Pembantaian No Gun Ri di Perang Korea
https://parstoday.ir/id/news/world-i185228-pembantaian_no_gun_ri_di_perang_korea
ParsToday - Pembantaian No Gun Ri oleh pasukan militer Amerika Serikat merupakan salah satu peristiwa kelam dalam Perang Korea.
(last modified 2026-02-10T09:41:40+00:00 )
Feb 09, 2026 15:47 Asia/Jakarta
  • Tempat pembantaian Non Gun Ri
    Tempat pembantaian Non Gun Ri

ParsToday - Pembantaian No Gun Ri oleh pasukan militer Amerika Serikat merupakan salah satu peristiwa kelam dalam Perang Korea.

Pembantaian No Gun Ri merupakan salah satu peristiwa tragis dalam Perang Korea yang terjadi pada tanggal 26 hingga 29 Juli 1950. Dalam insiden ini, pasukan Angkatan Darat Amerika Serikat (unit-unit dari Divisi Kavaleri ke-1) menembaki ratusan pengungsi sipil Korea di dekat desa No Gun Ri di bagian tengah Korea Selatan dengan pesawat udara dan senjata darat.

Peristiwa ini selama beberapa dekade diselimuti keheningan dan penyangkalan, hingga investigasi oleh Associated Press pada tahun 1999 mengungkap fakta-fakta tersembunyinya.

Rekonstruksi adegan pembunuhan Noh Gun Ri dalam film Korea tahun 2009.

Rincian Tragedi

Latar belakang historis pembantaian ini kembali ke awal Perang Korea. Hanya satu bulan setelah dimulainya invasi pasukan Korea Utara ke Selatan, pasukan Amerika dan sekutunya sedang melakukan penarikan mundur ke arah selatan. Dalam kekacauan ini, ribuan warga sipil Korea juga memadati jalan-jalan untuk menghindari konflik, bergerak menuju area yang lebih aman.

Dalam kondisi seperti ini, komando militer Amerika mengklaim bahwa di antara kerumunan pengungsi itu mungkin terdapat tentara musuh yang bersembunyi. Berdasarkan dokumen yang dirilis, instruksi untuk "menembak siapa pun yang mendekati garis pertahanan" telah dikeluarkan. Suasana kecurigaan dan ketakutan ini menciptakan landasan bagi tragedi tersebut.

Peristiwa utama dimulai pada tanggal 26 Juli 1950. Sekelompok besar pengungsi, terutama perempuan, anak-anak, dan orang tua, berkumpul di dekat jembatan beton dan terowongan kereta api di No Gun Ri.

Pertama-tama, pesawat-pesawat Angkatan Udara Amerika menembakkan roket ke arah mereka, mengakibatkan banyak korban tewas dan luka-luka. Para penyintas serangan udara ini berlindung di bawah jembatan dan terowongan. Namun, selama tiga hari berikutnya, tentara dari unit-unit Resimen Kavaleri ke-7 Amerika yang mengambil posisi di ketinggian sekitarnya, secara berkala menembaki warga sipil yang terkepung ini.

Bukti dan kesaksian saksi mata, bahkan beberapa veteran Amerika yang hadir di lokasi, menunjukkan bahwa penembakan ini luas dan disengaja, berlanjut hingga tanggal 29 Juli.

Jumlah Korban

Jumlah korban tewas yang tepat selalu diperdebatkan karena waktu yang telah berlalu dan kurangnya bukti yang solid. Investigasi Associated Press dan laporan-laporan selanjutnya dari pemerintah Korea Selatan memperkirakan jumlah korban tewas sekitar 300 orang.

Berdasarkan investigasi ini, banyak sumber menyebut angka "ratusan warga sipil". Selain korban tewas, jumlah korban luka juga signifikan, dan beberapa penyintas bergumul dengan luka fisik dan psikologis dari peristiwa ini sepanjang hidup mereka.

Pengungkapan Tragedi

Setelah pengungkapan oleh Associated Press pada September 1999, gelombang perhatian internasional dan tekanan internal di Amerika Serikat muncul untuk mengungkap kebenaran. Sebagai tanggapan, Pentagon memulai penyelidikan internal yang luas. Dalam laporan penyelidikan yang diselesaikan pada Januari 2001, meskipun istilah "pembantaian yang disengaja" tidak secara eksplisit digunakan, untuk pertama kalinya dikonfirmasi bahwa "sejumlah besar warga sipil Korea tewas atau terluka di No Gun Ri" dan diakui bahwa pasukan Amerika bertanggung jawab atas korban ini.

Laporan ini juga mengakui bahwa perintah yang ambigu dan kebijakan ketat terhadap pengungsi pada masa itu berperan dalam terjadinya tragedi ini. Peter McCloskey, mantan anggota Kongres AS dan salah satu dari delapan ahli sipil yang bertugas sebagai penasihat laporan ini, mengkritik laporan Angkatan Darat dan menyebutnya sebagai "pembersihan diri".

Tanggapan Formal

Menyusul penyelidikan ini, pemerintah Amerika Serikat pada Oktober 2001 secara resmi menyatakan "penyesalan mendalam" atas peristiwa tersebut. Pemerintah juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan setuju untuk mendirikan sebuah monumen peringatan di lokasi serta memberikan kompensasi untuk "mendukung proyek-proyek perdamaian dan rekonsiliasi".

Namun, banyak penyintas dan aktivis hak asasi manusia menganggap permintaan maaf ini tidak memadai dan menuntut pengadilan bagi pelaku serta permintaan maaf yang lebih resmi dan langsung dari Presiden Amerika Serikat.(sl)