Prospek Suram Hubungan Rusia dan Amerika
https://parstoday.ir/id/news/world-i48269-prospek_suram_hubungan_rusia_dan_amerika
Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov, dalam pertemuan Dewan Federasi Rusia pada Jumat (15/12/2017) memperingatkan bahwa pihaknya akan melawan setiap tindakan anti-Rusia oleh Amerika Serikat.
(last modified 2026-04-16T09:59:01+00:00 )
Des 16, 2017 11:55 Asia/Jakarta

Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov, dalam pertemuan Dewan Federasi Rusia pada Jumat (15/12/2017) memperingatkan bahwa pihaknya akan melawan setiap tindakan anti-Rusia oleh Amerika Serikat.

Mengacu pada kesiapan Rusia untuk memperbaiki hubungan dengan AS, Lavrov menegaskan tidak ada kemajuan di pihak Washington.

Amerika kini telah memulai tahap baru dalam menerapkan pendekatan anti-Rusia. Menurut seorang pengamat politik Rusia, Paul Svatinkov, hubungan Washington dan Moskow, jika tidak dikatakan telah jatuh ke titik terendah dalam sejarah selama era pasca Perang Dingin, namun tidak diragukan lagi bahwa hubungan mereka benar-benar sangat buruk.

Salah satu contohnya adalah penerapan sanksi baru terhadap Rusia di bawah Undang-Undang CATSA (The Countering America's Adversaries Through Sanctions Act), yang menargetkan sektor ekonomi negara tersebut terutama sektor energi.

Sanksi ini berdampak negatif terhadap partisipasi negara-negara Eropa seperti Jerman di sektor energi Rusia, khususnya pembangunan jalur pipa gas Nord Stream-2.

Meski sanksi Amerika terhadap Rusia diterapkan dengan alasan krisis Ukraina, tapi jelas bahwa ada motif ekonomi di balik aksi tersebut. Dengan kata lain, mengingat kenaikan produksi gas yang signifikan di AS, Washington sengaja mengekang Moskow sehingga bisa merampas pasar gas Rusia di benua Eropa.

Dalam hal ini, Larov menegaskan bahwa Amerika ingin menjual gas cairnya ke negara-negara Eropa dengan dalih untuk melawan Rusia. Menurut Daniel Lazar, seorang analis isu-isu politik, perang baru ekonomi antara Amerika dan Rusia akan mengancam hubungan Moskow dengan Berlin.

Tindakan anti-Rusia lainnya oleh Amerika adalah penutupan dan perampasan properti diplomatik milik Rusia. Namun, aspek yang lebih penting adalah aksi terang-terangan AS untuk mencampuri urusan internal Rusia, terutama berkaitan dengan pemilu presiden tahun 2018.

Menurut Lavrov, para diplomat Kedutaan Besar AS di Moskow berulang kali terlibat dalam demonstrasi oposisi pemerintah Rusia, dimana aksi ini bertentangan dengan Konvensi Wina mengenai urusan diplomatik.

Peningkatan kehadiran militer AS dan penyebaran peralatan tempur di Eropa Timur dengan dalih untuk menghadapi ancaman militer Rusia, telah memperbesar potensi konfrontasi militer antara kedua pihak ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya pasca Perang Dingin.

Meski Rusia berharap untuk membuka lembaran baru dengan AS di bawah kepemimpinan Donald Trump, namun sekarang tren perilaku dan pendekatan Washington telah memupuskan harapan Moskow. (RM)