Penghapusan Kontroversial Program Studi Kulit Hitam di Universitas AS
-
Mahasiswa AS
Pars Today - Program-program yang berkaitan dengan studi kulit hitam di universitas-universitas AS menghadapi gelombang pengurangan, penggabungan, dan penghapusan. Tren ini secara lahiriah dibenarkan dengan alasan seperti penurunan jumlah mahasiswa dan masalah keuangan, tetapi para kritikus meyakini tekanan politik dan perubahan kebijakan pemerintahan Trump juga memainkan peran penting.
Melaporkan ISNA dari Washington Post, Kamis, 27 Agustus 2026, University of Iowa, University of Texas di Austin, dan University of Kansas adalah beberapa universitas yang telah menutup atau menggabungkan unit studi Afrika-Amerika mereka. Di universitas seperti Kennesaw State, Toledo, dan Indiana di Bloomington, beberapa program dan gelar terkait juga telah dihapus atau proses penghapusannya telah dimulai.
Namun, satu bagian penting dari cerita ini berkaitan dengan ekonomi universitas. Jumlah mahasiswa dalam program ini telah menurun dalam beberapa tahun terakhir, membuat mereka rentan terhadap program pemotongan biaya. Berdasarkan data federal hingga tahun 2025, untuk tahun ketiga berturut-turut, jumlah gelar yang diberikan dalam studi Afrika-Amerika di AS kurang dari 700, level terendah dalam dua dekade terakhir.
University of North Texas adalah contoh dari tekanan finansial ini. Universitas ini menghadapi defisit anggaran sebesar 45 juta dolar dan, untuk mengurangi biaya, telah menutup atau menggabungkan daftar program dengan sedikit mahasiswa. Di beberapa negara bagian, undang-undang baru juga mewajibkan universitas untuk meninjau program-program yang menghasilkan sedikit lulusan.
Namun, para kritikus berpendapat bahwa situasi ini tidak hanya soal anggaran dan jumlah mahasiswa. Bersamaan dengan perkembangan ini, beberapa negara bagian telah mengesahkan undang-undang baru untuk membatasi pengajaran topik-topik yang berkaitan dengan ras, gender, dan identitas. Di Texas, universitas-universitas juga berada di bawah tekanan kebijakan baru, dan beberapa kursus terkait ras telah dihapus dari kurikulum.
Di tingkat federal, pemerintahan Trump juga telah memberikan tekanan luas sejak tahun 2025. Jafari Sinclaire Allen, direktur Institut Penelitian Studi Afrika-Amerika di Columbia University, mengatakan bahwa "politik adalah mesinnya, bukan sekadar faktor". Sebuah surat dari Departemen Pendidikan AS pada Februari 2025 memperluas penerapan keputusan Mahkamah Agung tentang affirmative action, yang berpotensi menjadikan program-program seperti wisuda khusus berdasarkan ras atau pendanaan untuk konferensi mahasiswa minoritas sebagai ilegal.
Para profesor studi kulit hitam percaya bahwa kondisi ini dapat memiliki konsekuensi yang melampaui penghapusan beberapa program universitas. Menurut mereka, program-program semacam itu bukan hanya tempat untuk mengajar beberapa mata kuliah. Mereka adalah bagian dari jalur untuk melatih peneliti dan menghasilkan studi sejarah dan sosial tentang ras dan masyarakat Amerika.
Menurut para analis, apa yang terjadi di universitas-universitas AS adalah kombinasi dari krisis keuangan, penurunan pendaftaran, dan tekanan politik, sebuah kombinasi yang telah membuat masa depan studi kulit hitam di banyak universitas menjadi tidak pasti.
"Laporan ini mengkaji tren penghapusan atau penggabungan program studi kulit hitam di perguruan tinggi AS. Faktor-faktor yang disebutkan antara lain:
Penurunan Minat dan Masalah Anggaran: Jumlah mahasiswa dan lulusan program ini menurun drastis, menjadikannya sasaran empuk pemotongan anggaran di tengah krisis finansial universitas. University of Iowa, misalnya, hanya memiliki 9 mahasiswa di program sarjana studinya sebelum ditutup.
Tekanan Politik: Selain alasan ekonomi, para kritikus menyoroti peran kebijakan pemerintahan Trump dan undang-undang negara bagian yang membatasi pengajaran tentang ras dan identitas. Hal ini menciptakan iklim yang tidak bersahabat bagi program-program tersebut.
Dampak Jangka Panjang: Kekhawatiran muncul bahwa penghapusan ini akan merusak jalur pendidikan bagi calon peneliti dan membatasi produksi pengetahuan kritis tentang sejarah dan masyarakat kulit hitam di AS."(Sail)