Turki akan Gelar Referendum untuk Bergabung dengan Uni Eropa
Perdana Menteri Turki mengatakan, pemerintah Ankara akan segera menggelar referendum untuk bergabung dengan Uni Eropa.
"Uni Eropa harus menentukan pandangan mereka tentang Turki dan juga mendengar pandangan Ankara," kata Binali Yildirim dalam jumpa pers pada Selasa (25/4/2017) seperti dilansir FNA.
Ia menambahkan bahwa tuntutan-tuntutan Turki kepada Uni Eropa jelas, di mana pemerintah Ankara meminta uni ini untuk menentukan keputusannya tentang bergabungnya Turki ke Uni Eropa atau pembatalan permintaan itu.
Binali Yildirim lebih lanjut menyinggung keputusan Majelis Parlemen Dewan Eropa (PACE) yang mengembalikan nama Turki ke daftar pengawasan politik dan menyebut keputusan itu sebagai "langkah politis."
PACE memantau proses politik di Turki setelah tahun 2004 disebabkan kekhawatiran atas penumpasan oposisi dan pelanggaran Hak Asasi Manusia oleh pemerintah Recep Tayyip Erdogan.
PACE telah memutuskan untuk membuka kembali proses pemantauan politik terhadap Turki menyusul referendum 16 April mengenai reformasi konstitusi.
Anggota-anggota PACE berkumpul di Strasbourg, Perancis pada Selasa dalam sebuah sesi untuk membahas laporan berjudul "Fungsi institusi demokratis di Turki," di mana 113 mendukung, sementara 45 menentang keputusan pemantauan. Keputusan ini tentunya akan berpengaruh serius terhadap perundingan tentang permintaan Turki untuk bergabung dengan Uni Eropa.
Sebagai tanggapan, Kementerian Luar Negeri Turki mengecam keras keputusan tersebut dan mengatakan bahwa hal itu telah dibuat dengan motif politik.
Masalah bergabungnya Turki ke Uni Eropa dipenuhi dengan ketidakpastian menyusul transformasi terbaru di negara ini seperti kudeta gagal pada 15 Juli 2016, pemberlakukan situasi darurat dan referendum konstitusi. (RA)