Tekanan AS terhadap Baghdad dan Tantangan Memilih Perdana Menteri di Irak
-
Presiden AS Donald Trump
Pars Today - Meningkatnya tekanan politik dan diplomatik dari AS terhadap pemerintahan masa depan Irak telah membuat proses pembentukan kabinet baru negara itu menjadi lebih rumit dan telah memicu respons yang jelas dari kelompok-kelompok perlawanan.
Menjelang pembentukan pemerintahan Irak yang baru, meningkatnya tekanan diplomatik dan keamanan dari AS telah membingungkan perhitungan politik Baghdad.
Pernyataan keras Utusan Khusus AS untuk Irak, Mark Savaya, terhadap kelompok-kelompok perlawanan dan menggambarkan kehadiran mereka sebagai "faktor yang melemahkan kedaulatan" telah menyebabkan reaksi tajam dari kelompok-kelompok ini dan ketegangan dalam koalisi "Kerangka Koordinasi" Syiah.
Menurut laporan Pars Today, dengan mengaitkan dukungan internasional dengan sifat pemerintahan masa depan, Washington menekankan monopoli senjata di tangan pemerintah dan pengurangan pengaruh kelompok-kelompok perlawanan.
Sebaliknya, kelompok-kelompok perlawanan, yang menekankan pentingnya memiliki setidaknya 97 kursi di parlemen, menganggap diri mereka sebagai bagian integral dari perimbangan politik Irak dan telah mengancam setiap ancaman dengan "respons segera".
Dalam konteks ini, Kerangka Koordinasi Syiah menghadapi tugas sulit untuk memilih seorang perdana menteri yang dapat meredakan kekhawatiran Amerika sekaligus menjaga kedaulatan nasional dan basis politik domestik.
Sumber-sumber politik menganggap skenario "manajemen ketegangan" lebih mungkin terjadi, karena semua pihak menyadari besarnya biaya konfrontasi langsung.
Irak tampaknya berada pada titik kritis di mana keseimbangan antara tuntutan domestik dan tekanan eksternal akan menentukan stabilitas masa depan negara ini.(sl)