AS dan Kebijakan Kontradiktif Terkait Daesh
https://parstoday.ir/id/news/world-i35774-as_dan_kebijakan_kontradiktif_terkait_daesh
Pemerintah Amerika Serikat, 48 jam setelah serangan rudal negara itu ke salah satu pangkalan udara Suriah di Provinsi Homs mengklaim, perang melawan kelompok teroris Daesh merupakan prioritas utama Washington di Suriah.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Apr 09, 2017 10:39 Asia/Jakarta
  • AS dan Kebijakan Kontradiktif Terkait Daesh

Pemerintah Amerika Serikat, 48 jam setelah serangan rudal negara itu ke salah satu pangkalan udara Suriah di Provinsi Homs mengklaim, perang melawan kelompok teroris Daesh merupakan prioritas utama Washington di Suriah.

Rex Tillerson, Menteri Luar Negeri Amerika dalam wawancara dengan stasiun televisi CBS yang disiarkan pada hari Sabtu (8/4) mengatakan, prioritas utama bagi Amerika di Suriah adalah mengalahkan kelompok teroris Daesh bahkan sebelum stabilitas tercipta di negara ini.

Menurut Tillerson, kekalahan Daesh dan kekhalifahan kelompok itu, bukan hanya menyebabkan musnahnya ancaman terhadap Amerika, bahkan bisa membantu mewujudkan stabilitas di seluruh kawasan. Statemen ini disampaikan setelah pasukan Amerika, Jumat (7/4) pagi waktu Asia Barat menyerang pasukan garda terdepan dalam perang melawan Daesh yaitu pasukan pemerintah Suriah.

Militer Suriah sejak enam tahun lalu sibuk berperang melawan kelompok-kelompok teroris termasuk Daesh di negara itu. Presiden Amerika di masa kampanyenya tahun lalu, menyebut Suriah berada di garis depan perang melawan Daesh. Presiden Donald Trump juga mengatakan bahwa Rusia dan Iran lebih serius dari pemerintah Amerika kala itu dalam memerangi Daesh.

Akan tetapi sekarang setelah menduduki kursi kepresidenan Amerika, Trump layaknya presiden sebelumnya, bukannya berperang melawan Daesh, malah memerangi negara-negara anti-Daesh di kawasan. Sejak enam tahun lalu, koalisi yang terdiri dari Suriah, Rusia, Iran, Irak dan Hizbullah, Lebanon aktif memerangi Daesh dan mengeluarkan biaya tidak sedikit untuk membersihkan kawasan dari keberadaan teroris.

Di saat yang sama, Amerika secara langsung maupun tidak, memperkuat kelompok-kelompok teroris termasuk Daesh. Menurut Trump, Hilarry Clinton, mantan Menteri Luar Negeri Amerika di era pemerintahan Barack Obama, telah mengeluarkan perintah pembentukan Daesh dan dengan dukungan politik, dana dan senjata dari Amerika, Daesh didorong untuk merebut kekuasaan di Irak lalu setelah itu Suriah.

Dokumen-dokumen rahasia yang berhasil dibocorkan media-media Amerika menunjukkan, para pejabat dinas intelijen dan keamanan Amerika mengetahui rencana serangan Daesh ke kota Mosul, kota terbesar kedua di Irak, namun tidak melakukan apapun untuk mencegah kota berpenduduk dua juta jiwa itu tidak jatuh ke tangan teroris Daesh.

Di sisi lain, pemerintah lama dan baru Amerika terus mengklaim memerangi Daesh padahal semua tahu beberapa pendukung utama Daesh seperti Arab Saudi, Qatar dan Turki merupakan sekutu asli Amerika. Sekarang ini, sedikit orang yang meragukan bahwa uang para pengeran Saudi dan lembaga-lembaga keuangan negara-negara di Selatan Teluk Persia tidak dialirkan ke Daesh.

Dengan menyelundupkan minyak Irak dan Suriah lewat Turki dan memindahkan pasukan serta amunisi dari negara ini, teroris Daesh berhasil mempertahankan mesin-mesin perangnya. Tidak diragukan tanpa bantuan Saudi dan kerja sama Turki, beberapa ratus teroris yang dikumpulkan dari seluruh penjuru dunia, tidak akan mampu mengontrol wilayah luas di Irak dan Suriah serta membentuk pemerintahan. Seluruh peristiwa ini terjadi di hadapan mata para politisi, aparat keamanan dan diplomat Amerika.

Sekarang, pihak-pihak sama yang dulu melahirkan Daesh, meneriakkan klaim perang melawan kelompok teroris itu dan menekan pihak-pihak asli yang memerangi Daesh. Dengan berlanjutnya kebijakan kontradiktif ini, bahaya mematikan Daesh yang membayangi seluruh masyarakat kawasan Asia Barat dan masyarakat di negara-negara Barat tidak akan hilang, bahkan jika Menlu Amerika secara lisan mengumumkan bahwa prioritas negara ini adalah memerangi Daesh. (HS)