Pejabat AS Benarkan Negaranya kembali Melanggar Pelanggaran Gencatan Senjata di Iran
-
Amerika
Pars Today – Seorang pejabat Amerika mengonfirmasi bahwa negaranya, sekali lagi dalam kelanjutan pelanggaran gencatan senjata, telah melakukan serangan terhadap selatan Iran.
Menurut laporan Kantor Berita Mehr, seorang pejabat Amerika yang tidak ingin namanya diungkapkan mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa militer negaranya telah melakukan serangan baru terhadap sebuah titik di Selat Hormuz.
Pejabat Amerika ini, tanpa menyebutkan ingkar janji negaranya dalam melanggar gencatan senjata dan untuk membenarkan agresi ini, mengklaim bahwa titik yang ditargetkan adalah titik yang merupakan ancaman bagi pasukan Amerika dan pelayaran di Selat Hormuz.
Menurut laporan Mehr, pada Kamis (28/5/2026) dini hari, suara ledakan di kota Bandar Abbas dilaporkan oleh penduduk setempat.
Berdasarkan laporan ini, sifat suara ini tidak diketahui dan belum ada lembaga resmi yang berkomentar tentang penyebab terjadinya suara-suara ini.
Beberapa laporan menunjukkan bahwa pertahanan udara kota Bandar Abbas juga aktif dalam beberapa menit untuk menghadapi target-target musuh.
Ini adalah kedua kalinya rezim Zionis dalam 72 jam terakhir melanggar gencatan senjata dengan Iran.
Washington pada Selasa dini hari juga telah melakukan serangan terhadap Bandar Abbas.
Komando Pusat Angkatan Darat AS di Asia Barat (CENTCOM) pada Selasa dini hari mengonfirmasi bahwa pasukan AS telah melakukan serangkaian serangan di selatan Iran, yang menurut klaim lembaga ini adalah "serangan pertahanan diri."
Jenderal Tim Hawkins, juru bicara CENTCOM, dalam sebuah pernyataan mengklaim: "Pasukan AS hari ini (Selasa) melakukan serangan pertahanan di selatan Iran untuk melindungi pasukan kami dari ancaman yang berasal dari pasukan Iran. Target termasuk lokasi peluncuran rudal dan kapal-kapal Iran yang berusaha memasang ranjau."
Pejabat Amerika ini telah mengatakan bahwa serangan-serangan ini dilakukan di wilayah Bandar Abbas; tempat pangkalan utama angkatan laut Iran berada.
Klaim-klaim yang diajukan ini belum dikonfirmasi oleh pejabat resmi Iran. (MF)