Davos 2026 dan Penampakan Terbuka Krisis AS di Era Trump
-
Presiden AS Donald Trump
Pars Today - Pidato panjang dan tegang Presiden AS di Forum Ekonomi Dunia di Davos bukan hanya tidak mengurangi kekhawatiran tentang runtuhnya kohesi Barat, tetapi juga meningkatkan intensitas kekhawatiran itu.
Dalam pidatonya di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Presiden AS Donald Trump menuduh Eropa menyalahgunakan AS, dan menyatakan keterkejutannya atas penentangan terhadap rencana untuk merebut Greenland, serta mengkritik keras para pemimpin Eropa atas kebijakan imigrasi dan ekonomi mereka.
Menurut laporan Mehr, di antara serangan verbal Trump, satu-satunya kalimat yang membawa sedikit kelegaan adalah pengumuman Trump bahwa ia tidak akan menggunakan kekerasan untuk merebut Greenland. Sebuah sikap yang dianggap sebagai pembukaan terbatas bagi beberapa pejabat Eropa dalam suasana tegang hubungan transatlantik.
Beberapa jam kemudian, Trump mengumumkan bahwa ia telah mencapai "kerangka kerja untuk kesepakatan masa depan" tentang Greenland dengan Sekretaris Jenderal NATO dan untuk sementara waktu telah meninggalkan ancaman tarif baru terhadap Eropa. Ia menggambarkan potensi kesepakatan itu di media sosialnya sebagai "sangat baik bagi Amerika Serikat dan semua anggota NATO", tanpa memberikan detail lebih lanjut.
Namun apa saja poin-poin penting pidato Trump di Davos?
1. Greenland, Penolakan opsi militer, kelanjutan tekanan politik
Dengan menyatakan bahwa ia "tidak akan menggunakan kekerasan", Trump untuk pertama kalinya menolak kemungkinan aksi militer terhadap Greenland. Sebuah isu yang sebelumnya tidak dikesampingkan oleh Gedung Putih. Namun, ia sekali lagi menekankan tuntutannya untuk "kepemilikan penuh" atas Greenland dan memperingatkan, "Anda dapat mengatakan tidak, tetapi kami akan mengingatnya". Sebuah kalimat yang dilihat oleh para pengamat sebagai ancaman.
2. Narasi sejarah yang kontroversial dan kritik terhadap Denmark
Dalam membela klaimnya, Trump merujuk pada Perang Dunia II dan menyebut Denmark "tidak tahu berterima kasih". Ia mengklaim bahwa Denmark hanya bertahan melawan Jerman selama enam jam dan bahwa Amerika Serikat terpaksa campur tangan. Narasi selektif ini mendapat reaksi negatif yang meluas dan dilihat sebagai upaya untuk membenarkan klaim teritorial yang tidak biasa.
3. Memperluas cakupan kritik dan penghinaan terhadap sekutu
Trump kemudian menargetkan Swiss, dengan mengatakan bahwa negara itu "hanya menguntungkan Amerika". Ia berbicara tentang peningkatan tarif terhadap Swiss karena dendam pribadi. Prancis, Kanada, dan bahkan beberapa tokoh domestik di Amerika Serikat tidak luput dari serangannya. Pernyataannya tentang migrasi juga disambut dengan keheningan yang mencekam di aula.
4. Reaksi dingin dari hadirin dan akhir yang tak terduga
Saat pidato semakin panjang dan nada serangan semakin intensif, suasana di aula menjadi dingin dan mencekam. Beberapa hadirin meninggalkan aula ketika topik Greenland diangkat. Trump juga mengakhiri pidatonya tanpa kesimpulan yang jelas, dengan mengatakan, "Sampai jumpa nanti".
5. Citra Trump tentang Eropa
Pada bagian akhir pidatonya, Trump menggambarkan Eropa sebagai benua yang "tidak dapat dikenali", dan menyalahkan kebijakan imigrasi dan ekonomi atas keadaannya. Ia sekali lagi meremehkan Eropa, mengingat kembali perang-perang abad ke-20 dan bersikeras bahwa dunia bergantung pada Amerika tetapi "tidak menghargainya", sebuah sikap yang menyoroti pandangan hegemoniknya tentang hubungan internasional.
Pidato Donald Trump di Davos 2026 dapat dilihat sebagai konvergensi beberapa krisis simultan dalam kebijakan luar negeri AS. Krisis dalam hubungan transatlantik, krisis kepercayaan pada kepemimpinan Washington, dan krisis legitimasi bagi tatanan internasional yang mana AS sendiri merupakan arsitek utamanya. Dalam pidato ini, Trump tidak hanya gagal untuk mencoba memperbaiki keretakan tersebut, tetapi justru memperdalamnya dengan bahasa yang merendahkan, mengancam, dan terkadang sarat dengan distorsi sejarah.
Klaim kepemilikan Greenland, bahkan dengan tampaknya meninggalkan opsi militer, mencerminkan pandangan imperialis dan transaksional tentang hubungan internasional. Pandangan di mana kedaulatan nasional, aturan hukum internasional, dan struktur multilateral memiliki tempat sekunder. Dengan membuat klaim ini dan secara implisit mengancam pihak oposisi, Trump mengirimkan pesan yang jelas kepada sekutu Eropa, keamanan dan kemitraan adalah hak istimewa yang bergantung pada kepatuhan politik, bukan kewajiban timbal balik.
Di sisi lain, serangan verbal Trump terhadap Eropa, migran, lembaga internasional, dan bahkan sekutu tradisional AS telah menampilkan gambaran kepemimpinan yang lebih mengandalkan konfrontasi, penghinaan, dan tekanan daripada pembangunan konsensus. Pendekatan ini tidak hanya merusak nilai-nilai multilateralisme dan saling menghormati yang diklaim Barat, tetapi juga menciptakan kondisi untuk meningkatnya ketidakpercayaan dan perbedaan pendapat di antara sekutu AS.
Reaksi dingin dan terkadang terkejut dari mereka yang hadir di Davos, kepergian awal beberapa peserta, dan keheningan yang mencekam di aula semuanya merupakan tanda-tanda jurang yang dalam antara narasi Trump tentang dunia dan realitas kompleks tatanan internasional saat ini. Dunia yang tidak lagi bersedia menerima peran sebagai bawahan dari kekuatan dominan, bahkan jika kekuatan itu adalah AS.
Singkatnya, Davos 2026 telah menjadi panggung bagi krisis kepemimpinan AS di bawah Trump, alih-alih platform untuk dialog dan kerja sama global.
Pidato yang seharusnya menunjukkan kekuatan dan ketegasan justru memperdalam kekhawatiran tentang masa depan persatuan Barat dan stabilitas tatanan internasional, serta menimbulkan pertanyaan apakah Amerika, di bawah Trump, masih mampu atau bersedia memainkan peran sebagai aktor yang bertanggung jawab di dunia.(sl)