ECFR: AS Serang, Iran Bakal Ungkap Kekuatan Tersembunyinya
https://parstoday.ir/id/news/world-i184846-ecfr_as_serang_iran_bakal_ungkap_kekuatan_tersembunyinya
Pars Today - Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri (ECFR) telah memperingatkan dalam sebuah laporan tentang kemungkinan konsekuensi intervensi militer Amerika Serikat di Iran.
(last modified 2026-02-01T03:57:30+00:00 )
Feb 01, 2026 10:44 Asia/Jakarta
  • Rudal Iran
    Rudal Iran

Pars Today - Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri (ECFR) telah memperingatkan dalam sebuah laporan tentang kemungkinan konsekuensi intervensi militer Amerika Serikat di Iran.

Lembaga Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri telah memperingatkan dalam sebuah laporan tentang kemungkinan konsekuensi intervensi militer AS di Iran dan menyerukan kepada negara-negara Eropa untuk mencegah aksi militer Washington dengan bekerja sama dengan mitra regional mereka.

Lembaga pemikir ini menulis bahwa presiden AS sejak tahun 1979 selalu menghadapi pertanyaan apakah Republik Islam Iran dapat digulingkan dengan kekuatan militer atau tidak?

Setelah kerusuhan baru-baru ini di Iran, Donald Trump mengklaim bahwa "bantuan sedang dalam perjalanan", tetapi tujuan utamanya tetap tidak jelas. Sejak protes dimulai pada akhir Desember 2025, Trump telah berulang kali mengancam Iran secara militer sambil tetap membuka kemungkinan diplomasi. Dalam beberapa hari terakhir, pesawat tempur dan kapal Amerika juga telah memasuki wilayah Asia Barat.

Lembaga kajian ini mengutip pengalaman Afghanistan, Irak, Libya, dan Suriah, lalu menekankan bahwa Amerika Serikat dan Eropa harus realistis tentang batasan pengaruh Barat dan bahaya perang jangka panjang dengan Iran. Salah satu kekhawatiran utama adalah "konsekuensi yang tidak diinginkan".

Jika Amerika Serikat melancarkan serangan skala besar dengan kemungkinan tujuan perubahan rezim, Tehran dapat meningkatkan biaya politik tindakan ini bagi Trump dengan menargetkan pasukan Amerika di wilayah itu. Militer Iran juga memiliki kemampuan untuk menyerang fasilitas minyak di wilayah tersebut dan mengganggu pengiriman di Selat Hormuz, tindakan yang dapat meningkatkan harga energi dan barang global secara tajam. Iran juga mampu mengaktifkan jaringan sekutu regionalnya untuk serangan terkoordinasi terhadap sekutu AS, termasuk Israel.

Laporan Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri (ECFR) menyatakan bahwa Iran tidak menggunakan alat-alat ini dalam perang 12 Juni 2025, tetapi jika Iran menghadapi ancaman eksistensial, kemungkinan besar akan menggunakan semua kemampuannya. Lembaga kajian ini menulis bahwa meskipun Iran menderita kerusakan akibat konflik regional, kecil kemungkinan Trump akan mampu mencapai "pukulan telak" yang diinginkannya.

Lembaga ini memperingatkan bahwa intervensi militer AS dalam situasi serupa selama dua dekade terakhir biasanya menyebabkan pertumpahan darah, ketidakstabilan, dan pelemahan ekonomi. Contoh seperti Libya dan Suriah dikutip, di mana intervensi asing menyebabkan disintegrasi dan gelombang migrasi massal ke Eropa.

Laporan ini menekankan bahwa kemungkinan perang di Iran akan jauh lebih sulit. Terlepas dari kerusakan yang disebabkan oleh Perang 12 Hari, aparat militer Iran tetap koheren, dan sebagian dari lembaga keamanan menganggap upaya untuk mengubah rezim dengan dukungan asing sebagai "perang suci".

Ukuran Iran yang sangat besar dan populasinya yang lebih dari 90 juta jiwa juga menjadikannya negara yang berisiko tinggi mengalami keruntuhan, dan AS atau NATO akan menghadapi tantangan yang jauh lebih besar untuk mewujudkan perubahan rezim di Iran daripada di Irak atau Libya.

Terlepas dari ketegangan itu, laporan tersebut menyimpulkan, negara-negara Arab di kawasan itu dan Turki telah memberikan peringatan keras terhadap intervensi militer AS di Iran. Lembaga kajian ini juga berpendapat bahwa gagasan tentang versi serupa dari Perang 12 Hari dengan serangan yang ditargetkan pada fasilitas militer Iran adalah "menipu".

Trump membom program nuklir Iran pada Juni 2025, di bawah pengaruh Israel, dan sekarang menghadapi seruan yang semakin meningkat untuk menyerang dengan dalih hak asasi manusia, sebuah proses yang dapat membawanya ke dalam siklus konflik militer tanpa akhir dengan Iran.(sl)