Jalan Terjal AS Menghancurkan Kesepakatan Nuklir Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump tampaknya telah mengerahkan segala upaya untuk 'membunuh' Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) dan setiap hari melontarkan proposal dan gagasan baru.
Pekan lalu, Utusan Khusus AS untuk PBB Nikki Haley bertolak ke Wina untuk mendesak Dirjen Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Yukiya Amano, agar mengakomodasi tuntutan ilegal Amerika dan mendorong IAEA untuk mengulangi klaim-klaim tak berdasar mengenai kegiatan nuklir damai Iran.
Mantan Duta Besar AS untuk PBB, John Bolton juga menyerahkan sebuah proposal kepada Trump tentang skenario penarikan diri AS dari kesepakatan nuklir Iran. Ia mengatakan Trump sedang memikirkan opsi untuk keluar dari kesepakatan nuklir.
"Kita dengan menyerahkan informasi baru yang sudah dideklasifikasi tentang perilaku Iran yang tidak dapat diterima di seluruh dunia, dapat memperkuat alasan Trump untuk keluar dari kesepakatan nuklir," tegasnya.
Dalam mereaksi manuver tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menegaskan, masyarakat internasional telah mengisyaratkan kepada Washington bahwa mengejar kebijakan tersebut hanya akan membuat Amerika terkucil.
Duta Besar Perancis untuk AS, Gerard Araud dalam sebuah kicauan di akun Twitter-nya, menanggapi proposal baru John Bolton mengenai pembatalan JCPOA dan menulis, "Perancis tidak mendukung pembatalan JCPOA dan tidak akan menerima itu."
Pada Selasa lalu, Presiden Perancis Emmanuel Macron saat berpidato di hadapan 200 duta besar negara-negara dunia di Paris, mengatakan sama sekali tidak ada alternatif lain untuk JCPOA dan Perancis akan tegas dalam pelaksanaan kesepakatan nuklir dengan Iran.
Perilaku Amerika tentu saja tidak mengejutkan dan sudah bisa diprediksi dari sebelumnya. Pasang-surut kebijakan AS terkait JCPOA dapat dirangkum dalam satu tujuan yaitu; memaksa Tehran memberikan konsesi kepada Washington, tapi ini adalah sebuah kesalahan perhitungan.
Situs VOX dalam sebuah laporan menyoroti kritikan para pakar terhadap tindakan Trump untuk menghancurkan JCPOA dan menulis, "Trump menuding Iran melanggar kesepakatan nuklir, padahal dia sendiri berusaha keras untuk melanggar kesepakatan itu dan pada akhirnya membatalkannya."
Presiden Hassan Rouhani dalam wawancara live dengan televisi Iran, Selasa (29/8/2017) malam, menuturkan bahwa AS berada dalam kondisi terberat untuk mencapai konsensus terhadap Iran.
"Pandangan dunia terhadap Iran telah berubah; Amerika mungkin punya gambaran lain, tapi kondisi sanksi sama sekali tidak akan sama seperti sebelumnya," tegasnya.
Rouhani menandaskan bahwa sekarang adalah saat terbaik bagi Iran dan waktu terburuk bagi para pejabat Amerika, ketika Washington memberlakukan sanksi, bank-bank asing bekerjasama dan menandatangani kontrak dengan Tehran.
Pernyataan ini diperkuat oleh realitas yang terjadi di Tehran, di mana di tengah gencarnya propaganda pemerintah AS, Iran telah menandatangani kontrak penting di bidang investasi dengan mitra-mitra asing termasuk, Total, Renault, dan banyak perusahaan lain.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa Amerika menghadapi jalan yang terjal untuk kembali ke kondisi masa lalu. (RM)