Trump Klaim Kalahkan Inflasi, Data dan Publik Berbeda
https://parstoday.ir/id/news/world-i185196-trump_klaim_kalahkan_inflasi_data_dan_publik_berbeda
ParsToday - Klaim Donald Trump mengenai pengendalian inflasi bertolak belakang dengan peningkatan biaya hidup di Amerika Serikat dan menciptakan kekhawatiran elektoral.
(last modified 2026-02-09T04:22:26+00:00 )
Feb 09, 2026 11:19 Asia/Jakarta
  • Presiden AS Donald Trump
    Presiden AS Donald Trump

ParsToday - Klaim Donald Trump mengenai pengendalian inflasi bertolak belakang dengan peningkatan biaya hidup di Amerika Serikat dan menciptakan kekhawatiran elektoral.

Donald Trump, Presiden Amerika Serikat berulang kali dalam pidato-pidato terkininya mengklaim bahwa pemerintahanannya berhasil mengendalikan inflasi dan menurunkan harga. Namun, data ekonomi dan kondisi pasar menunjukkan bahwa tekanan biaya hidup masih membebani sebagian besar warga Amerika. Kontradiksi antara klaim Presiden dan pengalaman sehari-hari masyarakat ini telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan strategis Partai Republik tentang konsekuensi elektoralnya.

Melaporkan dari IRNA, ParsToday menyebutkan bahwa Trump telah menempatkan dirinya sebagai tokoh utama Partai Republik dalam isu biaya hidup dan berusaha menjadikannya inti pesan kampanyenya. Namun, tinjauan terhadap pidato-pidato terkininya menunjukkan ia berulang kali berbicara tentang "kekalahan inflasi", sementara banyak warga Amerika masih merasakan kenaikan harga dan penurunan daya beli.

Sejak Desember, Trump dalam setidaknya lima pidato terkait ekonomi menyatakan bahwa tingkat inflasi "turun hampir 20 kali lipat" atau "turun drastis", dan mengklaim harga "sedang turun sekitar 30 kali lipat". Pernyataan-pernyataan ini tidak selaras dengan statistik ekonomi resmi dan pengalaman sehari-hari pemilih. Sementara itu, sebagian besar pidato-pidato tersebut justru membahas tema sampingan dan kritik politik.

Beberapa strategis Partai Republik dalam wawancara dengan Reuters memperingatkan bahwa pesan-pesan kontradiktif Trump mengenai isu yang sangat penting bagi pemilih dapat melemahkan kredibilitasnya dan partainya, terutama menjelang Pemilu Pertengahan Masa Jabatan November 2026 di mana partai ini berisiko kehilangan kendali atas Kongres. Hasil jajak pendapat juga menunjukkan ketidakpuasan yang meluas di kalangan warga terhadap pengelolaan ekonomi oleh pemerintahan saat ini.

Selain itu, keragaman topik dalam pidato Trump telah menimbulkan kekhawatiran di antara para penasihat politiknya. Dalam pidatonya tanggal 27 Januari di Negara Bagian Iowa, Trump menyatakan, "Inflasi telah terhenti, pendapatan meningkat, dan harga menurun". Secara keseluruhan, ia hanya dua kali mengakui bahwa harga masih tinggi, dan menyalahkan kondisi tersebut pada pemerintahan sebelumnya.

Dalam pidato tanggal 9 Desember di Pennsylvania, Trump juga menyalahkan Partai Demokrat atas kenaikan harga dan menyatakan tren harga sekarang sedang menurun. Dalam pidato yang sama, ia mendeskripsikan frasa "daya beli" sebagai "tipuan Demokrat", tapi setelah reaksi publik, ia menghindari mengulangi istilah tersebut dalam pernyataan-pernyataan selanjutnya.

Analisis Reuters menunjukkan bahwa Trump dalam beberapa pidato seringkali mengalihkan topik pembahasan secara tiba-tiba ketika membahas masalah ekonomi. Doug Heye, seorang strategis Partai Republik, menyatakan bahwa pemilih mengharapkan Presiden memberikan rencana yang jelas untuk mengurangi biaya hidup, namun banyaknya retorika politik telah menyebabkan pesan-pesan ekonominya tidak melekat dalam ingatan audiens.

Meskipun terjadi penurunan relatif tingkat inflasi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, para ekonom menekankan bahwa penurunan tingkat inflasi tidak berarti barang-barang menjadi lebih murah, melainkan hanya menunjukkan bahwa laju kenaikan harga telah melambat. Walaupun Trump dalam beberapa pidato menyebutkan penurunan harga beberapa barang seperti telur dan bensin, biaya satu keranjang belanjaan rata-rata justru telah meningkat.

Trump menyebutkan pengurangan pajak sebagai salah satu solusinya untuk memperbaiki kondisi kehidupan, sebuah rencana yang telah dilaksanakan sejak bulan lalu dan menurut pemerintah dapat membantu puluhan juta rumah tangga. Namun, beberapa ekonom meyakini bahwa kebijakan-kebijakan ini tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap biaya hidup dalam jangka pendek.(sl)