Mengapa Koalisi Pendukung Trump Berada di Ambang Keruntuhan?
Popularitas Donald Trump dalam jajak pendapat nasional terbaru turun hingga sekitar sepertiga dari jumlah pemilih, tingkat terendah dukungan terhadapnya selama masa jabatan keduanya sebagai presiden. Kondisi ini menjadi peringatan bagi Partai Republik menjelang pemilihan sela Kongres AS.
Apa yang terlihat dalam jajak pendapat di Amerika saat ini bukan sekadar penurunan popularitas seorang presiden. Hasil survei tersebut menunjukkan adanya tanda-tanda terkikisnya koalisi politik yang menjadi sandaran Donald Trump hingga berhasil kembali ke Gedung Putih pada pemilu 2024. Saat itu, banyak analis berbicara tentang terbentuknya sebuah “penataan ulang politik” (political realignment) di Amerika Serikat.
Penataan ulang tersebut diperkirakan akan mengubah Partai Republik dari sebuah partai yang bergantung pada suara pemilih kulit putih konservatif menjadi koalisi yang lebih luas, mencakup kaum muda, warga keturunan Latin, dan sebagian kelas pekerja. Namun, kurang dari dua tahun kemudian, berbagai bukti menunjukkan bahwa pencapaian tersebut lebih merupakan hasil dari kondisi ekonomi sementara dan ketidakpuasan terhadap pemerintahan sebelumnya, bukan perubahan struktural.
Rahasia kemenangan Trump pada 2024 bukan terletak pada popularitas pribadinya, melainkan pada kekecewaan luas para pemilih terhadap inflasi, kenaikan biaya hidup, dan kinerja ekonomi pemerintahan Joe Biden. Jutaan warga Amerika memilih Trump dengan harapan ia dapat mengembalikan stabilitas ekonomi, menurunkan harga energi, dan mengurangi tekanan biaya hidup. Namun kini, indikator-indikator yang sebelumnya membantu kemenangannya justru berubah menjadi faktor utama yang menyebabkan penurunan popularitasnya.
Ekonomi selalu menjadi isu paling menentukan dalam pemilu Amerika. Ketika pemilih merasa daya beli mereka menurun, loyalitas politik terhadap partai juga melemah. Penurunan posisi Partai Republik dalam jajak pendapat terkait kemampuan mengelola ekonomi menjadi penting dilihat dari sudut pandang ini. Untuk pertama kalinya dalam hampir satu dekade, sebagian masyarakat Amerika menilai Demokrat lebih mampu menangani ekonomi dibandingkan Republik. Perubahan ini menunjukkan bahwa keunggulan elektoral utama Trump mulai melemah.
Selain ekonomi, komposisi sosial pendukung Trump juga mengalami perubahan. Kaum muda yang pada 2024 sebagian beralih mendukung Partai Republik karena ketidakpuasan terhadap kondisi ekonomi, kini menjadi kelompok yang paling jauh dari pemerintahan Trump. Perluasan kewenangan eksekutif, kebijakan domestik dan luar negeri yang agresif, serta ketidakpastian mengenai masa depan ekonomi telah menyebabkan kelompok ini kembali menjauh dari Partai Republik.
Tren serupa juga terlihat di kalangan warga keturunan Latin dan sebagian kelompok minoritas lainnya. Kelompok-kelompok ini memainkan peran penting dalam memperluas basis suara Partai Republik pada pemilu sebelumnya, tetapi jajak pendapat terbaru menunjukkan bahwa dukungan mereka terhadap Trump menurun secara signifikan.
Perubahan ini penting karena pada 2024 Partai Republik berhasil mengurangi salah satu keunggulan historis Demokrat, yaitu dominasi relatif dalam meraih suara kelompok minoritas. Jika tren ini berbalik, membangun kembali koalisi tersebut untuk pemilu mendatang akan menjadi jauh lebih sulit.
Dalam perkembangan ini, kebijakan luar negeri juga menjadi faktor yang memengaruhi opini publik. Meningkatnya biaya akibat konflik militer Amerika dengan Iran, kenaikan harga energi, serta kekhawatiran terhadap meluasnya krisis internasional membuat sebagian pemilih mulai meragukan keputusan Gedung Putih. Pengalaman politik Amerika menunjukkan bahwa ketika perang luar negeri secara langsung berdampak pada ekonomi rumah tangga, biaya politiknya biasanya ditanggung oleh presiden yang sedang berkuasa. Pola ini telah berulang sejak Perang Vietnam hingga Perang Irak.
Respons Trump terhadap jajak pendapat tersebut juga menunjukkan betapa sensitifnya situasi ini. Seperti sebelumnya, ia menyebut hasil survei sebagai “palsu” dan menuduh media melakukan manipulasi opini publik. Namun kenyataannya, ketika berbagai lembaga survei kredibel dengan metode berbeda menghasilkan kesimpulan yang serupa, sulit untuk menganggap semuanya sebagai operasi media. Yang penting adalah adanya kesamaan hasil dari berbagai survei, yaitu menunjukkan menurunnya kepercayaan publik.
Meski demikian, perkembangan ini tidak berarti kemenangan pasti bagi Partai Demokrat dalam pemilu sela. Struktur pemilu Amerika, persaingan di daerah pemilihan yang terbatas, serta sistem Electoral College tetap membuka kemungkinan kejutan. Namun, pengalaman sejarah menunjukkan bahwa presiden yang memasuki pemilu sela dengan tingkat popularitas mendekati sepertiga pemilih biasanya kehilangan sejumlah besar kursi bagi partainya.
Karena itu, persoalan utama bukan hanya penurunan beberapa persen popularitas Trump. Yang mengalami erosi adalah modal politik dari koalisi yang oleh Partai Republik dianggap sebagai awal era baru dalam politik Amerika. Jika kaum muda, kelompok minoritas, dan kelas pekerja kembali menjauh dari partai tersebut, narasi tentang “penataan ulang besar politik Amerika” akan digantikan oleh narasi lain: bahwa kemenangan 2024 bukanlah awal dari tatanan baru, melainkan hanya reaksi sementara terhadap krisis ekonomi pada masa sebelumnya. Sebuah reaksi yang kini, di bawah tekanan realitas ekonomi dan politik, mulai runtuh dengan cepat.