Kunjungan Putra Mahkota Arab Saudi ke Inggris
https://parstoday.ir/id/news/world-i52917-kunjungan_putra_mahkota_arab_saudi_ke_inggris
Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman tiba di London hari ini (Rabu, 7 Maret 2018) setelah sempat tertunda lama. Sebelumnya, ia dijadwalkan mengunjungi Inggris pada akhir Januari dan awal Februari lalu.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Mar 07, 2018 13:21 Asia/Jakarta
  • Aksi protes menentang kunjungan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman ke London.
    Aksi protes menentang kunjungan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman ke London.

Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman tiba di London hari ini (Rabu, 7 Maret 2018) setelah sempat tertunda lama. Sebelumnya, ia dijadwalkan mengunjungi Inggris pada akhir Januari dan awal Februari lalu.

Aksi protes dan desakan agar Perdana Menteri Inggris, Theresa May membatalkan pertemuannya dengan Bin Salman, telah membuat perjalanan putra mahkota Saudi terganggu.

Saat ini, aksi protes juga masih digelar untuk menyuarakan penentangan terhadap kehadiran putra mahkota Saudi di Inggris. Menteri Luar Negeri Saudi, Adel al-Jubeir bahkan menuntut agar penentangan terhadap kunjungan Bin Salman diakhiri.

Alasan pertama penentangan keras terhadap perjalanan Bin Salman ke London, terkait dengan kejahatan rezim Al Saud di Yaman. Dalam waktu kurang dari 20 hari lagi, serangan Saudi dan sekutunya ke Yaman – negara termiskin di Timur Tengah – akan memasuki tahun keempatnya.

Agresi ini telah membunuh dan melukai ribuan rakyat Yaman serta membuat jutaan lainnya kehilangan tempat tinggal. Derita rakyat Yaman telah mengundang reaksi dari masyarakat, para tokoh, media, dan lembaga-lembaga sipil di seluruh dunia.

Apa yang dilakukan Saudi di Yaman adalah contoh nyata dari kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan terhadap perdamaian, seperti yang tertuang dalam Statuta Pengadilan Pidana Internasional.

Oleh karena itu, banyak orang, aktivis, dan lembaga-lembaga sipil Inggris menuntut pembatalan kunjungan Bin Salman ke London dengan menggelar demonstrasi dan meluncurkan sebuah kampanye dalam beberapa bulan terakhir. Mereka bahkan menganggap pelaksanaan kunjungan itu sebagai bentuk dari keterlibatan PM Inggris dalam kejahatan Riyadh.

Surat kabar The Independent menulis, "Arab Saudi juga mengekspor penderitaan ke negara-negara lain. Intervensi militer Saudi di Yaman telah mengakibatkan ribuan kematian dan kelaparan. Menurut laporan Amnesty International, jet-jet tempur Saudi sengaja menargetkan warga sipil dan fasilitas publik, seperti rumah sakit, sekolah, pasar dan masjid di Yaman. Mohammed bin Salman memantau dan mengarahkan serangan ini sejak hari pertama (agresi militer Saudi ke Yaman)."

Theresa May, yang terpaksa menunda agenda Bin Salman karena aksi protes dan kritik publik, akhirnya membuka jalan bagi kunjungan tersebut. Dia tidak ingin tertinggal dari Presiden AS Donald Trump dalam meraup keuntungan dari penjualan senjata ke Saudi. Trump menandatangani kontrak 400 miliar dolar dengan Al Saud selama kunjungannya ke Riyadh pada Mei 2017. Sebanyak 110 miliar dolar dari kontrak itu terkait dengan industri senjata.

Agenda Bin Salman di London, tampaknya juga mencakup penandatanganan kesepakatan besar pembelian senjata dengan Inggris. Dengan begitu, Inggris juga bisa menikmati keuntungan dari "sapi perah" milik AS itu.

Caroline Lucas, seorang perwakilan Partai Hijau di parlemen Inggris, dalam sebuah artikel yang diterbitkan The Independent, menulis bahwa kontrak senilai lebih dari 100 miliar dolar (72 miliar pound) tampaknya akan ditandatangani selama kunjungan Bin Salman ke London.

Inggris saat ini menjual perangkat keras militer miliaran pound ke Arab Saudi, namun pemerintahan Theresa May ingin menawarkan Riyadh sebuah kontrak baru senjata. Tidak diragukan lagi, kontrak senjata yang akan ditandatangani di Inggris ini akan menyebabkan lebih banyak perang dan penumpasan.

Bagi Inggris, tidak penting siapa yang berkuasa di Kerajaan Saudi, apakah sosok itu Bin Salman atau pangeran lain. Inggris hanya mengejar dolar minyak Arab Saudi, dan demi mencapai tujuan ini – sama seperti Amerika – mereka tidak peduli dengan nilai-nilai hak asasi manusia dan demokrasi.

Mohammed bin Salman juga membeli "dukungan" Inggris dan Barat dengan uang minyak sehingga Arab Saudi leluasa melakukan kejahatan di dalam dan luar negeri, khususnya di Yaman. (RM/PH)