Kerja Sama Strategis Jepang dan Filipina
Presiden Filipina dan perdana menteri Jepang dalam pertemuan di Tokyo menandatangani sejumlah nota kerja sama militer dan ekonomi.
Kerja sama yang disebut Rodrigo Duterte dan Shinzo Abe sebagai strategi regional di bidang keamanan dan maritim ini membuka lembaran baru dalam hubungan Tokyo dan Manila.
Jepang berjanji akan mengucurkan kredit senilai 201 juta dolar kepada Filipina yang akan dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur maritim negara Asia tenggara itu. Oleh karena itu, Duterte pulang ke Manila dengan tangan penuh.
Pasalnya, berdasarkan nota kontrak yang ditandatangani kedua pihak, Jepang akan memberikan dua kapal patroli besar dan sebuah pesawat latihan jenis TC-90 untuk Filipina. Selain itu, Jepang juga berkomitmen untuk membangun infrastruktur pertanian di Filipina.
Tampaknya, kerja sama tersebut akan mengubah arah baru hubungan politik Manila dan Tokyo, mengingat Filipina memiliki sejarah getir imperialisme Jepang yang menancap kuat di benak rakyatnya.
Variabel ekonomi yang meliputi interaksi pelaku ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan transaksi ekonomi menjadi pijakan baru bagi pemerintahan Duterte untuk meningkatkan hubungan dengan Tokyo.
Kebijakan baru Manila merapat ke Jepang dan cenderung menjauhi dominasi tunggal AS sebagai mitra utamanya selama bertahun-tahun menunjukkan arah baru kebijakan luar negeri Duterte.
Sebelum mengunjungi Tokyo, presiden Filipina melawat Cina untuk membahas peningkatan hubungan bilateral dengan pejabat tinggi Beijing.
Bahkan, Manila mengesampingkan vonis Pengadilan internasional Den Haag yang memenangkan gugatan klaim Filipina mengenai sengketa pulau dengan Cina di kawasan Laut Cina Selatan.
Lebih dari itu, Duterte dalam pertemuan dengan sejawatnya dari Cina, Xi Jinping di Beijing menegaskan bahwa Filipina akan memutuskan hubungan militer dengan AS secara bertahap.
Tampaknya Beijing sedang mempertimbangkan usulan Duterte dan keputusan apa yang harus diambil demi kepentingan luar negerinya sendiri.
Tapi, yang menjadi pertanyaan saat ini adalah sepak terjang Duterte yang menegaskan akan memutus hubungan militer AS. Sebab, pada saat yang sama, menteri luar negeri Filipina menilai tindakan tersebut tidak menguntungkan Filipina.
Sebagian analis politik menilai sepak terjang Duterte sebagai tindakan spontan dan kurang matang. Tapi, sebagian lain mamandang Duterte sedang bermain dengan statemennya ini demi memaksa Washington mengubah sikapnya terhadap Manila.
Lawatan Duterte ke Cina dan Jepang sebagai bagian dari puzzle untuk memahami kebijakan zig-zag Duterte terkait AS.