Friksi Gedung Putih dan Kemenlu AS
Televisi CNN melaporkan, berlanjutnya friksi antara Gedung Putih dengan kementerian luar negeri AS hingga kini kemungkinan akan mendorong Rex Tillerson mengundurkan diri dari jabatannya.
Friksi yang terjadi antara presiden AS, Donald Trump bersama penasehatnya dengan Tillerson berputar pada sejumlah masalah yang diperselisihkan kedua pihak mengenai pemangkasan anggaran kementerian luar negeri, serta silang pendapat menyikapi isu internasional seperti konflik diplomatik antara Arab saudi dan Qatar, serta masalah kesepakatan nuklir Iran.
Trump memangkas biaya publik layanan publik, termasuk mengurangi anggaran kementerian luar negeri sebesar 30 persen untuk tahun 2018. Tapi pada saat yang sama justru menambah anggaran kementerian pertahanan. Masalah tersebut memicu silang pendapat antara para ahli di kementerian AS dengan Trump bersama penasehatnya. Posisi Trump yang tidak berpengalaman di dunia politik menyebabkan dirinya bersandar pada pandangan penasehatnya.
Persoalannya, orang-orang yang dijadikan sebagai penasehat presiden, sebagian tidak meyakini masalah diplomasi, terutama diplomasi publik. Hal ini tampak jelas dari sikap Trump yang memihak Riyadh dalam konflik yang terjadi antara Arab Saudi dan Qatar. Pada saat yang sama, kementerian luar negeri AS menyerukan rekonsiliasi antara Qatar dan Arab Saudi.
Analis hubungan luar negeri AS, Mark Perry menilai friksi ini memicu reaksi dari Tillerson dan Trump yang memilih kebijakan luar negeri kedua di luar Gedung Putih yang dikendalikan oleh Jared Koshner, selaku penasehat presiden yang tidak lain dari menantu Trump sendiri.
Dalam masalah kesepakatan nuklir dengan Iran, JCPOA, kedua pihak juga memiliki pandangan berbeda. Berbagai fakta menunjukkan bahwa kementerian luar negeri AS berdasarkan analisisnya mengenai kondisi global dan sikap Uni Eropa serta reaksi Iran tetap melanjutkan komitmen Washington terhadap JCPOA. Sedangkan Trump dan penasehatnya berupaya merusak kesepakatan tersebut. Tampaknya, Trump tidak suka dengan sikap kementerian luar negeri AS mengenai JCPOA.
Di tengah hiruk pikuk ini, Tillerson kemungkinan akan mengundurkan diri dari jabatannya hingga akhir tahun ini. Tampaknya, kian hari friksi ini semakin meningkat melebihi sebelumnya.