Di Balik Penolakan Turki Usir Diplomat Rusia
-
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyikapi kasus kematian mantan mata-mata Rusia di Inggris dengan menolak pengusiran diplomat Rusia dari negaranya.
Erdogan dalam wawancara dengan surat kabar Hurriyet Turki, Rabu (28/3/2018) mengatakan, Ankara tidak akan mengusir diplomat Rusia seperti yang dilakukan negara-negara Uni Eropa dan NATO. Presiden Turki menegaskan bahwa negaranya tidak bisa mengambil langkah-langkah terhadap Moskow berdasarkan tuduhan yang belum terbukti kebenarannya.
Penentangan Ankara ini bisa dilihat dari dua sisi. Pertama, Sikap Turki ini bisa dimaknai sebagai penentangan terhadap solidaritas global untuk menekan dan mengucilkan Rusia di arena internasional. Penentangan tersebut terjadi di saat Turki membutuhkan dukungan negara-negara Barat, terutama masalah keanggotaan Turki di Uni Eropa yang saat ini masih terkatung-katung.
Turki saat ini sebagai anggota NATO dengan jumlah pasukan terbesar kedua setelah AS yang menunjukkan posisi penting Ankara di organisasi keamanan regional itu. Tapi, NATO sendiri selama ini kinerjanya lebih banyak melayani kepentingan AS dengan berbagai peran pentingnya di dunia seperti kawasan Balkan, Afghanistan dan negara lain.
Tampaknya, Turki ingin menunjukkan sikap lebih independen dalam masalah ini dengan tidak ikut-ikutan untuk mengusir diplomatik Rusia dari negaranya sebagai reaksi atas kematian secara mencurigakan Sergei Skripal dan putrinya akibat racun di Inggris.
Hingga kini persoalan tersebut masih belum jelas, bahkan muncul kecurigaan adanya konspirasi Inggris di balik itu. Salah seorang ahli sistem senjata kimia A234 mengungkapkan sikapnya yang meragukan tudingan negara-negara Barat terhadap Rusia atas kematian Sergei Skripal dan putrinya di Inggris. Leonid Rahnek mengatakan, keracunan Sergei Skripal bisa juga dilakukan oleh pemerintah Inggris. Sebab teknologi untuk memproduksi bahan beracun untuk syaraf A234 tidak dimiliki oleh Rusia. Realitasnya, mantan mata-mata Rusia telah hidup lama di London, dan tidak ada indikasi meyakinkan mengenai keterlibatan Rusia dalam insiden keracunan intelejennya tersebut.
Selain itu, tekanan politik negara-negara Barat terhadap Moskow meningkat setelah kasus kematian Skripal. London menuding Moskow berada di balik serangan gas syaraf di Salisbury pada 4 Maret lalu. Hingga kini sebanyak 150 diplomat Rusia telah diusir dari 26 negara dunia.
Sebanyak 14 negara anggota Uni Eropa bersama Kanada dan Ukraina, juga telah mengusir sejumlah diplomat Rusia sebagai bentuk solidaritas dengan Inggris. Rusia sendiri membantah terlibat negaranya dalam kematian Skripal dan mengumumkan kesiapan untuk bekerjasama mengungkap fakta. Namun, London menolak menyerahkan bukti-bukti dan tidak mau bekerjasama dengan Moskow.
Tampaknya, sikap Turki menolak mengiringi kebijakan negara-negara Barat terhadap Rusia sebagai bentuk independensi Ankara dalam masalah internasional. Di sisi lain, Turki sedang mencari poin untuk menaikan daya tawar negosiasinya dengan Rusia. Sikap tersebut ke depan akan berdampak negatif terhadap Turki yang selama ini menjadi mitra penting negara-negara Barat.(PH)