Ekonomi Jepang Terjepit Inflasi dan Tarif Trump
-
Toko di Jepang
ParsToday - Ekonomi Jepang pada tahun 2025 gagal mencapai pertumbuhan yang diproyeksikan sebesar 1,48 persen dan hanya tumbuh 1,1 persen. Peningkatan biaya hidup, tekanan inflasi, dan tarif Amerika terhadap ekspor mobil menjadi hambatan terbesar di jalur pertumbuhan ekonomi negara ini, sementara konsumsi pribadi sedikit membaik berkat permintaan ponsel dan perumahan.
Melaporkan dari kantor berita Kyodo, IRNA pada Senin, 16 Februari 2026, memberitakan data pemerintah menunjukkan produk domestik bruto riil Jepang untuk tahun 2025 mencapai 590,68 triliun yen atau setara 3,8 triliun dolar AS.
Ekonomi Jepang dalam dua bulan terakhir tahun lalu mencatat pertumbuhan tahunan riil 0,2 persen, pertumbuhan pertama dalam dua kuartal terakhir, karena pengeluaran pribadi meningkat meskipun ada inflasi, sementara ekspor menurun setelah penerapan tarif tambahan Amerika yang mengurangi ekspor mobil.
Kantor Kabinet dalam laporan awal mengumumkan bahwa pada kuartal keempat tahun 2025, PDB yang disesuaikan dengan inflasi meningkat 0,1 persen dibandingkan periode Juli-September.
Menurut pengumuman kantor ini, pada kuartal keempat, pengeluaran pribadi yang mencakup lebih dari separuh ekonomi tumbuh 0,1 persen untuk kuartal ketujuh berturut-turut, didorong oleh permintaan kuat untuk ponsel dan perumahan, meskipun belanja terkait makanan dan mobil menurun selama periode ini.
Takeshi Minami, ekonom utama di Norinchukin Research Institute, mengatakan pertumbuhan konsumsi pada kuartal ini melambat, meskipun perusahaan-perusahaan setelah bernegosiasi dengan serikat pekerja setuju untuk memberikan upah lebih tinggi untuk tahun fiskal 2025.
Ia mengatakan agenda berikutnya berfokus pada apakah upah akan meningkat lebih lanjut pada tahun fiskal mendatang yang dimulai April, dan apakah pengeluaran, terutama terkait makanan dan perjalanan yang tertekan inflasi, akan meningkat.
Minami menambahkan bahwa penting bagi konsumen untuk benar-benar merasakan inflasi menurun agar mereka dapat meningkatkan pengeluaran.
Selama periode laporan, ekspor dari Juli-September menurun 0,3 persen, didorong oleh penurunan ekspor mobil akibat tarif Presiden AS Donald Trump, tetapi penurunan ini lebih landai dibandingkan 1,4 persen pada kuartal sebelumnya.
Seorang pejabat Kantor Kabinet mengatakan tarif yang lebih tinggi tampaknya tidak membayangi ekonomi Jepang yang lebih luas, termasuk pola pikir bisnis dan konsumen, setelah kesepakatan dagang antara Jepang dan Amerika pada pertengahan September.
Pejabat ini mengatakan dampak tarif Amerika, seperti keuntungan produsen mobil, masih ada, tetapi karena implementasi kesepakatan dagang dan ketidakpastian prospek, dampaknya berkurang.
Pejabat ini melanjutkan bahwa ke depan, perkembangan hubungan dagang di luar Jepang dan Amerika, seperti antara Amerika dan Tiongkok atau Uni Eropa, secara tidak langsung dapat mempengaruhi ekonomi Jepang.
Menurut Kantor Kabinet, penurunan belanja pengunjung asing ke Jepang juga berkontribusi pada penurunan ekspor. Belanja mereka dihitung sebagai ekspor dalam data PDB dan menurun 0,3 persen.
Pejabat ini mengatakan investasi bisnis meningkat 0,2 persen dibandingkan kuartal sebelumnya karena permintaan kuat untuk perangkat produksi semikonduktor dan layanan riset dan pengembangan, sementara perusahaan juga membeli lebih banyak perangkat lunak untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja.(sl)