Kejahatan Perang Inggris di Afrika: Perang Boer dan Aib Sejarah Kolonial
https://parstoday.ir/id/news/world-i184870-kejahatan_perang_inggris_di_afrika_perang_boer_dan_aib_sejarah_kolonial
Pada dekade terakhir abad ke-19, salah satu bab tergelap dalam sejarah kolonialisme Barat di benua Afrika tercatat. Perang Boer di Afrika Selatan, yang berlangsung dari 1899 hingga 1902, tidak hanya menjadi saksi ketahanan keras suatu bangsa untuk mempertahankan kemerdekaannya, tetapi juga, karena kekejaman brutal Inggris dan kejahatan perang yang mengerikan, menjadi salah satu bab yang paling pahit dan tak terlupakan dalam sejarah kolonialisme.
(last modified 2026-02-01T09:45:36+00:00 )
Feb 01, 2026 16:41 Asia/Jakarta
  • Kejahatan Perang Inggris di Afrika: Perang Boer dan Aib Sejarah Kolonial

Pada dekade terakhir abad ke-19, salah satu bab tergelap dalam sejarah kolonialisme Barat di benua Afrika tercatat. Perang Boer di Afrika Selatan, yang berlangsung dari 1899 hingga 1902, tidak hanya menjadi saksi ketahanan keras suatu bangsa untuk mempertahankan kemerdekaannya, tetapi juga, karena kekejaman brutal Inggris dan kejahatan perang yang mengerikan, menjadi salah satu bab yang paling pahit dan tak terlupakan dalam sejarah kolonialisme.

Sejarah Afrika, terutama pada periode ketika para kolonialis dari kekuatan Eropa seperti Inggris, Prancis, Portugal, Belanda, dan Belgia menembus berbagai wilayah Afrika, selalu disertai dengan kekerasan, eksploitasi, dan kebrutalan.

Para kolonialis Barat berusaha dengan segala cara untuk memanfaatkan sumber daya alam dan manusia di benua Afrika. Dalam proses ini, mereka tidak hanya mengabaikan hak-hak asasi penduduk asli, tetapi juga menjadikan mereka alat untuk eksploitasi brutal dan pemanfaatan yang kejam.

Dalam konteks ini, perlakuan para kolonialis terhadap Boer, kelompok kulit putih Afrika Selatan yang sebagian besar terdiri dari imigran Belanda, Jerman, dan Huguenot Prancis pada abad ke-17 hingga ke-19, menunjukkan kedalaman kebrutalan dan eksploitasi sistematis oleh Kekaisaran Inggris. Kata “Boer” dalam bahasa Afrikaans berarti petani, dan merujuk pada gaya hidup kelompok ini yang lebih menekankan pertanian dan komunitas pedesaan. Kelompok ini pertama kali memasuki wilayah Tanjung Harapan (Cape of Good Hope) pada tahun 1652 dan menetap di bawah pengawasan Dutch East India Company.

Seiring waktu, para Boer membentuk masyarakat mandiri dan mengembangkan bahasa serta budaya Afrikaans. Banyak dari mereka pada dekade 1830 hingga 1850 melakukan Great Trek (Perjalanan Besar), bermigrasi ke wilayah lebih jauh di Afrika Selatan dengan tujuan mendirikan republik-republik independen Boer seperti Transvaal dan Orange Free State. Tindakan ini merupakan upaya mereka untuk mempertahankan kemerdekaan dan mencegah pengaruh Inggris.

Pada masa Perang Boer Kedua (1899-1902), yang dimulai beberapa saat setelah Perang Boer Pertama, para Boer bertempur sengit melawan tentara Inggris. Perang ini dipicu oleh upaya Inggris untuk merebut sepenuhnya sumber daya alam dan wilayah Boer. Dalam konflik ini, Boer menggunakan taktik perang asimetris, tetapi akhirnya menghadapi kekejaman dan kekerasan brutal Inggris, termasuk kamp konsentrasi, pembantaian, dan penyiksaan, yang memberikan tekanan besar pada rakyat Boer.

Selama perang, tentara Inggris menggunakan metode-metode yang jelas tergolong kejahatan perang. Salah satu yang paling terkenal dan kejam adalah penggunaan kamp konsentrasi untuk menahan orang-orang Boer dan penduduk asli Afrika. Kamp-kamp ini diperluas terutama ketika perlawanan Boer semakin meningkat. Wanita, anak-anak, dan warga sipil Boer dipindahkan ke kamp ini untuk dijadikan alat tekanan terhadap pasukan Boer. Kondisi kehidupan di kamp-kamp ini sangat berat dan tidak manusiawi: kelaparan, penyakit menular seperti tifus dan demam kuning, serta ruang yang sangat terbatas menyebabkan lebih dari 26 ribu wanita dan anak Boer serta lebih dari 20 ribu warga Afrika meninggal dunia.

Di beberapa wilayah perang, tentara Inggris juga melakukan penyiksaan dan pembantaian massal terhadap pejuang maupun warga sipil Boer. Salah satu metode umum yang digunakan Inggris untuk menghancurkan semangat juang Boer adalah eksekusi massal. Di berbagai wilayah, orang-orang yang masih berperang sering dihukum mati di tempat umum tanpa pengadilan yang adil. Taktik kejam lain yang digunakan Inggris adalah politik bumi hangus. Pasukan Inggris sengaja menghancurkan rumah, pertanian, dan sumber daya alam Boer untuk memaksa mereka menyerah. Kebijakan ini membuat banyak Boer terpaksa meninggalkan rumah mereka untuk bertahan hidup dan tetap melanjutkan perlawanan.

Motivasi Inggris dalam perang ini, selain dominasi politik dan ekonomi, juga dipicu oleh kepentingan kolonial dan strategis. Dengan sumber daya alam Afrika Selatan yang kaya, terutama tambang emas dan berlian, Inggris berusaha menguasai sumber daya tersebut sepenuhnya. Selain itu, ketakutan terhadap kekuatan rival seperti Jerman, yang sedang memperluas kekaisarannya di Afrika, menjadi motivasi tambahan bagi Inggris untuk mendominasi wilayah ini. Akhirnya, metode penindasan Inggris membuat para Boer menyerah dalam perjuangan ini.

Setelah perang berakhir, rakyat Boer, meskipun secara sementara bergabung dengan Kekaisaran Inggris, melakukan itu dengan ketidakpuasan yang mendalam. Kebijakan Inggris pasca-perang tidak hanya berdampak pada rakyat Boer, tetapi juga pada populasi asli Afrika, yang efeknya bertahan dekade demi dekade setelah perang.

Perang Boer merupakan salah satu contoh nyata kejahatan perang, di mana kekaisaran kolonial menggunakan segala cara untuk menguasai wilayah jajahannya. Kejahatan seperti kamp konsentrasi, penyiksaan dan pembantaian, politik bumi hangus, dan tindakan brutal lainnya menunjukkan semangat kolonialis yang mengabaikan martabat manusia dan hanya mengejar kepentingan politik serta ekonomi. Perang ini, selain menimbulkan penderitaan besar bagi rakyat Boer dan Afrika Selatan, juga menjadi salah satu titik gelap dalam sejarah kolonialisme dan perang dunia, dan tetap tercatat sebagai noda memalukan dalam sejarah kolonialisme Inggris.(PH)