Kesepakatan Nuklir AS dan Saudi, Berbahaya ?
https://parstoday.ir/id/news/world-i52503-kesepakatan_nuklir_as_dan_saudi_berbahaya
Kemungkinan dicapainya kesepakatan nuklir antara Amerika Serikat dan Arab Saudi telah membangkitkan kekhawatiran terkait pelanggaran perjanjian non-proliferasi nuklir dunia terutama di kawasan sensitif Asia Barat.
(last modified 2026-08-01T18:06:35+00:00 )
Feb 28, 2018 15:08 Asia/Jakarta

Kemungkinan dicapainya kesepakatan nuklir antara Amerika Serikat dan Arab Saudi telah membangkitkan kekhawatiran terkait pelanggaran perjanjian non-proliferasi nuklir dunia terutama di kawasan sensitif Asia Barat.

Ed Markey, senator Partai Demokrat, dari Massachusetts, Amerika mendesak Washington untuk menghindari penandatanganan kerja sama nuklir dengan Saudi sehingga Presiden Donald Trump mau menandatangani perjanjian non-proliferasi nuklir dengan Riyadh.

Markey dalam suratnya untuk Rex Tillerson, Menteri Luar Negeri Amerika mengatakan, setiap kesepakatan, secara tegas harus mencakup komitmen untuk menghindari perluasan nuklir atau Perjanjian 123 di antara kedua negara.

Di dalam surat itu, Markey juga menyebutkan bahwa upaya Amerika sebelumnya untuk mencapai Perjanjian 123 dengan Saudi selalu gagal, karena Riyadh menolak menghindari pengayaan uranium atau menghindari daur ulang bahan bakar nuklir di negara itu, padahal inilah yang diamanatkan Perjanjian 123.

Pada klausul 123 Undang-undang energi atom Amerika dijelaskan, segala bentuk kerja sama nuklir Amerika dengan negara lain harus berlandaskan prinsip non-proliferasi senjata atom di dunia. Sementara media-media internasional mengabarkan, Saudi hingga kini masih menolak memasukkan pasal tersebut ke dalam kesepakatan nuklirnya dengan Washington.

Ed Markey

Saudi juga bersikeras untuk memproduksi bahan bakar atom dan pemulihan uranium bekas pakai di instalasi nuklirnya yang berada di dalam wilayah negara itu. Riyadh sekarang tengah berupaya agar sampai 25 tahun ke depan, minimal bisa membangun 16 reaktor nuklir. Pada saat yang sama, Saudi juga melakukan negosiasi dengan pemerintah dan beberapa perusahaan Amerika untuk membangun reaktor-reaktor yang akan menghabiskan milyaran dolar.

Pemerintah Trump yang tampak sangat tergiur dengan kekayaan besar hasil penjualan minyak Saudi, ingin menandatangani kesepakatan nuklir dengan Riyadh. Kontrak kesepakatan yang diprediksi akan meningkatkan ketergantungan Saudi kepada Amerika itu, membuat perusahaan-perusahaan Amerika justru bisa membuka ribuan lapangan kerja baru.

Namun, reaksi pemerintah Trump terhadap tuntutan Riyadh untuk menciptakan siklus bahan bakar nuklir di dalam wilayah Amerika dan penolakan negara itu atas 123 Agreement, Amerika, dapat dianggap sebagai ujian bagi standar ganda Washington terkait aktivitas nuklir dan klaim non-proliferasi senjata atom di dunia.

Meski Iran, sejak 10 tahun lalu terkena sanksi Amerika dan sekutu-sekutunya, termasuk sekutu regional seperti Saudi, karena memanfaatkan siklus bahan bakar nuklir, namun Washington dan Riyadh sedang berupaya menandatangani kesepakatan serupa Iran, tapi tanpa ada jaminan non-proliferasi nuklir.

Jika perjanjian nuklir antara Saudi dan Amerika yang diduga kuat sebagai dalih Riyadh untuk menguasai senjata nuklir tidak dicegah, maka dikhawatirkan akan terjadi persaingan senjata di kawasan dan perluasan senjata nuklir di dunia. Kecenderungan Saudi terhadap senjata atom dan ambisi Amerika mengeruk uang minyak Saudi, akan mengancam dunia sebagaimana dikhawatirkan Ed Markey, senator Demokrat itu. (HS/PH)