Perpanjangan Sanksi Uni Eropa terhadap Rusia
https://parstoday.ir/id/news/world-i12223-perpanjangan_sanksi_uni_eropa_terhadap_rusia
Dewan Eropa mengkonfirmasi perpanjangan sanksi Uni Eropa terhadap Rusia. Dewan Eropa dalam statemennya menyatakan Uni Eropa dalam pertemuan yang dihadiri negara anggota hari Jumat (17/6) secara resmi memperpanjang sanksi selama setahun ke depan hingga 23 Juni 2017 yang dijatuhkan sejak bergabungnya Crimea dengan federasi Rusia di tahun 2014.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jun 18, 2016 15:31 Asia/Jakarta
  • Perpanjangan Sanksi Uni Eropa terhadap Rusia

Dewan Eropa mengkonfirmasi perpanjangan sanksi Uni Eropa terhadap Rusia. Dewan Eropa dalam statemennya menyatakan Uni Eropa dalam pertemuan yang dihadiri negara anggota hari Jumat (17/6) secara resmi memperpanjang sanksi selama setahun ke depan hingga 23 Juni 2017 yang dijatuhkan sejak bergabungnya Crimea dengan federasi Rusia di tahun 2014.

Sanksi Uni Eropa terhadap Rusia juga termasuk larangan investasi dan impor produk dari Crimea ke Eropa. Sejak 2014 hingga kini, Uni Eropa dan AS menjatuhkan sanksi terhadap Rusia dan menuding Moskow mengintervensi urusan dalam negeri Ukraina. Rangkaian sanksi Uni Eropa tersebut dibalas dengan aksi serupa oleh Moskow.

Di lapangan, sepak terjang Uni Eropa terhadap Rusia tidak diikuti oleh sebagian negara anggota. Italia misalnya, negara ini justru meningkatkan hubungan perdagangan dan ekonomi dengan Rusia.

Terkait hal ini, Presiden Rusia, Vladimir Putin di akhir pertemuan dengan Perdana Menteri Italia, Matteo Renzi yang berlangsung di sela-sela perhelatan ekonomi internasional Saint Petersburg, menandatangani sejumlah kontrak kerja sama ekonomi senilai lebih dari 1,3 miliar euro. Penandatangan kontrak tersebut dihadiri oleh para pengusaha Italia. Menurut Putin, Rusia dan Italia sedang mengaktifkan hubungan perdagangan kedua negara.

Sejatinya, di tubuh Uni Eropa sendiri muncul dua kubu menyikapi berlanjutnya sanksi terhadap Rusia. Pertama, kubu yang dekat dengan AS menghendaki berlanjutnya sanksi terhadap Moskow selama Rusia masih mempertahankan sikapnya tidak bersedia tunduk terhadap Barat terkait masalah krisis Ukraina. Di barisan depan, tampil Inggris menjadi negara yang mendukung penuh berlanjutnya sanksi terhadap Rusia.

Kubu kedua adalah negara anggota Uni Eropa yang memiliki hubungan perdagangan yang luas dengan Rusia sebelum pecahnya krisis Ukraina. Mereka menghendaki diakhirinya sanksi Uni Eropa terhadap Moskow, karena merugikan kepentingan ekonominya. Mereka meminta penurunan sanksi terhadap Rusia. Jerman termasuk negara yang dahulu menjadi mitra terbesar perdagangan Rusia di Uni Eropa.

Selanjutnya, Italia, Spanyol, Yunani, Siprus, Hongaria, Slovania dan Kroasia termasuk deretan negara anggota Uni Eropa yang menyerukan peninjauan ulang kebijakan sanksi terhadap Rusia. Saat ini mereka terpaksa mengamini kebijakan sanksi Uni Eropa terhadap Moskow. Tapi berlanjutnya kebijakan tersebut merugikan kepentingan ekonomi nasional mereka masing-masing.

Jerman menyerukan pencabutan sanksi Uni Eropa terhadap Moksow secara bertahap demi mengisi kembali pasar besar Rusia. Terkait hal ini, Pejabat Jerman menyatakan, Apabila terlihat kemajuan signifikan dalam penerapan kesepakatan Minsk oleh Rusia, meski tidak seluruhnya, maka perlu dibuat mekanisme pencabutan saksi secara bertahap. Tapi hingga kini, Jerman belum melihat kemajuan tersebut.

Tapi sejumlah negara lain seperti Italia yang menghadapi masalah ekonomi dalam negerinya, tidak mensyaratkan hal itu. Bahkan pemerintah Roma berani menandatangi kontrak baru ekonomi dengan Moskow. Tampaknya, sikap Italia ini akan memicu reaksi penentangan dari institusi Eropa dan negara-negara anggotanya yang selama ini menjadi sekutu AS, karena Roma dianggap melanggar keputusan Uni Eropa. (PH)