Misi Delegasi Saudi ke Lebanon
Delegasi Arab Saudi Senin (26/2) saat berkunjung ke Lebanon dilaporkan bertemu dan berunding dengan petinggi negara ini.
Hubungan Lebanon-Arab Saudi mulai renggang sejak November 2017 hingga ini dan hubungan tersebut terus menurun. Hal ini dikarenakan sikap Pangeran Mahkota Arab Saudi, Mohammad bin Salman terhadap Perdana Menteri Lebanon Saad Hariri.
Bin Salman pada November tahun lalu memanggil Hariri ke Riyadh dan memaksanya membacakan surat pengunduran diri yang telah dipersiapkan oleh Saudi. Sementara itu, Hariri setelah pejabat Lebanon dan Arab menekan Saudi akhirnya kembali ke Beirut dan membatalkan pengunduran dirinya. Ia pun secara tidak langsung menyatakan ketidakpuasannya atas perlakuan Saudi terhadap dirinya di Riyadh.
Kini sepertinya kunjungan delegasi Arab Saudi memiliki dua tujuan penting, memulihkan hubungan dengan Beirut dan mempengaruhi pemilu parlemen di negara ini.
Mengingat delegasi ini dipimpin oleh Nizar al-Aloula, penasihat kantor kerajaan Arab Saudi dan pejabat kasus Lebanon, maka hal ini semakin menunjukkan upaya Saudi untuk memulihkan hubungannya dengan Beirut. Penunjukkan al-Aloula sebagai pemimpin delegasi ini dapat dicermati sebagai sebuah gebrakan baru, karena sebelumnya delegasi Saudi yang berkunjung ke Beirut dipimpin oleh Thamer al-Sabhan yang dikenal memiliki pengaruh kuat di Lebanon dan citra negatif di Beirut.
Meski tak jelas apakah di delegasi ini ada tokoh militer atau veteran militer serta keamanan, namun keberadaan Walid Bukhari, mantan kuasa usaha kedubes Arab Saudi di Beirut juga menunjukkan bahwa kunjungan ini merupakan fase baru di hubungan kedua negara.
Dalam hal ini, televisi nasional Lebanon menyebut kunjungan tersebut sebagai fase baru di hubungan Beirut-Riyadh. OTV juga menilai kunjungan ini sebagai indikasi upaya kedua negara untuk melewati hubungan dingin selama beberapa bulan terakhir dan memasuki fase baru.
Salah satu tujuan kunjungan delegasi Saudi ke Lebanon adalah mempengaruhi pemilu mendatang di negara ini. Rencananya pemilu parlemen mendatang akan digelar 6 Mei 2018. Arab Saudi termasuk salah satu pemain berpengaruh di berbagai pemilu Lebanon, karena mayoritas kubu politik Ahlu Sunnah Lebanon memiliki kedekatan dengan Riyadh dan Arab Saudi pun memberi dukungan finansial kepada mereka.
Sementara itu, hanya tinggal 70 hari dari pemilu parlemen Lebanon akan digelar, berbagai berita menunjukkan friksi di tubuh Gerakan 14 Maret yang memiliki kedekatan dengan Arab Saudi di transformasi dalam negeri dan regional. Sepertinya kunjungan delegasi Saudi pimpinan Nizar al-Aloula memiliki tujuan utama untuk meredam friksi di tubuh Gerakan 14 Maret dan merekonstruksi hubungan di gerakan ini.
Koran al-Akhbar terkait kunjungan delegasi Arab Saudi ke Beirut menyatakan bahwa kunjungan ini dimaksudkan untuk mencari informasi terkait transformasi pemilu demi memberi dukungan terhadap sekutu Saudi di pemilu.
Poin penting di kunjungan delegasi Arab Saudi adalah sikap Al Saudi bersedia menerima kesalahannya terhadap Saad Hariri pada November 2017 lalu. (MF)