Mengapa Presiden Brasil Mengejek Trump?
https://parstoday.ir/id/news/world-i184462-mengapa_presiden_brasil_mengejek_trump
Pars Today – Presiden Brasil, Lula da Silva, mengejek Donald Trump.
(last modified 2026-02-10T14:34:11+00:00 )
Jan 21, 2026 20:38 Asia/Jakarta
  • Presiden Brasil, Lula da Silva
    Presiden Brasil, Lula da Silva

Pars Today – Presiden Brasil, Lula da Silva, mengejek Donald Trump.

Menurut laporan Pars Today, Lula da Silva, Presiden Brasil, mengejek Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, karena cuitan-cuitannya yang berulang kali. Da Silva mengatakan kepada Trump bahwa ia berupaya memerintah dunia melalui Twitter (kini bernama X).

 

Da Silva sebelumnya mengecam tindakan militer Amerika Serikat terhadap Venezuela dan menyebutnya sebagai penghinaan terhadap kedaulatan negara tersebut serta pelanggaran atas “garis-garis yang tidak dapat diterima”. Sambil mengutuk serangan militer AS terhadap Venezuela dan penculikan Nicolas Maduro, mitranya dari Venezuela, ia menegaskan bahwa tindakan tersebut telah melampaui “garis merah yang tidak dapat diterima”. Presiden Brasil menulis di jejaring sosial X (Twitter): “Tindakan-tindakan ini merupakan penghinaan serius terhadap kedaulatan Venezuela dan menciptakan preseden yang sangat berbahaya bagi seluruh komunitas internasional.” Reuters menambahkan bahwa Da Silva menyerukan reaksi yang “kuat” dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.

 

Ketika berbicara tentang perilaku media Donald Trump, Lula da Silva secara khusus menyoroti jumlah cuitannya yang sangat banyak dan sering kali tanpa tujuan yang jelas—perilaku yang di mata banyak pemimpin dunia, termasuk Presiden Brasil, dipandang sebagai gaya berpolitik yang emosional dan tidak profesional. Da Silva, yang memiliki pengalaman panjang dalam dunia politik, berulang kali menekankan bahwa seorang politisi harus berbicara kepada publik dengan kehati-hatian, pertimbangan matang, dan rasa tanggung jawab, bukan dengan menerbitkan pesan setiap beberapa menit yang lebih menyerupai reaksi sesaat daripada sikap resmi seorang presiden. Perbedaan pendekatan inilah yang membuatnya terkadang, dengan nada jenaka atau kritis, menjadikan perilaku Twitter Trump sebagai bahan ejekan.

 

Trump, baik selama masa jabatan presiden pertamanya maupun setelahnya, dengan memanfaatkan Twitter dan kini jejaring sosial Truth Social—yang ia dirikan pada Februari 2022—menjadikan pesan-pesan semacam ini sebagai alat komunikasi utamanya. Ia menerbitkan pesan dengan cepat dan dalam jumlah besar tentang berbagai topik, mulai dari isu keamanan nasional hingga perselisihan pribadi. Sebagai contoh, dalam satu hari ia bisa mengunggah beberapa cuitan tentang ekonomi Amerika Serikat, termasuk pesan yang mengaitkan pertumbuhan pasar saham dengan kepemimpinannya atau mengancam perusahaan-perusahaan besar dengan tarif tinggi jika memindahkan pabrik mereka ke luar negeri. Pada hari yang sama, ia juga dapat menulis beberapa cuitan lain tentang imigrasi dan membela pembangunan tembok perbatasan, lalu tiba-tiba beralih ke topik yang sama sekali berbeda dengan menulis tentang media dan menyebutnya sebagai “berita palsu”.

 

Volume pesan yang sangat besar—yang terkadang mencapai puluhan cuitan dalam satu hari—telah dianggap aneh oleh banyak pemimpin dunia. Lula da Silva berulang kali menyatakan bahwa seorang politisi harus memiliki waktu untuk berpikir dan menyampaikan keputusannya dalam bentuk kebijakan resmi, bukan menuangkan setiap emosi sesaat ke dalam sebuah cuitan. Bahkan, dalam salah satu pernyataannya ia pernah menyindir: “Jika presiden sebuah negara besar setiap hari mencuit sebanyak ini, lalu kapan ia mengelola negaranya?” Sudut pandang yang bernada humor inilah yang menjelaskan mengapa perilaku Trump kerap menjadi bahan kritik dan ejekan baginya.

 

Trump juga mencuit dengan kecepatan dan emosi yang sama terkait isu-isu internasional. Terkadang, dalam hitungan menit, ia mempublikasikan pesan tentang para pemimpin negara lain; pada satu saat berbicara mengenai hubungan baik dengan suatu negara, dan sesaat kemudian mengancam negara yang sama. Bagi politisi seperti Da Silva yang meyakini diplomasi tradisional dan dialog di balik layar, perilaku semacam ini dipandang sebagai tanda ketidakstabilan dan ketidakpastian.

 

Selain itu, Trump berulang kali menggunakan Twitter untuk menyerang lawan-lawan politik domestiknya. Ia menyampaikan kata-kata keras kepada anggota Kongres, para gubernur, jurnalis, bahkan mantan anggota pemerintahannya sendiri. Gaya bertutur seperti ini—yang lebih menyerupai perdebatan di media sosial ketimbang sikap seorang presiden—bagi Da Silva dan banyak pemimpin dunia lainnya tampak tidak lazim, bahkan terkesan menggelikan.

 

Secara keseluruhan, alasan ejekan Da Silva bukan semata-mata karena banyaknya jumlah cuitan, melainkan cara Trump menggunakan media tersebut—cara yang menghapus batas antara kebijakan resmi dan reaksi pribadi. Bagi Presiden Brasil, perilaku ini merupakan contoh politik yang tergesa-gesa dan emosional; sesuatu yang ia soroti dengan nada kritis dan jenaka, serta ia anggap sebagai ciri khas gaya kepemimpinan Trump yang berbeda dan terkadang aneh.

 

Poin pentingnya, pada masa jabatan keduanya, Trump dengan memanfaatkan jejaring sosial Truth Social bukan hanya tidak meninggalkan kebiasaan lama menerbitkan cuitan dalam jumlah besar, tetapi kini bahkan telah menjadi “pencuit” yang sangat aktif dan profesional, memproduksi volume pesan yang mencengangkan. Dalam sejumlah kasus, cuitan-cuitan tersebut saling bertentangan atau mencerminkan perubahan sikap yang cepat dan tergesa-gesa dari presiden Amerika Serikat yang kontroversial tersebut. (MF)