Empat Tahun Perang Ukraina: Ketika Konflik Regional Menjadi Pertarungan Struktural Global
https://parstoday.ir/id/news/world-i185978-empat_tahun_perang_ukraina_ketika_konflik_regional_menjadi_pertarungan_struktural_global
Pars Today - Empat tahun telah berlalu sejak pecahnya perang di Ukraina. Apa yang awalnya dipandang banyak pengamat sebagai krisis regional yang berpotensi cepat mereda, kini telah bertransformasi menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dan kompleks. Lebih dari sekadar konflik bersenjata antara dua negara tetangga, perang ini telah menjadi titik pertemuan pertarungan struktural dalam sistem internasional.
(last modified 2026-02-23T08:20:11+00:00 )
Feb 23, 2026 14:15 Asia/Jakarta
  • Perang Ukraina
    Perang Ukraina

Pars Today - Empat tahun telah berlalu sejak pecahnya perang di Ukraina. Apa yang awalnya dipandang banyak pengamat sebagai krisis regional yang berpotensi cepat mereda, kini telah bertransformasi menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dan kompleks. Lebih dari sekadar konflik bersenjata antara dua negara tetangga, perang ini telah menjadi titik pertemuan pertarungan struktural dalam sistem internasional.

Poros konflik kini tidak lagi hanya berada di medan laga di Donbas atau Krimea, tetapi juga di ruang-ruang kekuasaan global, di mana pengaruh, sumber daya, dan kohesi sosial terkikis secara perlahan namun pasti.

Erosi Kekuatan dan Sumber Daya di Kedua Kubu

Di permukaan, perang ini masih tentang wilayah dan pengaruh. Namun, di balik retorika militer, proses yang lebih mendasar sedang berlangsung: erosi. Baik Rusia maupun Ukraina, bersama dengan pendukung Baratnya, tengah mengalami pengurasan sumber daya yang luar biasa.

Bagi Ukraina, erosi ini paling nyata dalam bentuk korban jiwa, infrastruktur yang hancur, dan jutaan warganya yang terusir. Namun, yang lebih sistemik adalah terkikisnya stok sumber daya manusia dan ekonomi yang diperlukan untuk membangun kembali negara pascakonflik.

Perang Ukraina

Di sisi Rusia, meskipun ekonomi menunjukkan ketahanan terhadap sanksi, erosi terjadi dalam bentuk pengurasan anggaran militer yang masif, isolasi teknologi, dan hilangnya generasi muda dalam skala yang signifikan. Sanksi Barat, meski tidak berhasil melumpuhkan ekonomi Rusia secara instan, telah menciptakan gesekan jangka panjang yang akan mempengaruhi potensi pertumbuhan negara itu selama beberapa dekade.

Sementara itu, negara-negara Barat, khususnya Eropa, juga tidak luput dari erosi ini. Dukungan struktural mereka terhadap Ukraina, dalam bentuk bantuan militer, keuangan, dan kemanusiaan, telah menguras persediaan senjata, memicu inflasi energi, dan memicu ketegangan sosial di dalam negeri. Solidaritas transatlantik yang semula kuat mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan.

Kompleksitas Jalan Menuju Solusi Politik

Fenomena erosi ini secara langsung berdampak pada prospek perdamaian. Semakin lama konflik berlangsung, semakin dalam luka dan semakin tinggi harga yang harus dibayar untuk kompromi. Kedua belah pihak telah menanamkan investasi politik, ekonomi, dan psikologis yang begitu besar sehingga memundurkan langkah dianggap sebagai pengkhianatan.

Upaya mediasi yang dilakukan oleh berbagai pihak, dari Turki hingga Tiongkok dan negara-negara Teluk, belum mampu menjembatani jurang pemisah yang semakin lebar. Akar masalahnya bukan hanya pada perbedaan tuntutan teritorial, tetapi pada ketiadaan kerangka strategis baru untuk keamanan Eropa.

Kerinduan akan Arsitektur Keamanan Eropa yang Baru

Paradoks utama dari perang ini adalah bahwa ia tidak akan berakhir selama tatanan keamanan Eropa pasca-Perang Dingin masih dalam limbo. Selama tidak ada kesepakatan baru tentang peran NATO, batas-batas pengaruh geopolitik, dan jaminan keamanan bersama, Ukraina akan terus menjadi medan pertempuran proksi.

Perang ini pada hakikatnya adalah ekspresi dari kegagalan membangun sistem keamanan inklusif pasca-1991. Rusia merasa dikhianati oleh perluasan NATO ke timur, sementara Barat melihat ekspansi sebagai hak berdaulat negara-negara merdeka. Tanpa rekonsiliasi visi tentang arsitektur keamanan Eropa, konflik ini akan terus berlanjut dalam bentuknya yang paling merusak: perang gesekan.

Kesimpulan: Perang Tanpa Pemenang

Perang Ukraina telah menjadi cerminan dari realitas geopolitik abad ke-21: dunia yang multipolar, tetapi tidak stabil, di mana kekuatan besar saling beradu strategi tanpa aturan yang jelas. Ini bukan lagi perang yang bisa dimenangkan secara militer oleh satu pihak, tetapi perang yang terus berlangsung karena tidak ada pihak yang mampu mendefinisikan ulang tatanan global dengan cara yang dapat diterima semua pihak.

Selama para aktor utama gagal merumuskan kerangka strategis dan berkelanjutan untuk keamanan Eropa, perang ini akan terus berkecamuk dalam mode gesekan dengan biaya yang semakin tak terhitung. Ia adalah perang tanpa pemenang, yang akan terus menguras kekuatan, sumber daya, dan harapan, meninggalkan jejak kehancuran yang akan terasa selama beberapa generasi. Ini bukan hanya perang Ukraina; ini adalah gejala dari pertarungan strategis global di abad ke-21.(sl)