Krisis Korea, Titik Perpisahan Uni Eropa dan AS
Federica Mogherini, Ketua Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, pada Ahad (3/9/2017) merilis pernyataan terkait ujicoba nuklir Korea Utara dan menilai langkah ini sebagai pelanggaran Pyongyang terhadap komitmen internasional.
Korea Utara pada Ahad menyatakan telah mengujicoba bom hidrogen di wilayah utara negara ini. Mogherini menambahkan bahwa langkah itu merupakan ancaman besar untuk keamanan regional dan global, serta menjadi tantangan serius bagi rezim global dalam upaya proliferasi nuklir. Sikap Uni Eropa di hadapan ujicoba nuklir Korea Utara yang merupakan percobaan nuklir terkuat di negara itu, muncul karena kekhawatiran akan eskalasi gejolak militer di kawasan sensitif dan strategis Asia Timur, serta terancamnya kepentingan Eropa.
Amerika Serikat sejatinya berperan kunci dalam memprovokasi Korut memamerkan kemampuan militer dan nuklirnya. Manuver terbaru AS dan Korea Selatan dalam skala luas, tidak diragukan telah memicu gejolak di Semenanjung Korea.
Tampaknya krisis Korea ini akan menjadi salah satu fenomena di mana Uni Eropa akan menjaga jaraknya dengan Amerika Serikat. Dengan semakin memanasnya gejolak Semenanjung Korea yang salah satu faktornya adalah poliitk ofensif dan konfrontatif Presiden AS Donald Trump, muncul kekhawatiran di Eropa bahwa Amerika Serikat memang sengaja menciptakan instabiltias dan ketidakamanan di Asia Timur.
Merunut pada transformasi dalam beberapa bulan terakhir, seluruh sikap dan politik Trump terkait krisis Semenanjung Korea, sepenuhnya mengakibatkan eskalasi gejolak di kawasan dan semakin meningkatkan potensi perang. Di saat Uni Eropa memprioritaskan stabilitas dan keamanan di Asia Timur, Amerika Serikat memprioritaskan upaya mempertahankan hegemoninya di kawasan, mengantisipasi politik Cina dan meningkatkan tekanan terhadap Kora Utara.
Bagi Eropa yang sangat menjaga kepentingan ekonomi dan dagangnya, gejolak militer dan keamanan antara Amerika Serikat dan Korea Utara akan memantik instabilitas dan ketidakamanan di kawasan strategis tersebut. Yang pada akhirnya akan merusak keamanan ekonomi regional. Dan ini sangat merugikan Uni Eropa.
Matthias Dembinsky, seorang analis politik berpendapat, mengingat besarnya angka korban jiwa dalam potensi perang Korea, maka kedua pihak harus saling berusaha mencegah memburuknya kondisi dan mencari solusi rasional untuk krisis ini. Politik dan sikap Uni Eropa di kawasan juga dibangun dengan prinsip tersebut. Hal itu tercermin dalam pernyataan Mogherini yang mengumumkan kesiapan Uni Eropa untuk berpartisipasi dalam perundingan perlucutan senjata di Semenanjung Korea. Menurutnya, perlucutan senjata tersebut hanya akan terwujud dengan cara-cara damai dan yang menguntungkan orang-orang Korea dan juga seluruh masyarakat regional dan global.
Namun Uni Eropa akan menghadapi batu sandungan besar mengingat pemerintahan Trump bersikeras akan membalas ujicoba nuklir Korea Utara itu dan siap untuk mengerahkan seluruh kemampuan nuklir negaranya dalam menghadapi Korea Utara dan juga memberlakukan sanksi lebih luas.(MZ)