Studi: Kepadatan Tulang Rendah Terkait Penurunan Kognitif dan Perubahan Otak
-
Kepadatan tulang
Pars Today - Penelitian baru menunjukkan bahwa orang yang kepadatan mineral tulangnya lebih rendah di tulang belakang, mungkin mengalami penurunan kognitif lebih cepat dan perubahan lebih banyak pada materi putih otak. Temuan ini menunjukkan kemungkinan kaitan antara kesehatan tulang dan kesehatan otak.
Melansir IRNA, Sabtu, 03 Oktober 2026, situs TechDaily dalam sebuah laporan menulis:
CT scan rutin dada mungkin menyimpan informasi yang melampaui kesehatan tulang. Penelitian baru menunjukkan scan yang diambil untuk memeriksa dada, dapat mengungkap petunjuk tentang proses penuaan otak juga.
Peneliti Universitas Johns Hopkins menemukan orang yang kepadatan mineral tulangnya lebih rendah di tulang belakang, seiring waktu mengalami penurunan kognitif lebih cepat dan perubahan lebih banyak pada materi putih otak. Temuan ini yang diterbitkan di jurnal Radiology, menunjukkan kemungkinan kaitan antara kesehatan tulang dan perubahan otak terkait usia.
Kepadatan mineral tulang menunjukkan berapa banyak mineral, termasuk kalsium, yang terkumpul dalam volume tertentu tulang. Dengan penurunan kepadatan ini, tulang menjadi lebih rapuh. Meskipun kehilangan tulang adalah bagian yang dikenal dari proses penuaan, kaitannya dengan perubahan otak kurang diteliti.
Sekelompok peneliti multidisiplin yang dipimpin oleh Sara Momtazmanesh, dokter dan peneliti pascadoktoral di departemen radiologi Universitas Johns Hopkins, mengkaji kaitan ini dengan menggunakan data studi multietnis aterosklerosis (MESA). Partisipan telah melakukan CT scan dada, MRI otak, dan tes kognitif.
Peneliti menganalisis CT scan 2.086 partisipan dengan algoritma pembelajaran mendalam. Algoritma ini dikembangkan di laboratorium Shadpour Demehri, profesor radiologi. Sistem tersebut mengukur kepadatan volume tulang (vBMD) vertebra toraks. Analisis akhir mencakup 715 partisipan.
Apa yang Ditunjukkan Kepadatan Tulang tentang Otak?
MRI otak diperiksa untuk menilai dua penanda kesehatan materi putih: hiperintensitas materi putih dan keteraturan serabut saraf.
Materi putih mencakup serabut saraf panjang yang membantu bagian-bagian otak yang berjauhan untuk berkomunikasi satu sama lain. Perubahan pada jaringan ini umum terjadi seiring bertambahnya usia, tetapi kelainan yang lebih banyak juga dikaitkan dengan penurunan kognitif dan peningkatan risiko demensia.
Hiperintensitas materi putih pada sebagian gambar MRI terlihat sebagai area terang dan dapat menunjukkan kerusakan pada pembuluh darah kecil otak. Penanda kedua mengukur keteraturan mikroskopis serabut materi putih; semakin rendah keteraturan ini, semakin besar kemungkinan kerusakan.
Kepadatan tulang yang lebih rendah pada awal studi terkait dengan penurunan lebih cepat dalam fungsi kognitif keseluruhan. Partisipan yang memiliki kepadatan volume tulang lebih rendah, memiliki lebih banyak hiperintensitas di corpus callosum. Corpus callosum adalah berkas besar serabut saraf yang menghubungkan dua belahan otak dan berperan dalam fungsi seperti perhatian, memori kerja, dan kontrol eksekutif.
Kepadatan volume tulang yang lebih rendah juga terkait dengan penurunan lebih parah keteraturan serabut materi putih di area bernama kapsul internal; area ini berperan dalam komunikasi antara bagian-bagian penting otak untuk fungsi eksekutif.
Dr. Demehri mengatakan, "Studi ini adalah penelitian pertama yang mengikuti sekelompok orang seiring waktu dan mengaitkan kepadatan tulang dengan perubahan materi putih dan kognisi."
Peneliti menegaskan kaitan ini tidak berarti osteoporosis menyebabkan demensia.
Satu Proses Penuaan, Beberapa Sistem Tubuh
Dr. Demehri mengatakan, "Studi ini bukan tentang sebab dan akibat, melainkan merujuk pada sindrom metabolik yang mungkin mengarah pada baik penurunan tulang maupun penurunan otak. Kesamaan yang diamati kemungkinan menunjukkan faktor penuaan bersama; seperti resistensi insulin, dislipidemia, dan perubahan menopause, bukan efek langsung tulang pada otak."
Kehilangan tulang dan penurunan kognitif biasanya dianggap dua masalah terpisah, tetapi keduanya muncul seiring bertambahnya usia dan mungkin dipengaruhi oleh perubahan metabolik dan vaskular yang lebih luas di seluruh tubuh.
Peneliti mengatakan, "Identifikasi kepadatan volume tulang rendah dapat membantu mendeteksi orang yang mungkin mengalami penurunan tulang dan neurodegenerasi secara bersamaan. Di masa depan, informasi ini dapat membantu skrining lebih awal dan pengelolaan faktor risiko.
Temuan ini juga dapat meningkatkan nilai pencitraan yang sudah dilakukan pasien bagi dokter. CT scan dada dilakukan untuk berbagai alasan medis; artinya informasi kepadatan tulang dapat diekstraksi tanpa perlu scan terpisah.
Dr. Momtazmanesh mengatakan, "CT dada dilakukan untuk berbagai alasan; misalnya untuk memeriksa kanker paru atau memantau massa paru. Dari scan yang sama dapat diukur kepadatan tulang belakang tanpa pekerjaan tambahan; informasi ini terkait dengan penurunan fungsi kognitif."
Dr. Demehri menambahkan, "Citra diagnostik menyimpan data dalam volume besar dan kecerdasan buatan kini dapat memeriksa data ini di beberapa sistem tubuh secara bersamaan. Ini menciptakan peluang baru untuk menghubungkan penyakit bersamaan terkait usia yang selama ini diperiksa secara terpisah."(Sail)