Pembicaraan Damai Suriah Digelar 20 Februari di Jenewa
Utusan Khusus PBB untuk Urusan Suriah, Staffan de Mistura mengatakan Republik Islam Iran, Rusia dan Turki adalah penjamin gencatan senjata di Suriah.
Gencatan senjata nasional di Suriah dilaksanakan pada 30 Desember 2016 pasca pembebasan kota Aleppo dari pendudukan teroris. Kebijakan ini mengecualikan kelompok teroris Front al-Nusra dan Daesh.
De Mistura mengungkapkan hal itu kepada wartawan seusai menghadiri pertemuan dengan Dewan Keamanan PBB, Selasa (31/1/2017) seperti dikutip kantor berita IRIB.
"Gencatan senjata saat ini di Suriah dibangun atas sebuah kesepakatan yang kuat dan diperkirakan akan terus berlanjut. PBB akan menghadiri pertemuan teknis mendatang terkait mekanisme mendukung gencatan senjata," tambahnya.
Menurutnya, Rusia adalah sebuah negara yang aktif dalam memecahkan krisis Suriah secara politik dan militer.
De Mistura menegaskan bahwa jika delegasi oposisi Suriah tidak terbentuk pada 8 Februari untuk pembicaraan di Jenewa, maka ia akan memilih delegasi berdasarkan resolusi 2254 Dewan Keamanan.
"Kali ini, jika oposisi tidak siap untuk datang dengan sebuah delegasi tunggal, maka saya harus menggunakan hak prerogatif yang diberikan oleh Dewan," ujarnya.
Utusan Khusus PBB ini mengatakan bahwa ia meminta Dewan Keamanan untuk mengadakan pembicaraan damai intra-Suriah di Jenewa pada 20 Februari, bukannya tanggal 8 Februari.
"Kami ingin memberikan kesempatan kepada pemerintah Suriah dan pemberontak untuk terlibat serius dalam pembicaraan," tandasnya. (RM)