Pakar Israel: Jangan Main-Main, Kekuatan Rudal Iran Serius
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i184542-pakar_israel_jangan_main_main_kekuatan_rudal_iran_serius
Pars Today - Pejabat dan analis rezim Zionis Israel memperingatkan tentang konsekuensi dari konflik apa pun dengan Iran, dan menekankan bahwa kekuatan rudal dan kemampuan militer Tehran merupakan tantangan serius bagi Tel Aviv dan bahwa jangan terlalu melebih-lebihkan kekuatan Israel.
(last modified 2026-01-24T09:48:34+00:00 )
Jan 24, 2026 19:33 Asia/Jakarta
  • Kekuatan rudal Iran
    Kekuatan rudal Iran

Pars Today - Pejabat dan analis rezim Zionis Israel memperingatkan tentang konsekuensi dari konflik apa pun dengan Iran, dan menekankan bahwa kekuatan rudal dan kemampuan militer Tehran merupakan tantangan serius bagi Tel Aviv dan bahwa jangan terlalu melebih-lebihkan kekuatan Israel.

Mantan Perdana Menteri Israel mengkritik pernyataan perdana menteri saat ini tentang Iran dan mengatakan bahwa pernyataan berlebihan Netanyahu tidak menambah apa pun pada keamanan Israel.

Menurut laporan Tasnim, mantan Perdana Menteri Israel Ehud Olmert menekankan bahwa pernyataan-pernyataan ini hanya menciptakan ekspektasi dan menyebabkan kekhawatiran di kalangan masyarakat.

Menyatakan bahwa Israel tidak akan melancarkan serangan pendahuluan terhadap Iran, Olmert menambahkan bahwa kemampuan Israel tidak boleh dibesar-besarkan dan tidak boleh dianggap bahwa rezim ini dapat menggoyahkan Iran.

Ia mengatakan bahwa bahkan Amerika Serikat pun ragu-ragu dalam hal ini. Karena serangan terhadap Iran akan memperumit situasi domestik di Amerika Serikat. Menurutnya, biaya menyerang Iran "sangat besar" dan tidak perlu bagi masyarakat Israel untuk memasuki "keadaan panik yang tidak perlu".

Ia mengkritik suasana yang tercipta di dalam Israel, dan mengatakan bahwa fokus terus-menerus pada kemungkinan serangan Iran telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat dan bahwa pernyataan Netanyahu telah menimbulkan ketakutan yang tidak beralasan di masyarakat. Olmert juga menggambarkan koalisi yang berkuasa sebagai "kelompok boneka".

Dalam bagian lain dari reaksinya, Avigdor Lieberman, mantan Menteri Perang Israel mengatakan bahwa Iran sekali lagi telah menunjukkan kedalaman ancamannya dengan menargetkan sasaran strategis Israel, termasuk serangan terhadap pangkalan Nevatim.

Ia menambahkan, "Hampir tidak mungkin untuk memprediksi kemungkinan sasaran serangan Iran dan mengevakuasinya terlebih dahulu."

Menurut Lieberman, Iran telah meningkatkan kualitas rudal balistiknya setelah Perang 12 Hari dan telah berhasil memproduksi ratusan rudal.

Lieberman mengatakan bahwa apa yang terjadi di Institut Weizmann oleh Iran, di luar semua kerusakan yang mengerikan, menghancurkan semua jenis data dan temuan yang sangat penting serta penelitian selama beberapa dekade. Membandingkan peralatan Iran dan Israel, ia menambahkan, Sebagian besar perang saat ini melibatkan rudal, drone, dan quadcopter, dan Iran memiliki rudal yang dapat bermanuver dengan hulu ledak kluster, termasuk hulu ledak seberat 1.800 kilogram.

Surat kabar Zionis Haaretz juga menulis bahwa jika AS mengambil tindakan, Iran mungkin akan menyerang Israel dengan menembakkan rudal atau memberikan tekanan di perbatasan Lebanon melalui Hizbullah. Harian ini juga mengangkat kemungkinan pasukan Yaman bergabung dalam konflik itu.

Surat kabar Zionis Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa para pejabat intelijen rezim Israel percaya bahwa babak eskalasi saat ini yang menguntungkan Iran telah berakhir dan tidak menimbulkan ancaman langsung bagi rezim Zionis. Namun, dinas intelijen Israel melakukan upaya ekstensif untuk mengumpulkan informasi dari dalam Iran, meskipun pemutusan jalur komunikasi internal Iran telah membatasi keakuratan informasi ini.

Melanjutkan analisis ini, Danny Citrinowicz, mantan pejabat intelijen militer Israel menulis dalam sebuah catatan bahwa sebelum keputusan AS untuk menyerang Iran, beberapa poin harus dipertimbangkan. Menurutnya, Iran telah berhasil mengendalikan protes dan saat ini tidak ada gerakan protes yang berarti, dan serangan militer tidak dapat menimbulkan keresahan internal.

Citrinowicz menulis bahwa serangan udara saja tidak memiliki rekam jejak yang sukses dan tidak ada jaminan kemenangan dengan biaya rendah. Menurutnya, serangan eksternal dapat memobilisasi dukungan publik Iran di sekitar narasi "pertahanan nasional" dan bahwa Iran masih memiliki kemampuan yang signifikan.(sl)