"Tanpa Kesepakatan, Dunia Kehabisan Minyak dalam Sebulan": Pengakuan Jujur Trump di Balik MoU Iran
https://parstoday.ir/id/news/world-i191810-tanpa_kesepakatan_dunia_kehabisan_minyak_dalam_sebulan_pengakuan_jujur_trump_di_balik_mou_iran
Pars Today - Presiden Amerika Serikat, dalam wawancaranya dengan media Amerika Axios, mengakui bahwa ia tidak punya pilihan selain bernegosiasi dengan Iran dan mengakhiri perang.
(last modified 2026-06-20T07:33:38+00:00 )
Jun 20, 2026 14:32 Asia/Jakarta
  • Wawancara Presiden AS Donald Trump
    Wawancara Presiden AS Donald Trump

Pars Today - Presiden Amerika Serikat, dalam wawancaranya dengan media Amerika Axios, mengakui bahwa ia tidak punya pilihan selain bernegosiasi dengan Iran dan mengakhiri perang.

Melansir IRNA, 20 Juni 2026, Pars Today melaporkan bahwa Donald Trump, Presiden AS, dalam wawancaranya dengan Axios, sekali lagi merujuk pada kekhawatirannya tentang kekurangan cadangan minyak dunia jika perang melawan Iran terus berlanjut. Ia mengatakan, "Jika kami terus membom Iran, kami sekarang akan menyaksikan penutupan total Selat Hormuz".

Trump melanjutkan, "Seluruh selat akan ditaburi ranjau, dan rudal-rudal akan terbang di atas kapal-kapal senilai miliaran dolar, kapal-kapal yang tidak akan pernah berani berlayar lagi, dan kami tidak akan memiliki minyak selama berbulan-bulan".

Menanggapi para kritikus Amerika yang berpendapat bahwa ia seharusnya bersikap lebih keras terhadap Iran dan melanjutkan perang, ia mengatakan, "Satu-satunya cara saya bisa lebih keras adalah jika saya pergi ke sana selama dua atau tiga minggu lagi dan terus membom mereka habis-habisan, bukan? Namun apa hasilnya? Selat Hormuz tidak akan terbuka".

Presiden AS menambahkan, "Kami tidak akan memiliki minyak selama berbulan-bulan. Selama Anda menjatuhkan bom, selat itu secara otomatis tetap tertutup, dan itulah yang dapat menyebabkan depresi global".

Data terkait cadangan minyak AS menunjukkan bahwa ancaman krisis minyak masih membayangi negara tersebut. Cadangan minyak mentah di pusat penyimpanan komersial terbesar AS, Cushing, Oklahoma, yang menjadi penentu harga minyak AS, telah turun menjadi 20 juta barel, level terendah dalam 11 tahun terakhir.

Cadangan minyak strategis (Strategic Petroleum Reserve), yang dibentuk untuk mengelola pasokan minyak global, juga telah turun ke level terendah dalam sejarah, yaitu 340 juta barel.

Ini adalah pengakuan paling jujur dari Trump tentang mengapa ia menyetujui MoU dengan Iran, sebuah pengakuan yang sekaligus meruntuhkan narasi "kemenangan" yang ia bangun sendiri.

1. Dilema Trump: "Bom atau Minyak?"

Dengan mengatakan bahwa "satu-satunya cara lebih keras adalah mengebom lebih lama," Trump mengakui bahwa kekuatan militer AS memiliki batasnya sendiri. Dalam kasus ini, batasnya adalah ekonomi global. Ia lebih memilih berdamai daripada melihat depresi global dan kehabisan minyak—sebuah pilihan pragmatis, tetapi juga merupakan pengakuan bahwa perang ini tidak pernah memiliki "jalan keluar yang mudah".

2. Cadangan Minyak: Titik Rawan yang Hampir Tembus

Data cadangan minyak AS menunjukkan bahwa perang ini telah membawa negara itu ke titik kritis: Cushing berada dalam "tekanan operasional", dan Strategic Petroleum Reserve (SPR) telah mencapai level terendah sejak 1983. Para eksekutif minyak seperti CEO Chevron Mike Wirth memperingatkan bahwa tekanan ini bisa berlanjut hingga Juli-Agustus 2026 jika Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali.

3. Tujuan Awal vs Hasil Akhir: Sebuah Kekalahan Strategis

Trump memasuki perang dengan tuntutan "penyerahan tanpa syarat" dari Iran, tetapi keluar dengan MoU yang terbatas. BBC menyebutnya sebagai "kekalahan strategis" bagi AS, terlepas dari kemenangan taktis yang diraih oleh militer AS. Seperti yang ditulis oleh mantan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken, "Satu-satunya 'prestasi' dari gencatan senjata ini adalah pembukaan kembali Selat Hormuz, yang sebenarnya sudah terbuka sebelum perang. Dan sekarang kita jelas harus membayar Iran untuk itu".

4. "Tidak Ada Batasan"?

Meskipun mengakui keterbatasan ini, Trump bersikukuh bahwa kekuasaannya "tanpa batas". Namun, fakta bahwa ia mengakui dunia hampir kehabisan minyak adalah bukti bahwa kekuasaan selalu memiliki batas dan batas itu sering kali berupa kebutuhan ekonomi yang paling dasar.(Sail)