekonstruksi Gaza. Faktanya, rekonstruksi Gaza sekedar alasan yang digulirkan AS untuk melaksanakan rencananya dan Israel di bumi pendudukan serta langkah melawan muqawama. Hal ini karena, setelah perang ini dan kekalahan telak Israel dari muqawama Gaza, rezim Zionis sangat terguncang di mana petinggi Barat secepatnya bertolak ke kawasan untuk mengumumkan gencatan senjata dan mencegah dimulainya bentrokan baru. Mereka menekan Mesir dan Yordania untuk merealisasikan keinginannya tersebut.
Solidaritas antara warga Palestina di bumi pendudukan 48, Quds, Ramallah dan Jalur Gaza menciptakan mimpi buruk dan mengerikan bagi sponsor Israel. Bahkan sponsor rezim penjajah Quds ini memahami fakta bahwa kini basis dan posisi muqawama Islam Palestina di mata rakyat tertindas Palestina mengalami peningkatan dan bangsa ini menekankan efektivitas dan pengaruh muqawama dalam melawan Israel. Dengan demikian sponsor Israel ini mulai berpikir untuk mendukung Otorita Ramallah yang tercatat sebagai sekutu Israel di Tepi Barat dan menggulirkan usulan pengiriman bantuan bagi Gaza melalui Otorita Ramallah.
Faktanya, klaim membantu Gaza sekedar alasan untuk mendukung Otorita Ramallah dan membesar-besarkan kelompok ini dari Hamas serta pada akhirnya menciptakan perselisihan di antara rakyat Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza.
Di sisi lain, diprediksikan bahwa Amerika melalui klaim perdamaian dan rencana pembentukan dua negara independen, ingin mencitrakan muqawama sebagai pihak yang menghalangi terealisasinya ide ini dan pada akhirnya akan mampu meningkatkan tekanan terhadap muqawama di Jalur Gaza. Di sisi lain, mereka ingin memprovokasi opini bangsa Palestina di bumi pendudukan –yang saat ini menekankan efektivitas muqawama melawan Israel- untuk memusuhi Hamas dan faksi muqawama secara umum.
Syarat yang digulirkan dan faktanya tidak mungkin, oleh perdana menteri Israel di konferensi pers hari Selasa dengan Blinken terkait rekonstruksi Gaza, di mana ia sendiri adalah kriminal dan penjahat yang menghancurkan daerah ini, juga muncul di wacana ini. Saat menjelaskan klaim pengiriman bantuan ke Gaza, Netanyahu mensyaratkannya dengan pencegahan penguatan senjata Hamas dan jika mungkin pelucutan senjatanya serta pembebasan empat zionis yang ditawan oleh kubu muqawama ini.
Di sisi lain, pemilu legislatif Palestina setelah 15 tahun terhenti, dan dijadwalkan digelar 22 Mei lalu ditangguhkan dan kini belum ada kejelasan kapan akan digelar. Selain itu, pemilu ketua Otorita Ramallah pada 31 Juli dan kemudian pemilu Dewan Nasional Palestina pada 31 Agustus 2021 menciptakan atmosfer berbeda di bumi Palestina dalam mendukung muqawama, khususnya kekalahan terbaru Israel di Gaza malah mempercepat atmosfer seperti ini dan meningkatkan ketakutan Zionis dan pendukungnya.
Oleh karena itu, Amerika Serikat dan sponsor Barat Israel menyaksikan kondisi rezim ilegal ini sangat kritis dan sampai pada kesimpulan bahwa Tel Aviv terancam tumbang dan untuk mencegahnya, mereka harus bertindak secepat mungkin dengan bantuan barisan regional dan rezim reaksioner. (MF)