Pesawat AS Bawa Bantuan Makanan dan Senjata untuk Daesh
https://parstoday.ir/id/news/world-i32101-pesawat_as_bawa_bantuan_makanan_dan_senjata_untuk_daesh
Ketua Koalisi Sadiqun yang juga anggota Komisi Keamanan Parlemen Irak mengatakan, Baghdad tidak akan tinggal diam menyaksikan pendaratan pesawat Amerika Serikat di wilayah-wilayah yang diduduki kelompok teroris Daesh.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jan 31, 2017 14:55 Asia/Jakarta
  • Pesawat AS Bawa Bantuan Makanan dan Senjata untuk Daesh

Ketua Koalisi Sadiqun yang juga anggota Komisi Keamanan Parlemen Irak mengatakan, Baghdad tidak akan tinggal diam menyaksikan pendaratan pesawat Amerika Serikat di wilayah-wilayah yang diduduki kelompok teroris Daesh.

IRNA (31/1) melaporkan, Hasan Salim, Ketua Koalisi Sadiqun menuturkan, tugas pesawat militer Amerika yang membawa bantuan makanan dan senjata untuk kelompok teroris Daesh dan mendarat di wilayah Al Jazirah dekat desa Al Salam itu, adalah memindahkan sejumlah anasir teroris dan pimpinan mereka ke lokasi lain.

Hasan Salim menambahkan, Hizbullah Irak merekam seluruh pelanggaran yang dilakukan Amerika terhadap wilayah Irak dan kerja sama Washington dengan para teroris, dan diam dalam masalah ini berarti menginjak-injak darah syuhada.

Selain itu Sattar Al Ghanim, wakil Organisasi Badr di Parlemen Irak juga mengabarkan mendaratnya helikopter Chinook, Amerika di wilayah Al Jazirah dekat Salahuddin yang diduduki Daesh.

Dengan mendukung Daesh, Amerika berusaha memperluas perang di negara-negara Arab dan Islam, dan dalam kerangka ini sampai sekarang pesawat dan helikopter Amerika berulang kali menjatuhkan paket bantuan makanan dan senjata untuk para teroris dari udara.

Di sisi lain, Lukman Faily, mantan Duta Besar Irak untuk Amerika menilai perintah eksekutif Donald Trump, Presiden Amerika yang melarang penerbitan visa untuk warga Irak yang saat ini tengah memerangi terorisme, sebagai sebuah pengkhianatan.

Ia mengatakan, dalam situasi seperti sekarang ini, percaya pada Amerika, tidak logis.

Trump, Jumat lalu menandatangani perintah eksekutif yang melarang masuknya warga tujuh negara Muslim termasuk Irak ke Amerika, minimal untuk jangka waktu 90 hari. (HS)